by

Selama di Gunung, Tian Tak Boleh Ngomong Sembarangan

-berita-231 views
Riftian (kanan)

Surabaya – Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah ini rasanya pas menggambarkan kecintaan Riftian (9) kepada gunung. Bocah kelas 2 MI Nur Musollah dan sang adik, Hamizan (6), hobi mendaki gunung karena kecintaan kedua orang tuanya pada gunung. Meski belum genap berusia 10 tahun, Tian -demikian ia karib disapa- telah menaklukan beberapa gunung.

“Pernah naik ke Penanggungan, Welirang, Arjuno, dan Panderman. Paling sering ke Penanggungan,” ujar Tian.

Sejak umur 5 tahun Tian telah mendaki gunung dan Penanggungan menjadi gunung yang pertama kali dijejak Tian.
Bagi Tian, mendaki gunung menjadi hal yang menyenangkan. Bahkan Tian cukup antusias kala sang ibu, Nurul Hidayah (36), selalu mengajaknya naik gunung. Ini dibuktikan Tian dengan menyiapkan sendiri segala perlengkapannya.

“Senang kalau mama ngajak naik gunung, udaranya adem, bisa lihat pemandangan yang bagus-bagus,” tukasnya seraya tersenyum.

Tian menuturkan setiap kali akan naik gunung, sang ibu selalu menasehatinya untuk tidak nakal saat berada di gunung.

“Mama selalu bilang kalau di gunung tidak boleh nakal, tidak boleh ngomong jorok, dan harus selalu ada di dekat mama atau papa,” imbuhnya.

Hal tersebut pun diamini Nurul. Setiap kali akan naik gunung, Nurul memang selalu membrifieng kedua buah hatinya untuk tidak nakal selama berada di gunung. Ini sebagai antisipasi terhadap hal-hal yang tidak diinginkan.

“Sudah bukan rahasia lagi kalau di gunung ada mitosnya, dan itu selalu kita perhatikan. Sebisa mungkin kita harus mematuhi setiap aturan yang berlaku di gunung untuk keselamatan kita,” ujar wanita yang hobi mendaki gunung sejak duduk di bangku SMA ini.

Dikatakan Nurul, mengajak anak di bawah umur mendaki gunung memang bukan perkara gampang. Segala hal harus diperhatikan mulai dari perlengkapan hingga pengawasan ekstra terhadap kedua buah hatinya selama di gunung. Bahkan selama perjalanan menuju puncak gunung, Nurul dan sang suami selalu mengajak ngobrol kedua buah hatinya. Ini agar si kecil tak sampai berpikiran macam-macam.

“Supaya anak-anak tetap fokus pikirannya dan tidak ngelantur,” tegasnya.

Meski sudah dibriefing sebelum berangkat, lanjut Nurul, Tian dan sang adik kadang masih berbuat sesukanya saat berada di gunung. Misalnya lari-lari sendiri hingga berantem satu sama lain. Jika sudah begitu Nurul dan sang suami pun langsung mengingatkan mereka.

Terkait perlengkapan, mengingat membawa dua anak di bawah umur mendaki gunung, Nurul mengakui cukup banyak perlengkapan yang dibawa mulai dari sleeping bag, kotak obat, hingga jas hujan. Benda yang terakhir ini wajib dibawa Nurul.

“Jas hujan wajib dibawa meski tidak musim hujan sekalipun karena bisa melawan hawa dinginnya gunung. Kalau pakai jaket, hawa dinginnya masih terasa,” ungkapnya.

Demi kenyamanan kedua buah hatinya mendaki gunung, Nurul dan sang suami memilih tak ikut rombongan jika mendaki gunung. Ini dilakukan jika sewaktu-waktu kedua buah hatinya kelelahan dan tak bisa sampai ke puncak, maka ia dan sang suami memutuskan hanya berkemah saja.

“Kalau anak-anak tidak bisa ke puncak, ya sudah kita kemah saja. Kalau ikut rombongan kan enggak bisa, kita harus ikut apa kata rombongan,” ujarnya.

Karena sejak kecil telah mengajak Tian mendaki gunung, kata Nurul, kini setiap libur sekolah Tian selalu merengek minta naik gunung.

“Dia enggak minta rekreasi ke wahana liburan, tapi mintanya selalu naik gunung kalau libur sekolah,” imbuh Nurul.

Meski telah berulang kali mendaki gunung, ada satu keinginan Nurul yang hingga kini belum bisa diwujudkan, yakni mendaki gunung Semeru bersama kedua buah hatinya.

“Belum bisa bawa anak-anak ke Semeru karena ada aturan minimal usia anak 10 tahun baru bisa naik Semeru. Semoga nanti bisa ke Semeru sama-sama,” simpulnya. (rur)

Comment

News Feed