by

Jembatan Merah, Saksi Bisu Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya

-berita-131 views

Surabaya – Setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Di tanggal tersebut 74 tahun silam terjadi pertempuran sengit antara Arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu. Jembatan Merah Surabaya menjadi titik pertempuran sengit tersebut.

Sepintas, jika kita tidak mengetahui sejarah dibaliknya, tidak ada hal yang istimewa dari Jembatan Merah Surabaya.
Jembatan yang terbentang di atas sungai Kalimas serta menghubungkan Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun di kawasan utara Surabaya itu, hampir sama dengan jembatan lainnya. Pembedanya hanyalah warna merah yang menjadi ciri khas pada bagian pagar pembatas jembatan.

Menurut Yoesoef Romadhon (76), Dewan Pimpinan Karang Pilang Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Surabaya, merahnya sebutan bagi jembatan itu karena sejarahnya yang kelam.

“Di jembatan itu dulunya pernah terjadi peristiwa pertumpahan darah antara pejuang Indonesia melawan penjajah. Saking banyaknya darah para pejuang dan lawannya yang tumpah di jembatan itu, maka jembatan itu pun dinamakan Jembatan Merah,” jelas Romadhon.

Lebih lanjut Romadhon mengungkapkan, di jembatan ini pula pemimpin angkatan bersenjata Inggris, Brigadir A.W.S. Mallaby tewas di tangan rakyat Surabaya.

“Brigradir Mallaby tewas setelah menguasai gedung Internationale Crediet En Verening Rotterdam atau Internatio yang letaknya tidak jauh dari Jembatan Merah,” imbuhnya.

Jembatan itu, kata Romadhon, sejatinya telah ada sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Awalnya jembatan itu adalah jembatan kayu dan dibuat karena kesepakatan Pakubowono II dari Mataram dengan VOC tahun 11 November 1743.

Dalam perjanjian disebutkan bahwa beberapa daerah pantai utara diserahkan ke VOC, termasuk Surabaya yang berada di bawah kolonialisme Belanda.

Sejak saat itu daerah di sekitar jembatan tersebut menjadi kawasan komersial dan menjadi jalan vital yang menghubungkan Kalimas dan Gedung Residen Surabaya.

“Jembatan Merah ini berubah secara fisik sekitar tahun 1890-an, dimana pagar pembatas diubah dari kayu menjadi besi. Dan sampai sekarang kondisinya masih sama,” tukasnya.

Di sebelah barat Jembatan Merah dulunya dihuni kebanyakan bangsa Eropa, dan sekarang menjadi Jalan Jembatan Merah (dulu disebut Willenstraat) dan Jalan Rajawali (dulu Heerenstraat). Kantor bank-bank kebanyakan berada di wilayah ini dan keaslian gedung-gedungnya relatif masih terjaga.

Sementara kawasan timur jembatan sampai sekarang tak berubah fungsi yakni menjadi sentral perdagangan bagi warga Asia, seperti Tionghoa, Arab, dan Melayu. Sekarang di kawasan tersebut menjadi jalan Kembang Jepun menyambung ke jalan Sasak. (rur)

Comment

News Feed