by

Keunikan Hamerti Kitri di Wonosobo


Wonosobo,yukpigi.com “Jenthik manis, semanggi gunung, ela elo elo yaelola…” Tembang tradisional berjudul Jenthik Manis itu menggema di puncak acara Hamerti Kitri pada hari Minggu (15/9).
Semua hadirin di gelaran yang berlangsung di Dusun Pucung Pandak, Desa Sidorejo, Wonosobo itu secara fasih menyanyikan tembang tersebut
Konon tembang itu dinyanyikan pula oleh Eyang Buyut Pandak saat proses “mbubak alas” hingga menjadi pemukiman, pada ratusan tahun silam.
Menurut Th. Setia Budi Hertoyo, salah satu pegiat budaya di dusun tersebut, lantunan kidung tersebut punya makna yang dalam.
Sampai hari ini, Jenthik Manis menjadi lagu wajib bagi warga Dusun Pucung Pandak untuk memulai atau membuka acara resmi, baik yang terkait dengan olah spiritual ataupun budaya.
“Saat mbubak alas, Eyang Buyut Pandak melantunkan tembang Jenthik Manis, seraya meninggalkan jejak kebaikan. Masyarakat Pucung Pandak memaknai Jenthik Manis sebagai ungkapan cinta, keprihatinan, dan doa dari Eyang Buyut Pandak”, ungkap Yoyok.
Yoyok menambahkan, bahwa Dusun Pucung Pandak adalah wujud kecintaan Eyang Buyut Pandak, yang digambarkan dengan cincin yang melingkar di jari manis/ jenthik manis.

Doa Eyang Buyut Pandak digambarkan dengan “semanggi gunung”. Daun yang berbentuk lambang hati dan cinta itu, mengandung falsafah yaitu permohonan agar anak, cucu, buyut Pucung Pandak, agar memperoleh ketentraman dan kemuliaan.
Sedangkan, kerendahan hati Eyang Buyut Pandak dan ketaatan kepada Hyang Widi, digambarkan dengan saling memberi pencerahan semua warga dalam naungan kuasa Sang Ilahi “elo..elo… ya elola”.
Hamerti Kitri dimulai dengan doa di makam yang diwakili sesepuh dusun. Kemudian, dilakukan kirab mengitari dusun dengan peserta semua warga.
Ratusan tenong yang berisi jajanan pasar seperti lapis, jipang, opak, dan lainnya juga ada buah buahan, gunungan hasil bumi, gunungan buah dan kesenian setempat. Gunungan ini menjadi rebutan warga untukmemperoleh atau ngalap berkah.
Tidak lupa, tampil kesenian khas lokal setempat yaitu Tari Emblek Dhem, tarian jaranan zaman dahulu yang masih dilestarikan oleh warga. Tari Lengger pun turut dipentaskan.
Turut hadir pula rombongan FK Pokdarwis dan salah satu pengunjung wisman dari Denmark, Fraya. Fraya mengaku sangat senang bisa hadir dan ikut menikmati puncak acara Hamerti Kitri. Dia kagum dengan keragaman budaya yang ada di Wonosobo.
“Liburan kali ini, saya datang lagi ke Indonesia. 4 bulan ini saya khusus datang ke Indonesia, keliling Indonesia. Dan di Wonosobo, saya sengaja ambil waktu 2,5 bulan agar bisa jalan-jalan dan menikmati banyaknya budaya. Apalagi disini, saya disambut dengan hangat, dan banyak makanan yang enak-enak. I love Indonesian foods”, ungkapnya.
Ketua panitia, Edi Tri Santoso mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada semua pihak yang ikut membantu mensukseskan acara Hamerti Kitri.
“Semoga Pucung Sari Budoyo semakin mampu untuk nguri-uri tradisi dalam balutan budaya. Terimakasih juga atas sharing yang membangun kepada kami dari proses awal sampai akhir.”, ucapnya.
Edi menambahkan, banyak warga yang merantau di luar kota yang akhirnya pulang untuk bisa ikut serta dalam acara ini, salah satunya adalah sebagai momen pelepas kerinduan terhadap acara nyadran dusun yang tiap setahun sekali diadakan.
“Melebihi lebaran rasanya, semuanya melepas rindu akan kebersamaan, keguyuban dan wujud syukur melimpahnya rezeki dari Tuhan”, pungkasnya. (gnp/wan)

Comment

News Feed