by

Kampung Plampitan Surabaya, Sentra Kerajinan Tikar di Zaman Kolonial Belanda

-berita-534 views

Surabaya – Ada banyak nama unik untuk kampung-kampung tua di Surabaya. Penamaan kampung-kampung tersebut berdasarkan sejarah yang terjadi disana. Kali ini Basra mengunjungi salah satu kampung tua di Surabaya, Kampung Plampitan, yang terletak di Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng.

Menurut salah seorang warga, Kemas (74), penamaan Plampitan tak terlepas dari aktivitas mayoritas warga disana saat jaman kolonial Belanda.

“Dari cerita turun temurun, kampung ini dulunya merupakan pusat pembuatan tikar. Plampitan berasal dari kata Lampit yang artinya tikar,” kata pria kelahiran tahun 1945 ini.

Sayangnya tak ada jejak artefak yang tersisa dari sentra kerajinan tikar di kampung tersebut saat jaman kolonial Belanda. Sejarah penamaan kampung hanya diperoleh dari cerita warga setempat secara turun temurun.

Meski demikian, keberadaan Kampung Plampitan sebagai kampung tua di Surabaya tak terbantahkan dengan masih adanya bangunan rumah kuno bergaya kolonial Belanda. Salah satunya adalah rumah lahir Roeslan Abdulgani, tokoh pejuang kemerdekaan 1945. Rumah lahir Roeslan Abdulgani terletak di Plampitan gang VIII.

Masih satu kawasan dengan rumah lahir Roeslan Abdulgani, terdapat sebuah makam kuno. Makam yang terletak di dalam bangunan berlantai keramik dengan pagar stainless itu merupakan makam Kyai Pasopati dan istrinya. Kyai Pasopati merupakan salah satu murid Sunan Ampel. Ini merujuk pada sebuah plakat tulisan di dinding dekat pintu makam.

Sayangnya pada plakat tulisan di dinding makam tersebut tak ada keterangan tentang jati diri Kyai Pasopati. Kebanyakan warga juga tak mengetahui secara pasti tentang sosok Kyai Pasopati.

“Saya kurang tau sejarah dari Kyai Pasopati. Yang saya tau, beliau merupakan tokoh sesepuh di kampung ini dan murid Sunan Ampel. Kata orang tua saya, makam Kyai Pasopati sudah lama ada, sudah sejak ratusan tahun,” jelas Pak Kemas.

Hal senada juga diungkapkan Rahma Rondang Aristin, keponakan Roeslan Abdulgani. Rahma yang menempati rumah lahir Roeslan Abdulgani itu menuturkan jika Kyai Pasopati merupakan salah satu murid Sunan Ampel.

“Cerita dari Pakde (Roeslan Abdulgani,red) Kyai Pasopati adalah murid Sunan Ampel yang membantu berdirinya Masjid Peneleh. Itu saja cerita yang saya dapat,” kata Rahma.

Selain rumah lahir Roeslan Abdulgani, bangunan kuno lainnya yang dapat dijumpai di kawasan tersebut adalah Balai RW. Bangunan bercat hijau itu terletak di pintu masuk gang Plampitan Pasopati, tak jauh dari makam Kyai Pasopati.

Dikisahkan Pak Kemas, bangunan Balai RW itu tak berubah fungsi sejak awal. Hanya saja dulunya bangunan tersebut dikenal dengan nama Balai RK.

“Dulu jaman Belanda namanya Balai Rukun Kampung (RK,red). Fungsinya juga sama seperti sekarang, sebagai tempat pertemuan warga,” ujar Pak Kemas.

Jejak Kampung Plampitan sebagai kampung kuno di Surabaya diperkuat dengan posisinya yang berada di bantaran lir Brantas.

“Salah satu ciri kampung kuno di Surabaya yang sudah ada sejak sebelum jaman kolonial Belanda adalah keberadaannya di sepanjang lir Brantas,” kata Sejarahwan Kuncarsono Prasetyo. (rur)

Comment

News Feed