by

Demi Mendaki Gunung Arjuno, Almarhum Faiq Rela Nabung Selama 3 Bulan

-berita-156 views
Faiq semasa hidup

Surabaya – Jenazah Faiqus Syamsi, pelajar SMKN 5 Surabaya yang ditemukan tewas di jalur pendakian Gunung Arjuno, telah dimakamkan di TPU Kendangsari sekitar pukul 02.00 WIB, Sabtu dini hari (6/4). Pelayat pun masih terus berdatangan ke rumah bungsu dari dua bersaudara tersebut di kawasan Kendangsari.

“Teman-teman dan guru-gurunya datang kesini semua begitu mendengar Faiq ditemukan meninggal dunia. Sampai sekarang masih banyak yang datang melayat, ini menjadi bukti bahwa Faiq disayangi banyak orang,” ujar Najib, ayahanda Faiq, Minggu (7/4/19).

Meski berusaha tegar namun gurat kesedihan terlihat jelas di wajah pria 67 tahun itu. Najib tak pernah menyangka jika putranya akan pergi dengan cara yang mengenaskan, ditemukan hanya tinggal tulang belulang di jalur pendakian Gunung Arjuno. Bahkan tak sedikit pihak yang mempertanyakan alasan Najib menyetujui keinginan Faiq untuk mendaki Gunung Arjuno mengingat Faiq belum pernah melakukannya.

“Faiq memang belum pernah naik Gunung Arjuno, paling dia naik Gunung Penanggungan. Dia juga bukan anak gunung dan tidak tergabung dengan komunitas pecinta alam,” tukas Najib lirih.

Namun Najib memiliki alasan mengapa ia mengijinkan sang putra mendaki Gunung Arjuno. Pulang sekolah yang selalu malam hari karena harus mengerjakan berbagai tugas hingga persiapan belajar yang dilakukan Faiq sebelum ujian, membuat Najib luluh saat Faiq mengutarakan keinginannya untuk mendaki Gunung Arjuno.

“Tiga bulan sebelum berangkat, Faiq ijin ke saya, ibu, dan kakaknya untuk naik Arjuno. Ingin refreshing setelah ujian, katanya. Apalagi dia juga rutin menabung supaya bisa naik Arjuno. Saya ya tidak tega untuk melarang dia berangkat,” jelas Najib dengan mata memerah menahan tangis.

Dengan diantar sang kakak ke Terminal Bungurasih, Faiq pun berangkat ke Gunung Arjuno. Faiq mendaki Gunung Arjuno bersama 5 rekan lainnya yang terbagi dalam 2 kelompok. Namun, seperti dikisahkan Najib, dua orang dalam tim Faiq memutuskan tak naik sampai ke puncak karena kelelahan.

“Tapi Faiq tetap ke puncak bersama tim pertama. Di puncak dia sempat mengirimkan video kepada kakaknya. Setelah itu Faiq dan teman-temannya turun untuk menjemput teman lainnya yang tidak bisa naik ke puncak,” kisah Najib.

Disinilah petaka bermula, di tengah perjalanan menjemput rekannya, Faiq memilih berpencar dari tim pertama agar lebih memudahkan menemukan rekan lainnya yang tak sampai ke puncak. Sejak berpisah dari tim pertama itulah, Faiq tak pernah kembali lagi. Bahkan 3,5 bulan kemudian jasadnya ditemukan pendaki lain dalam kondisi mengenaskan.

“Saya sudah wanti-wanti Faiq untuk selalu bersama teman-temannya selama berada di Gunung Arjuno. Mungkin ini sudah jalannya Faiq,” ujar pria yang berprofesi sebagai tukang bangunan ini.

Dikisahkan Najib, selama 3,5 bulan hilangnya Faiq, ibunya Dumi Supartiwi, sempat dua kali bermimpi putra bungsunya pulang namun tanpa mengenakan kaos.

“Ibunya mimpi setelah 40 hari hilangnya Faiq. Kata ibunya, mimpi dua kali lihat Faiq pulang tapi kaos disampirkan ke pundak tidak dipakai,” imbuhnya.

Meski demikian baik Najib maupun Dumi tak pernah putus harapan bahwa Faiq pasti pulang. Faiq pun akhirnya memang pulang dengan kondisi tak bernyawa dan dari koasnya itu pula keluarga bisa mengenali jasad pemuda 17 tahun itu.

“Kaos putih yang dia pakai ada tulisan ‘Merdeka’ yang dia buat sendiri dari cat philok. Kakaknya juga mengenali jasad Faiq dari tas pinggang dan celana pendek yang dia pakai,” ujar Najib dengan suara parau.

Kini meski berat, Najib dan keluarga berusaha mengikhlaskan kepergian Faiq untuk selama-lamanya. (rur)

Comment

News Feed