by

Punten Berisik, Warung Pecel Fenomenal di Kota Kediri

Kediri – Di Kediri, Jawa Timur, ada warung pecel yang terbilang istimewa. Warung pecel bernama Punten Berisik ini memiliki banyak julukan. Ada yang menyebutnya warung pecel punten, warung berisik, pecel termahal di dunia, hingga warung ‘mbenjing mriki malih (besok ke sini lagi)’. Seluruh julukan itu diberikan para penggemarnya.

Selain menyediakan pecel, Warung Punten Berisik yang terletak di Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, juga menyediakan aneka makanan tradisional. Julukan warung pecel punten disematkan karena menu utama warung ini adalah pecel punten.

Punten adalah makanan yang diolah dari beras dan santan kental. Cara pembuatannya seperti membuat nasi kuning (tanpa kunyit). Setelah masak, adonan punten ditumbuk hingga padat sebelum disajikan bersama sayur dan sambal pecel.

Menikmati pecel punten di warung ini juga harus menyiapkan kuping lebih tebal. Musababnya, sikap para pelayannya yang ramai dan kerap berteriak saat berkomunikasi dengan pengunjung. Tak jarang suara mereka terdengar sahut-sahutan dari meja saji di depan dengan rekannya di bagian belakang.

Entah merupakan strategi atau bukan, yang jelas keriuhan itu memancing suasana warung menjadi ramai.

Julukan pecel termahal di dunia disematkan karena seluruh harga menu makanan memakai nomimal jutaan. Harga satu porsi pecel punten misalnya, dibanderol Rp 5 juta tanpa minum dan tambahan lauk. Isinya juga minimalis, yakni dua potong punten, sayuran, kerupuk pasir, dan sambal pecel.

Tentu saja nominal tersebut bukan harga sebenarnya. Namun sejak warung ini dibuka hingga sekarang, petugas kasir selalu menggunakan harga juta untuk menggantikan ribu pada menu makannya. Harga Rp 5 juta untuk satu porsi pecel punten berarti Rp 5.000.

Sedangkan julukan mbenjing mriki maleh (besok kesini lagi) adalah pengucapan wajib yang disampaikan pelayan kepada setiap pengunjung yang meninggalkan warung. Dengan suara kencang dan koor, mereka mengucapkan kalimat itu sebagai salam perpisahan.

Tak sekedar menjual gimik, rasa yang ditawarkan di warung ini juga istimewa. Puntennya begitu pulen, gurih, dan bersih. Sangat cocok untuk dipadukan dengan pedas sambal pecel dan kesegaran sayur rebus. Apalagi belakangan pengelola warung menambahkan aneka lauk masakan tradisional seperti lele goreng, ayam goreng, nasi jagung, tempe, tahu, hingga ikan laut kuah pedas.

Konsep self service atau prasmanan menambah daya tarik pengunjung untuk menjajal semua makanan. Karena itu tak heran jika pelayan warung harus bolak balik ke dapur untuk mengisi wadah kosong.

Alasan itu pula yang membuat pengunjung rela menempuh perjalanan 10 kilometer dari pusat Kota Kediri menuju warung. Karena perjalanan panjang itu akan setimpal dengan kenikmatan kuliner yang dicecap.

Meski berada di area persawahan, deretan mobil dan sepeda motor menjadi penanda keberadaan warung ini. Para pembeli juga harus berebut tempat dan piring untuk mengambil lauk yang diinginkan. Kepadatan ini terutama terjadi pada hari libur.

Sumiyati, pemilik warung pecel ini tak pernah menduga apa yang dijual bakal seramai ini. Awalnya, dia membuat punten sebagai pengganti nasi untuk dirinya sendiri yang terkena kencing manis. Namun pada akhirnya punten buatannya sangat digemari banyak orang dan mulai dijual pada tahun 1995.

Meski saat ini terdapat banyak menu lauk yang disajikan, namun pecel punten tetap menjadi favorit pengunjung. Dengan harga yang cukup murah, pendapatan kotor yang diraup Sumiyati mencapai Rp 10 juta per hari. Dia juga bisa mengganti mobil lawasnya dengan satu unit Alphard yang terparkir di samping dapur.

Lucunya, Sumiyati tak pernah mengubah konsep warungnya menjadi lebih bagus. Desain dan perabotnya tetap ala kadarnya dengan lantai tanah. Deretan bangku-bangku itu dijajar di teras rumah dan halaman samping. Sebagian dibentuk lesehan. (tc?

Comment

News Feed