by

Museum Kematian Unair, Modern dan Tak Menakutkan

-destinasi-45 views
Ist.

Surabaya – Berbagai museum di Tanah Air memiliki keunikan tersendiri. Tak terkecuali di Museum Kematian Universitas Airlangga, Surabaya yang menampilkan beragam tata cara pemakaman dengan suasana yang cukup suram.

Pusat Kajian Etnografi yang berada di kampus B, FISIP Universitas Airlangga merupakan tempat Museum Kematian dibangun. Pada 21 Maret 2016 lalu Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, meresmikan Museum dan Pusat Kajian Etnografi, yang merupakan museum universitas pertama di Indonesia yang memiliki tema tata pamer “kematian”.

Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Budaya, meskipun tema tata pamer museum ini menyeramkan, tetapi disajikan dengan cara populer. Lantas, mengapa kematian yang dipilih sebagai tema?

“Karena kematian adalah bagian dari siklus hidup yang paling tidak, pernah dibicarakan, dihindari dan ditakuti. Akan tetapi kenyataannya, kematian adalah hal yang paling penting yang dipikirkan manusia,” tulis situs tersebut.

Hal ini dibuktikan dari sangat beragamnya upacara kematian di Nusantara. Tidak hanya bagian penting dalam kehidupan tapi upacara kematian itu memakan biaya yang banyak, model pemakaman di Nusantara, kisah kematian unik dari penjuru jagat raya, keterangan tentang mati suri di tembok-tembok, dan lain sebagainya.

Sebagai bagian dari etnografi, informasi kematian tidak diberikan dalam bentuk yang menyeramkan, melainkan dalam bentuk potret budaya, yaitu bagaimana masyarakat memperlakukan anggotanya yang meninggal. Kemasan lain adalah bentuk informasi mengenai bagaimana nasib raga setelah mati, bagaimana cara mengenalinya kembali (mengidentifikasi kembali) dan bagaimana melacak kehidupan masa lampau, perkembangan fisiknya dan persebarannya.

“Semua informasi ini diramu sebagai ekspresi ilmu antropologi budaya dan antropologi ragawi, dengan irisan bidang ilmu lain. Jadi kesan seram dan menakutkan direduksi di museum ini,” tulis situs itu lagi.

Tata pamer museum didesain sesuai dengan segmentasi remaja (mahasiswa) yang kritis, narsis, serius tapi santai, dan bertujuan untuk hang out, selfie dan tidak menggurui. Pembuatan tata pamer ini menggunakan dana APBN 2015 melalui dana Tugas Pembantuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Comment

News Feed