by

Inilah 5 Tradisi Menyambut Tahun Baru Hijriah di Pulau Jawa

-berita-224 views
Tradisi Sapi-sapian di Kenjo, Banyuwangi. (Ist)

Solo – Peringatan tahun baru hijriah bagi masyarakat Jawa identik dengan peringatan malam 1 Suro. Biasanya, masyarakat Jawa menyambut bulan Suro dengan perayaan yang disertai prosesi adat karena dianggap sakral.

Hal ini terjadi karena penanggalan Jawa dan kalender Hijriah memiliki kedekatan sejak Sultan Agung (Raja Mataram Islam) mengubah sistem kalender Jawa. Otomatis setiap pergantian tahun baru hijriah, dibarengi dengan Tahun Baru Jawa yang diawali bulan Suro.

Sampai saat ini, beberapa tradisi dilakukan untuk memperingati pergantian tahun itu. Berikut beberapa tradisi menyambut Bulan Suro di berbagai daerah Indonesia, seperti dilansir dari Travel Kompas:

1. Tradisi Kirab Kebo Bule dan Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta

Kirab Kebo Bule (Kiai Slamet) dilakukan oleh pihak Kasunanan Surakarta. Selain Kiai Slamet, pihak kasunanan juga membawa sejumlah pusaka yang dibawa dalam kirab.

Banyak kisah sekitar kebo bule Kiai Slamet tersebut. Salah satu kisah yang dianggap fenomenal adalah sebagian masyarakat Jawa percaya hewan tersebut membawa berkah dan keselamatan dari Sang Kuasa.

Saat memperingati datangnya 1 Suro, warga selalu mencoba menyentuh hingga mengambil air jamasan. Bahkan, ada yang percaya kotoran sang kebo juga memiliki khasiat.

Kebo bule Kiai Slamet mempunyai sejarah panjang. Nama Kiai Slamet tersebut sebetulnya adalah salah satu pusaka berupa tombak milik keraton.

Pada zaman Pakubuwono X, sekitar 1893-1939, kesunanan melakukan tradisi membawa pusaka Kiai Slamet keliling tembok Baluwarti pada Selasa dan Jumat Kliwon.

Tradisi dari Pakubowono X tersebut terus dilanjutkan oleh kerabat keraton dan sang kebo selalu mengikuti pusaka Kiai Slamet tersebut sampai sekarang.

Rute kirab biasanya dari Kori Kamendungan menuju Kawasan Sapit Urang depan keraton lalu menuju Jalan Sudirman.

Setelah itu, ke Timur melewati Jalan Mayor Kusmanto dan melewati Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, lalu Jalan Slamet Riyadi, hingga bunderan Gladag dan kembali lagi menuju keraton.

2. Tradisi Sapi-Sapian di Desa Kenjo Banyuwangi

Tradisi ini muncul sejak 1700-an, ketika tiga orang asal Bugis membuka lahan untuk permukiman dan pertanian. Saat akan membajak tanah, mereka tidak memiliki alat untuk menarik bajak sehingga mereka memutuskan menggunakan tenaga mereka sendiri.

Satu orang memegang kendali bajak dan dua orang menjadi sapi untuk menarik sapi.

Karena kelelahan, mereka lalu mencari binatang untuk membantu membajak sawah dan menemukan sapi liar yang kemudian membantu ketiga orang tersebut untuk mengolah lahan pertanian.

Untuk menghargai leluhur yang mereka sebut Mbah Daeng, masyarakat menggelar tradisi sapi-sapian setiap 1 Suro selain itu juga sebagai kegiatan bersih desa.

Nama Kenjo diambil dari nama Kunjo yang dalam bahasa Using berarti tempat air. Saat ini hampir sebagian besar masyarakat Desa Kenjo berprofesi sebagai petani.

3. Tradisi Kirab Pusaka di Pura Mangkunegaran Surakarta

Prosesi kirab diawali dengan dikeluarkannya sejumlah pusaka milik Puro Mangkunegaran di Pendapa Ageng. Beberapa pusaka dipilih untuk mengikuti kirab ini.

Para peserta kirab dilarang untuk berbicara selama berkeliling kompleks Mangkunegaran tersebut.

Setelah itu pusaka dengan diiringi oleh punggawa keraton dibawa kirab melewati Jl Ronggowarsito, Jl Kartini, Jl.RM Said, lanjut ke Jl. Teuku Umar dan masuk kembali ke Mangkunegaran.

4. Tradisi Kirab Kepala Kerbau di Selo Boyolali, Jawa Tengah

Setiap malam 1 Suro atau tahun baru Hijriah, warga Lenjoh Selo, Boyolali melarung satu kepala kerbau untuk memohon keselamatan kepada Sang Kuasa dan diberi berkah selama hidup di lereng Gunung Merapi.

Menjelang pukul 00.00, Sabtu dini hari, warga mulai berjajar dan melakukan kirab membawa kepala kerbau ke puncak Gunung Merapi.

Lebih kurang 4 kilometer berjalan, warga Selo sampai ke puncak dan melakukan doa bersama. Kepala kerbau yang ditutupi kain warna putih menjadi simbol rasa hormat warga kepada Sang Penguasa Alam.

Acara yang juga sering disebut Sedekah Gunung tersebut selalu diikuti warga dari lereng Gunung Merapi, khususnya Boyolali.

Dengan berpakaian adat Jawa, warga mulai melakukan persiapan Sedekah Gunung dengan melantunkan doa dan nyanyian.

5. Tradisi Tirakat Mubeng Benteng di Keben Keraton Yogya

Kirab ini dilakukan di Yogyakarya. Masyarakat melakukan kirab mengelilingi benteng tanpa berbicara sebagai bentuk perenungan akan perjalanan hidup selama satu tahun lalu. Biasanya ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya.

Acara dimulai pukul 00.00 WIB. Acara yang dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta ini sudah dilakukan secara turun-temurun sebagai bentuk syukur masyarakat Yogyakarta terhadap apa yang didapatkan.

Comment

News Feed