by

10 Gambar Kampung Kapitan Palembang, Sejarah Wisata, Lokasi Alamat + Seafood Restaurant Resto

-berita-525 views
Selamat Datang Di Kampung Kapitan | foto: kampungkapitan.com
Selamat Datang Di Kampung Kapitan | foto: kampungkapitan.com

Lokasi : Jl. KH Azhari – Dermaga 7 Ulu, palembang, 7 Ulu, Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30111
Map: Klik Disini
HTM: Gratis
Buka/Tutup: 17.00 – 23.00
Telepon: (0711) 313978

Budaya adalah harta yang tak ternilai harganya. Banyak negara yang menginginkan budaya yang beraneka ragam seperti Indonesia. Seakan budaya ini juga mewakili keberagaman flora dan fauna di bumi pertiwi ini.

Sayangnya, budaya yang mestinya dilestarikan seakan tergerus oleh budaya negara lain, khususnya budaya Barat. Kebanyakan orang berpikir jika budaya Barat adalah suatu hal yang keren. Inilah yang menjadi masalah. Pancasila seharusnya digunakan sebagai penyaring, namun mulai ditinggalkan.

Mirisnya, ada yang mengatakan bahwa dirinya sangat mengamalkan nilai dari Pancasila, tetapi perilakunya sangat tidak mencerminkan ideologi negara ini. Memang lucu, hanya di tahun ini ideologi negara dijadikan perlindungan dari argumen-argumen yang terdengar benar, namun sejatinya amat konyol.

Tetapi kita tidak membahas hal itu. Sekarang mari kita membahas mengenai salah satu tempat wisata budaya dan sejarah yang ada di Sumatera, tepatnya di bagian selatannya, yaitu Palembang.

Unik Sekali | foto: kaganga.com
Unik Sekali | foto: kaganga.com

Palembang merupakan salah satu kota besar. Kota ini terkenal dengan makanan khasnya yang bernama pempek. Rasa makanan ini memang amat menggunggah selera. Apalagi dengan kuahnya yang bercita rasa unik dan menyegarkan.

Kota ini dulunya juga pernah disinggahi oleh bangsa Cina. Hal ini terlihat jelas dari sisa peradaban Tionghoa yang ada di Kampung Kapitan. Kampung inilah yang dibahas di artikel ini. Tempat wisata ini sangat perlu dilestarikan, karena kaya sejarah dan akulturasi budaya, yaitu Palembang dan Cina, terutama dari segi bentuk bangunan.

Keberadaan Kampung Kapitan saat ini perlahan tapi pasti mulai memudar. Seakan ini juga menjadi dampak dari pergeseran budaya akibat dari masukknya budaya negara lain yang lebih dipandang keren. Hal ini juga seakan membuat sejarah hanya dianggap menjadi masa lalu yang tidak perlu diungkit kembali dan dibiarkan perlahan mati seiring berjalannya waktu.

Sejarah Kampung Kapitan

Kampung Kapitan merupakan salah satu tempat di Palembang yang menyimpan sejarah luar biasa dalam. Kisah sejarah ini berawal dari abad ke 14. Saat itu ada seorang perwira datang ke Palembang. Perwira ini merupakan orang penting dari Dinasti Ming, Cina. Nama Perwira ini adalah Tjoa.

Memang nama tempat wisata ini seperti salah satu nama jalan di Jakarta Timur, yaitu jalan Kapitan Klender Duren Sawit. Namun dari segi cerita dan deskripsi serta alamat tentu berbeda.

Salah Satu Rumah | foto: pergiberwisata.com
Salah Satu Rumah | foto: pergiberwisata.com

Awal kedatangan Perwira Tjoa ke bumi Palembang dianggap bukan suatu ancaman bagi penduduk. Namun ketika Belanda datang ke Palembang dan mulai menjajah, keadaan ini terbalik 180 derajat.

Belanda dengan siasatnya memanfaatkan etnis Tionghoa untuk membantu mereka dalam mengatur Palembang. Penjajah ini memilih orang dengan status ekonomi tinggi sebagai seorang pengawas. Pengawas ini disebut oleh Belanda dengan sebutan Kapitan.

Kapitan ditugaskan untuk mengurus masalah kependudukan. Namun juga mengurus hal seperti perkawinan, perceraian serta pajak usaha yang nantinya akan diserahkan ke Belanda. Memang tugas ini hampir setara dengan seorang camat, namun sedikit di atasnya.

Ada 3 Gaya yang Tampak | foto: palembangtourism.com
Ada 3 Gaya yang Tampak | foto: palembangtourism.com

Kapitan ini berlangsung hingga 10 generasi. Generasi ini juga merupakan akhir dari Kapitan. Nama generasi kesepuluh ini adalah Tjoa Ham Hin. Beliau memulai jabatan menjadi Kapitan mulai tahun 1880 hingga 1921. Di Kampung Kapitan ada foto kapitan terakhir ini.s

Dijelaskan sebelumnya jika seorang Kapitan adalah orang yang memiliki status ekonomi di atas rata-rata. Tak heran jika tempat tinggalnya juga berbeda. Arsitektur rumah Kapitan merupakan perpaduan antara Palembang dan Cina.

Ciri khas dari arsitektur Palembang terlihat jelas dari atap rumah yang berbentuk limas. Namun arsitektur khas Eropa ternyata juga ada di rumah ini. Di Kampung Kapitan ada 15 buah bangunan. Walaupun ini tempat ini sekilas hanya dihuni oleh warga Tionghoa, namun ternyata ada beberapa bangunan yang tidak mengadopsi arsitektur Cina.

Hal ini bisa jadi jika penghuni Kampung Kapitan tidak semuanya merupakan etnis Tionghoa. Namun rumah Kapitan terlihat amat berbeda. Rumah Kapitan ini terdiri dari dua bangunan dan memiliki ukuran yang besar.

Ini Fotonya Kapitan ke-10 | foto: indonesiakaya.com
Ini Fotonya Kapitan ke-10 | foto: indonesiakaya.com

Saat ini rumah Kapitan ini dihuni oleh keturunannya yang tentu bermarga Tjoa. Rumah ini berdinding kayu. Ada ruang tamu yang telah dilengkapi dengan meja dan kursi. Di ruangan ini juga ada beberapa gambar berupa foto maupun lukisan.

Ada hal unik dari foto Kapitan terakhir ini, karena tengah mengenakan pakaian dinas. Foto ini seakan mengikuti orang yang sedang melihatnya. Uniknya, ada juga lukisan dari sang Kapitan. Lukisan ini pun seakan-akan juga mengikuti orang yang melihatnya, khususnya bagian sepatu dan mata sang Kapitan.

Kondisi di Dalam Rumah Kapitan | foto: palembangtourism.com
Kondisi di Dalam Rumah Kapitan | foto: palembangtourism.com

Ada ruangan lain di rumah sang Kapitan, yaitu sebagai tempat untuk beribadah. Ruangan ini boleh dimasuki oleh semua pengunjung, kecuali bagi wanita yang sedang ada tamu. Sebelah rumah ini ada sebauh gedung dari beton. Gedung ini adalah kantor dari sang Kapitan.

Ruangan Lainnya | foto: palembangtourism.com
Ruangan Lainnya | foto: palembangtourism.com

Gedung ini biasanya digunakan sebagai tempat bertemu dengan pihak Belanda. Tentu pembahasannya tidak jauh dari tanggung jawab Belanda yang telah diberikan kepada beliau. Namun ternyata, gedung ini juga bisa digunakan sebagai tempat pesta.

Lokasi Kampung Kapitan

Tempat wisata sejarah dan budaya ini terletak di kelurahan 7 Ulu, kecamatan Seberang Ulu I, kota Palembang. Lokasi destinasi wisata sejarah dan budaya Palembang ini dapat ditempuh melalui dua jalur transportasi, yaitu darat dan air (melalui sungai).

Dari Jauh | foto: jalan2.com
Dari Jauh | foto: jalan2.com

Info jalur darat diawali dengan menuju ke arah pasar 7 Ulu atau juga dikenal dengan pasar Klinik. Sesampainya di sana, perjalanan dilanjutkan menuju ke simpang 3. Kemudian berbelok ke arah kanan. Tidak jauh dari simpang 3 akan terlihat sebuah papan dengan tulisan Kampung Kapitan pada sisi kiri jalan.

Sesampainya di lokasi dapat dijumpai restoran Kampung Kapitan. Restaurant dengan menu seafood ini berada di tepi sungai Musi. Tempat makan ini terlihat cukup jelas dari kawasan wisata Benteng Kuto Besak. Perjalanan menggunakan kendaraan berakhir di sini, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Berada di Sisi Sungai Musi | foto: jalan2.com
Berada di Sisi Sungai Musi | foto: jalan2.com

Perjalanan dari resto menuju ke lokasi wisata ini kurang lebih membutuhkan waktu  kurang lebih 7 menit saja. Namun, jika ingin merasakan sensasi menyusuri sungai Musi, maka jalur air adalah pilihan terbaik.

Melalui jalur air diawali dengan memakirkan kendaraan di kawasan wisata Benteng Kuto Besak. Untuk sewa perahu dari kawasan wisata itu menuju ke Kampung Kapitan adalah Rp. 25.000. Namun harga ini bisa berubah sewaktu-waktu, jadi setidaknya siapkan uang lebih. Satu perahu bisa mengangkut hingga 10 orang.

Harga Tiket Masuk

Memasuki tempat wisata Kampung Kapitan tidak perlu membayar tiket masuk alias gratis. Memang suatu hal yang gratis amat menyenangkan hati tiap orang, namun tanpa adanya tiket masuk bisa menjadi bumerang tersendiri bagi destinasi wisata Palembang ini.

Ruangan Lainnya Lagi | foto: palembangtourism.com
Ruangan Lainnya Lagi | foto: palembangtourism.com

Nomor atau no telp yang bisa dihubungi sudah tertera di atas. Namun belum diketahui secara pasti, itu nomor pengelola Kampung Kapitan atau tipologi makalah restoran.

Umumnya, tiket masuk dari tempat-tempat wisata sejarah digunakan sebagai biaya retribusi. Biaya ini nantinya digunakan untuk merawat benda-benda dari tempat wisata itu. Tentu ini akan membuatnya semakin lestari dan mungkin saja bisa diketahui hingga beberapa generasi maupun akan lestari selamanya, kecuali Sang Maha Kuasa berkehendak lain.

Comment

News Feed