by

10 Misteri Alas Purwo Banyuwangi, Tragedi Sejarah Penampakan Angaker + Mitos Penunggu Hutan

Alas purwo banyuwangi misteri penampakan tragedi sejarah pura angker photo gallery penunggu national park mitos hutan mengembara foto gambar lokasi youtube jawa timur cucak ijo asli purwodadi letak hantu wisata bali akik mistis tour cerita map indonesia ngawi dua dunia terletak adalah dan baluran arti vs roban artikel jatim blora bondowoso candi dimana denjaka bung karno sunan kalijaga ekspedisi ekosistem fakta film fenomena fauna filosofi goa istana gua gaib g land genderuwo gunung harimau hewan hubungan dengan pantai selatan hotel habitat htm itu indramayu wikipedia jember tengah jangan nengok ke belakang kerajaan jin kaskus kerobokan terbesar
Alas Purwo (foto: margoutomo.com)

Lokasi: Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, 68416
Map: KlikDisini
HTM: Wisatawan Lokal Weekdays Rp.5.000, Weekend Rp.7.500, Wisman Rp.150.000
Buka/Tutup: 24 Jam

Tidak hanya satu tapi ada dua sekaligus Taman Nasional yang terhampar di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pertama Baluran National Park dan kedua adalah Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) yang berada di 2 kecamatan yaitu Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo.

Berbeda dengan Meru Betiri yang selalu diberitakan tentang keindahan alam dan keanekaragaman hayatinya, Alas Purwo justru lebih sering diekspose tentang misteri alam gaib yang melingkupinya.

Sejumlah film yang bercerita tentang hantu dan beberapa acara TV yang bertema fenomena dunia supranatural, seperti Dua Dunia, Dunia Lain, Ekspedisi Alam Gaib, Mister Tukul Jalan Jalan, serta yang lain, juga sempat menjadikan Alas Purwo sebagai lokasi shooting.

Alhasil TNAP pun lebih dikenal sebagai kawasan yang angker seperti halnya Alas Roban, Hutan Grobogan di Purwodadi, Hutan Blora, Alas Ketonggo di Ngawi, hutan di Pulau Biawak Indramayu dan Hutan Kerobokan yang ada di Kuta Utara, Bali.

Salah Satu Sudut Alas Purwo (foto: outdoor.blogspot.co.id)

Mitos bahwa Alas Purwo merupakan kerajaan jin dan menjadi tempat berkumpul makhluk gaib yang ada di Pulau Jawa utamanya dari jenis genderuwo, memang sudah terdengar sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.

Namun bukan hanya cerita yang berbau mistis saja sebenarnya yang dimiliki TNAP, tapi juga keindahan alam dan keanekaragaman hayatinya. Bahkan, jika dibandingkan dengan Meru Betiri, TNAP memiliki objek wisata yang lebih banyak dan lebih beragam.

Beberapa diantaranya bahkan sudah akrab di telinga turis mancanegara seperti Pantai Plengkung atau G Land yang menjadi surga bagi para peselancar karena memiliki ombak yang sangat besar.

Itu sebabnya, selain mengenal misteri dari hutan yang kerap dijadikan sebagai tempat latihan Denjaka (Detasemen Jala Mangkara) yang merupakan Pasukan Elite TNI-AL, ada baiknya untuk mengetahui keindahan alam, keanekaragaman hayatinya dan beberapa tempat wisata yang ada di Alas Purwo.

Sejarah, Deskripsi dan Misteri Seputar Alas Purwo

Mengambil rujukan dari Wikipedia, Kaskus dan artikel-artikel yang dimuat di berbagai media, Taman Nasional seluas 43.420 hektar ini terletak di ujung Tenggara Pulau Jawa yang merupakan bagian dari Pantai Selatan dengan titik koordinat 8°26’45”–8°47’00” LS dan 114°20’16”–114°36’00” BT.

Kawanan Banteng di Alas Purwo (foto: banyuwangibagus.com)

Map wilayah TNAP terbagi atas 4 zona yaitu Sanctuary Zone (Zona Inti), Wilderness Zone (Zona Rimba), Intensive Use Zone (Zona Pemanfaatan) dan Buffer Zone (Zona Penyangga). Topografi kawasan di Taman Nasional ini berbentuk datar dan gelombang ringan dengan puncak tertinggi 322 mdpl yaitu di Gunung Lingga Manis.

Berdasarkan ekosistemnya, TNAP dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu Hutan Bambu, Hutan Bakau/Mangrove, Hutan Pantai, Hutan Alam, Hutan Tanaman dan Feeding Ground atau Padang Penggembalaan. Terdapat sebanyak 584 jenis tumbuhan, seperti jenis rumput, semak, herba, liana serta pohon.

Fauna yang menjadikan kawasan ini sebagai habitat hidupnya terdiri atas 4 kelas, yaitu Mamalia, Aves, Reptilia dan Pisces. Kelas Mamalia sebanyak 31 jenis, termasuk banteng, rusa, harimau tutul dan kera abu-abu. Sementara kelas Aves terdiri atas 236 jenis burung, seperti rangkok, ayam hutan, merak, cucak ijo, kangkareng serta yang lain.

Sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa Alas Purwo merupakan kawasan yang berbalut aura mistis. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya goa di kawasan ini yang jumlahnya sebanyak 40 gua, beberapa diantaranya adalah Goa Istana, Goa Mayangkoro, Goa Padepokan serta yang lain.

Goa-goa tersebut digunakan oleh orang-orang yang mengembara untuk bertapa dengan berbagai tujuan, seperti mencari pesugihan, untuk mendapatkan kesaktian, mencari benda-benda pusaka seperti keris, akik dan sebagainya. Bahkan konon, Bung Karno pernah bertapa di Goa Istana untuk dapat bertemu dengan Penguasa Pantai Selatan.

Suasana di Dalam Goa Istana Alas Purwo (foto: Andi N Cahyana)

Cerita lain mengatakan bahwa Masjid Agung Demak memiliki hubungan dengan Banyuwangi. Karena masjid yang dibangun para wali tersebut, salah satu dari keempat tiangnya berasal dari Pohon Jati yang diambil oleh Sunan Kalijaga di Alas Purwo.

Menurut sejarah atau lebih tepatnya legenda, penciptaan Pulau Jawa diawali di tempat ini Karena itulah dinamakan “Alas Purwo” yang artinya “Hutan Pertama atau Permulaan”. Hutan ini juga dipercaya sebagai istana makhluk halus terbesar di Pulau Jawa dan memiliki penunggu berupa bangsa jin serta makhluk hasil perkawinan bangsa jin dengan manusia.

Karena merupakan kawasan yang dikenal keangkerannya, yang namanya penampakan konon bukan hal yang asing di tempat ini. Bahkan ada sebuah mitos, jika saat berada di Alas Purwo mendengar suara asing yang memanggil, jangan nengok ke belakang.

Jika sampai menengok ke belakang, maka orang tersebut akan dibawa oleh makhluk halus yang memanggilnya. Mitos tersebut berkembang seiring dengan banyaknya orang yang hilang di hutan ini pada jaman dahulu.

Rute Perjalanan ke Alas Purwo

Perjalanan ke Alas Purwo, bagi wisatawan yang datang dari Bali, begitu menyeberang di Pelabuhan Ketapang dapat langsung menuju ke Kota Banyuwangi dilanjutkan ke Distrik Rogojampi, Srono, Muncar hingga tiba di Tegaldlimo. Sesampai Tegaldlimo, masih harus menempuh perjalanan lagi sejauh 10 km melewati jalan makadam sebelum akhirnya tiba di Pos Rawabendo yang menjadi Pintu Gerbang TNAP.

Pintu Gerbang Taman Nasional Alas Purwo (foto: asliindonesia.net)

Pengunjung yang datang dari Surabaya, dapat menempuh rute Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso dilanjutkan ke Jember. Namun yang paling mudah adalah melewati Pasuruan, Probolinggo, Lumajang baru Jember.

Pengunjung yang datang dari arah Jember harus terlebih dahulu melewati Kecamatan Genteng yang jaraknya 75 km, berlanjut ke Jajag sejauh 15 km, lalu ke Srono, Muncar dan Tegaldlimo sebelum akhirnya tiba di Pos Rawabendo.

Tour ke TNAP ini wajib menggunakan kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil, atau dengan menggunakan kendaraan rental, karena tidak ada sarana transportasi umum yang menuju ke lokasi wisata.

Menembus Alas Purwo dan Berkunjung ke Sejumlah Objek Wisata di Dalamnya

Pengunjung yang telah sampai di Pos Rawabendo, diwajibkan membayar tiket masuk seharga Rp.5.000 pada hari biasa dan Rp.7.500 pada hari libur. Sedang untuk turis asing, htm yang berlaku sebesar Rp.150.000.

Setelah membayar tiket, pengunjung dapat memacu kendaraannya lagi menuju ke sejumlah objek wisata yang ada di kawasan TNAP melalui jalan yang ada di tengah kawasan hutan. Mengingat kondisi jalan di kawasan hutan sebagian ada yang masih terjal dan berbatu, bagi yang merasa kendaraannya kurang begitu prima, dapat menyewa mobil Jeep di Pos Jaga seharga Rp.100.000 – Rp.150.000.

Inilah sejumlah objek wisata di kawasan Alas Purwo yang menarik untuk dikunjungi.

1. Sadengan

Menara Pandang di Sadengan, Alas Purwo (foto: phinemo.com)

Sadengan adalah hamparan padang savana dengan luas 84 hektar yang jaraknya sekitar 2 km dari Posko Rawa Bendo. Suasana sekeliling yang ada di sini akan mengingatkan siapapun pada suasana yang ada di Afrika, lengkap dengan berbagai jenis hewan liar, seperti banteng, rusa, ajag, kerumunan burung-burung merak, dan berbagai jenis binatang yang lain.

Hanya saja, pengunjung tidak boleh memasuki kawasan padang savana guna melindungi habitat satwa liar disamping untuk keselamatan pengunjung itu sendiri. Untuk melihat aktifitas satwa liar tersebut, dapat dilakukan dengan berdiri di balik pagar atau dengan naik gardu pandang bertingkat tiga.

2. Situs Kawitan dan Pura Giri Selaka

Situs yang ditemukan untuk pertama kalinya pada tahun 1967 ini, mulai digunakan untuk  aktifitas keagamaan pada tahun 1968. Situs Kawitan merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit dan berkaitan dengan kisah perjalanan dari Resi Markendya yang akan menuju ke Pulau Bali. Di area ini juga terdapat sebuah gundukan batu bata yang dipercaya sebagai tempat bertapa Mpu Baradah.

Karena diyakini sebagai tempat yang sakral oleh umat Hindu, di dekat situs tersebut selanjutnya dibangun Pura Giri Selaka. Pura ini digunakan untuk menggelar sejumlah ritual keagamaan, salah satu diantaranya adalah Upacara Pager Wesi yang dilaksanakan setiap 210 hari sekali atau setiap Hari Rabo Kliwon, Wuku Sinta.

Pura Giri Selaka di Alas Purwa (foto: travel.idntimes.com)

3. Pantai Trianggulasi

Pantai yang berjarak sekitar 3 km dari Posko Rawa Bendo ini memiliki hamparan pasir putih dengan panorama yang cantik karena banyak tumbuh Pohon Nyamplung dan Bogem serta monyet-monyet yang bergelantungan di atas pohon. Tidak heran jika Pantai Trianggulasi menjadi tempat favorit bagi pengunjung untuk berfoto.

Sayangnya pantai yang dilengkapi dengan wisma tamu ini hanya bisa dinikmati keindahannya dan tidak bisa dirasakan kesegaran airnya, karena pantainya sangat berbahaya untuk dipakai berenang.

4. Pancur Beach

Pancur merupakan salah satu Posko di TNAP disamping Posko Rawa Bendo.  Di dekat Posko inilah Pancur Beach berada yang juga menebarkan pesona alam lewat pasirnya yang berwarna putih, berhias batu-batu hitam di kawasan sekitar pantai.

Fenomena menarik yang ada di sini adalah adanya sumber air tawar di dekat pantai yang dipercaya dapat membuat awet muda jika digunakan untuk mandi atau mencuci muka.

5. Makam Mbah Dowo

Makam yang unik ini memiliki panjang 7 meter dan dipercaya sebagai makam dari Eyang Suryo Bujo Negoro alias Mbah Dowo. Tidak diketahui dengan pasti, apakah Mbah Dowo memang memiliki tubuh yang sangat tinggi sehingga makamnya sedemikian panjang, karena memang tidak ada catatan sejarah mengenai keberadaan tokoh yang satu ini.

Hanya saja,  banyak yang mempercayai bahwa makam tersebut keramat dan area di sekitar makam yang luasnya sekitar seperempat hektar dihuni berbagai jenis makhluk halus dan terdapat banyak benda-benda pusaka yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, salah satunya adalah sebuah tombak bernama Kyai Toro Welang.

Makam Mbah Dowo di Alas Purwo (foto: Merdeka.com)

Para peziarah yang datang ke Makam Mbah Dowo, selain melakukan lelaku ritual, biasanya juga mengambil air dari dalam sumur yang ada di tempat tersebut dan ditempatkan di botol untuk dibawa pulang. Karena konon air dari sumur tersebut dapat menyembuhkan sejumlah penyakit dan dapat memberi ketenangan jiwa.

6. Hutan Bambu

Tidak jauh dari Pancur Beach, pengunjung dapat menjumpai hutan bambu yang di dalamnya terdapat Gua Istana. Untuk dapat berjalan-jalan di tengah kawasan hutan bambu yang rindang, pengunjung dapat menitipkan kendaraannya terlebih dahulu di Posko Pancur yang jaraknya sekitar 500 meter.

Pohon-pohon bambu yang bentuknya melengkung membentuk lorong-lorong pendek tersebut terlihat sangat cantik, Namun, semakin ke dalam atau semakin mendekati Gua Istana, kecantikan hutan bambu ini semakin diselimuti suasana yang mistis.

Terlebih pohon-pohon bambu yang tumbuh semakin rindang, bahkan lorong yang dibentuk oleh lengkungan bambu juga semakin rendah, sehingga untuk melewatinya harus membungkukkan badan.

7. Wisata Goa

Bagi pengunjung yang ingin merasakan aura mistis dari Alas Purwa, dapat menelusuri kawasan hutan bambu selama kurang lebih 1 jam hingga tiba di sebuah area yang memiliki banyak goa.  Di goa-goa itulah orang-orang yang ingin berkomunikasi dengan dimensi alam gaib melakukan tirakat atau bertapa.

Jumlah goa yang ada di kawasan ini sebanyak 44 buah dan beberapa diantaranya dipercaya sangat sakral serta sering digunakan untuk meditasi atau bertapa. Beberapa goa yang dianggap sakral tersebut diantaranya adalah Goa Istana, Goa Mayangkara, Goa Padepokan, Goa Haji, Goa Basori, Goa Gajah dan Goa Lowo.

 

8. Pantai Ngagelan

Tukik atau Anak-anak Penyu di Pantai Ngagelan (foto: pertamag.blogspot.co.id)

Untuk menuju Pantai Ngagelan, dari Posko Rawa Bendo harus melewati jalan makadam sejauh 3 km serta melewati hutan mahoni dan hutan bambu yang lebat. Nama Ngagelan menjadi sangat populer karena menjadi tempat mendarat dari 4 jenis penyu yang hidup di Indonesia, yaitu Penyu Hijau, Penyu Belimbing, Penyu Sisik dan Penyu Lekang.

Karena itulah di tempat ini juga dibangun sebuah tempat penangkaran penyu dan pada saat-saat tertentu, wisatawan yang datang ke sini akan diajak untuk melepas anak-anak penyu ke habitat aslinya di lautan luas. Puncak pendaratan penyu di Ngagelan biasanya berlangsung pada bulan Mei hingga September.

9. Hutan Mangrove Bedul

Kawasan hutan mangrove yang membentang sepanjang 18 km ini memiliki luas 1.200 hektar. Untuk mencapainya pengunjung harus melakukan tracking dari posko Rawa Bendo sejauh 12 km. Sesampai di lokasi, pengunjung dapat menjelajahi kawasan hutan mangrove dengan menyewa perahu Gondang – Gandung.

Disebut Hutan Mangrove Bedul karena hutan ini terletak di muara sungai Segoro Anak, dan di sungai tersebut banyak terdapat ikan bedul yang sejenis dengan ikan gabus namun memiliki sirip pada bagian punggungnya.

10. Pantai Parang Ireng

Berjarak sekitar 1 km dari Pos Pancur, Pantai Parang Ireng menyuguhklan pemandangan yang unik, karena pantainya memiliki pasir yang ukurannya besar menyerupai butiran merica. Selain itu, batu-batu karang yang ada di pantai ini banyak ditumbuhi lumut yang menempel pada permukaan batu.

11. Pantai Plengkung

Pantai Plengkung atau G-Land yang Menjadi Surga Para Peserlancar (foto: agentwisatabromo.com)

Inilah primadona dari objek wisata yang ada di Alas Purwo dan menjadi tujuan utama para wisatawan serta banyak dikunjungi turis dari mancanegara. Untuk menuju ke Pantai Plengkung yang juga dikenal dengan sebutan G Land, pengunjung harus berjalan dari Pos Pancur sejauh 9 km dengan melewati jalan yang kondisinya rusak.

Bagi yang tidak kuat berjalan kaki, dapat naik mobil pick up yang disediakan oleh TNAP, karena kendaraan umum tidak boleh masuk ke kawasan Plengkung. Itu sebabnya, kondisi G Land tetap terjaga kealamiannya.

Pantai Plengkung menjadi magnet bagi turis mancanegara, karena selain memiliki panorama indah dengan pantainya yang berpasir putih serta bebatuan karang di bagian tepi, juga karena Plengkung merupakan salah satu tempat berselancar terbaik di dunia.

Ombak di pantai ini pada bulan April hingga Oktober sangat besar, bahkan pada bulan Agustus ketinggian ombak bisa mencapai 6 meter. Karena itulah Plengkung menjadi surga bagi penggemar surfing dan menjadi tujuan para surfer dari seluruh penjuru dunia.

Itulah beberapa objek wisata yang ada di Taman Nasional Alas Purwo yang membuktikan bahwa Alas Purwo tidak hanya sebuah kawasan hutan yang angker tapi juga memiliki panorama alam yang menawan. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed