by

10 Gambar Keraton Kanoman Cirebon, Sejarah Silsilah Misteri + Peninggalan Kerajaan?

-berita-2,185 views

Lokasi: Jalan Winaon, Kampung Kanoman, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45111
Map: Klik Disini
HTM: Rp7.000,-/orang
Buka/Tutup: 09.00-17.00
Telepon: (0231) 8806855

foto by explorewisata.com

Bila berbicara tentang keraton, pasti yang terlintas dalam benak kita adalah Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta di Solo. Tapi, siapa sangka apabila Surabaya ternyata juga sempat memilikinya? Namanya memang terdengar sangat asing, sebab dalam literatur dan buku sejarah hampir tidak pernah disebut.

Padahal, dulu sempat menorehkan cerita yang panjang dalam perang melawan penjajah. Sayang, setelah kota tersebut berhasil dikuasai Mataram, sisa kejayaannya semakin tidak terdengar.

foto by ibnuasmara.com

Selain Surabaya, Cirebon juga mempunyai Keraton Kasepuhan yang populer akan Sumur Jodoh-nya. Situs penting tersebut dipercaya bisa memberi manfaat bagi para pengunjung yang meminum airnya, seperti melancarkan rejeki dan jodoh serta menyembuhkan penyakit. Tapi, masih menjadi misteri apa sumur itu memang benar-benar manjur atau tidak.

Keraton bercorak islam lainnya di Cirebon adalah Keraton Kanoman. Meskipun namanya tidak seterkenal Keraton Kasepuhan, tapi salah satu objek wisata sejarah di Indonesia itu mempunyai daya tarik tersendiri.

foto by nusantaranews.com

Sejarah Keraton Kanoman

Keraton Kanoman didirikan pada tahun 1678 M oleh Pangeran Kertawijaya atau Mohamad Badridin yang bergelar Sultan Anom I. Beliau mempunyai dua keturunan dari permaisuri yang berbeda, yakni Pangeran Pengguron Kaprabon (putera pertama dari Ratu Sultan Panengah) dan Pangeran Raja Mandurareja Muhammad Qadirudin (putera kedua dari Nyimas Ibu).

Setelah ayahanda sekaligus pendiri kerajaan tersebut wafat, Pangeran Qadirudin diresmikan sebagai Sultan Anom II karena saudaranya memutuskan untuk memperdalam agama Islam dan menyerahkan kepemimpinan istana padanya. Beliau pun mendirikan Pengguron Kaprabonan sebagai tempat pendidikan agama Islam pada tahun 1696.

foto by hipwee.com

Lalu, di tahun 1770-an, kekuasaan beralih ke Muhammad Chaerudin dengan gelar Sultan Anom IV. Semenjak kekuasaan Mohamad Badridin, Belanda memang telah menanamkan kedaulatannya dalam kerajaan-kerajaan di Cirebon. Tapi, Putera Mahkota Kanoman (anak pertama Muhammad Chaerudin) saat itu melakukan pemberontakan. Akhirnya, di tahun 1796 beliau berhasil ditangkap dan diasingkan ke Ambon.

9 tahun setelah itu, terjadi perlawanan rakyat Cirebon yang dipimpin oleh Bagus Rangin. Persoalan hak waris Sultan Anom IV terhada anaknya adalah hal yang mendasari pemberontakan tersebut.

Menurut makalah, karena perjuangan masyarakat Cirebon terus berlangsung, maka di tahun 1806 Belanda mengembalikan Pangeran Raja Kanoman ke Cirebon. Tapi, Pangeran Raja Abu Soleh Immamudin, yakni adiknya telah bertahta di sana. Atas dasar kesepatakan keluarga, pada tahun 1808 Pangeran Raja Kanoman mendirikan Pendopo Kacirebonan.

foto by ngobroltravel.com

Tahun 1883, pada masa pemerintahan Muhammad Komarudin I, Belanda mengangkat Jean Guillaume Landre atau Tuan Delamoor sebagai residen Cirebon yang baru. Tuan Delamoor saat itu melakukan pertemuan resmi dengan Sultan Anom VI.

Masing-masing dari mereka membawa puteri dan puteranya, yaitu Nona Delamoor dan Pangeran Raja. Karena sering bertemu, kedua orang itu akhirnya jatuh cinta dan Nona Delamoor hamil di luar nikah.

Tapi, karena kelahirannya kurang sempurna, maka bayi tersebut meninggal. Beberapa saat setelah itu, ia menceritakan semuanya pada Tuan Delamoor. Sebagai bentuk penyelesaian yang tidak merugikan pihaknya, Nona Delamoor pun dinikahkan dengan Muhammad Komaroedin II dan bergelar Ratu Sengkaratna. Mereka dikaruniai seorang putera bernama Pangeran Anta.

Beberapa bulan kemudian, Ratu Raja Apsari (istri raja, berdarah bangsawan) juga melahirkan putera bernama Pangeran Raja Dzulkarnaen yang dianggap masyarakat lebih pantas menjadi pewaris tahta ayahnya karena merupakan keturunan darah biru.

Setelah Muhammad Komaroedin II meninggal dunia, terjadilah perebutan tahta. Dari hasil perundingan, Pangeran Anta mendapatkan harta kekayaan ayahnya, sedangkan Pangeran Raja Dzulkarnaen mewarisi tahta sang ayah dan bergelar Sultan Anom VIII. Dari kekayaan tersebut, Pangeran Anta membangun tempat kediaman yang terletak di sebelah barat Siti Hinggil (saat ini Perguruan Taman Siswa).

Sultan Anom XI adalah Muhammad Djalaludin. Beliau merupakan ayah dari Pangeran Elang Mochamad Saladin (putera dari Ny Suherni, seorang selir) dan Pangeran Raja Muhammad Emirudin (putera dari Ratu Raja Sri Mulya). Sebelum meninggal di tahun 2002, beliau membuat surat wasiat supaya Pangeran Elang Mochamad Saladin dinobatkan sebagai Sultan Anom XII.

Tapi, itu ditentang oleh beberapa kelompok yang ingin Pangeran Raja Emirudin, putera dari seorang permaisuri, menjadi Sultan. Akhirnya pelantikan Pangeran Saladin sebagai Sultan Anom XII dipercepat, yakni pada 5 Maret 2003.

Esoknya, dilakukan acara Jumenengan oleh Muhammad Emirudin. Acara penobatan tersebut diwarnai kericuhan. Diawali dengan kedatangan Ratu Mawar (adik Mochamad Saladin). Beliau mengatakan bahwa penobatan tersebut tidak sah dan menentang wasiat Muhammad Djalaludin. Setelah itu, Ratu Mawar pun merebut tombak dari punggawa dan melemparkannya ke aparat keamanan.

Muhammad Emirudin sendiri mengklaim bahwa Jumenengan itu didukung oleh 247 kerabat keraton lainnya. Demi menjunjung adat dan tradisi, maka dirinyalah yang dipilih sebagai Sultan Kanoman XII. Alasannya karena keduanya memiliki perbedaan, dimana Emirudin adalah putera pertama dari seorang ibu berdarah biru, sementara Saladin hanyalah putera seorang selir.

Silsilah Para Sultan di Keraton Kanoman

Berikut silsilah keluarga para sultan yg pernah memimpin Keraton Kanoman Cirebon menurut Wikipedia:
– Sultan Kanoman I: Muhammad Badridin Kartawijaya
– Sultan Kanoman II: Pangeran Raja Mandurareja Muhammad Qadirudin
– Sultan Kanoman III: Pangeran Raja Adipati Muhammad Alimudin
– Sultan Kanoman IV: Pangeran Raja Adipati Sultan Muhammad Chaeruddin
– Sultan Kanoman V: Pangeran Raja Abu Soleh Muhammad Imammudin
– Sultan Kanoman VI: Muhammad Kameroedin I
– Sultan Kanoman VII: Muhammad Kamaroedin II
– Sultan Kanoman VIII: Pangeran Raja Muhammad Dzulkarnaen
– Sultan Kanoman IX: Pangeran Raja Adipati Muhammad Nurbuat
– Sultan Kanoman X: Pangeran Raja Adipati Muhammad Nurus
– Sultan Kanoman XI: Pangeran Raja Adipati Muhammad Jalalludin
– Sultan Kanoman XII: Pangeran Raja Muhammad Emirudin
– Sultan Kanoman XII: Pangeran Elang Mochamad Saladin

foto by sultansinindonesieblog.wordpress.com

Peninggalan Sejarah Keraton Kanoman

Jika Keraton Kasepuhan memiliki peninggalan berupa Kutagara Wadasan, yakni bangunan berbentuk gapura bercat putih dengan gaya khas Cirebon, di Keraton Kanoman masih ada benda-benda, seperti dua kereta bernama Jempana dan Paksi Naga Liman yang terawat dan tersimpan di Museum Gedung Pusaka.

foto by lu-ngun.blogspot.co.id

Letak keunikan kereta itu ada di bentuknya yang mirip dengan burak, yaitu hewan yang dikendarai Nabi Muhammad saat Isra Mi’raj. Tidak jauh dari situ, terdapat bangsal Jinem atau pendopo dengan fungsi sebagai tempat penobatan sultan, menerima tamu dan pemberian restu sebuah acara, seperti Maulid Nabi.

Biasanya, kalau Maulid Nabi Keraton Kanoman mengadakan Ritual Panjang Jimat, seperti tahun lalu yang dipimpin Emirudin, diwakili Patih Keraton. Panjang Jimat sendiri adalah arak-arakan benda pusaka untuk menyambut kelahiran, dalam hal ini Nabi SAW. Jika penasaran, Anda bisa melihat foto atau video liputannya di Youtube.

foto by triptrus.com

Lalu, kompleks bangunan Siti Hinggil berada di bagian tengah keraton. Hal menarik lainnya adalah piring-piring porselen dari Tiongkok. Barang-barang itu memang selalu ada di situs bersejarah di Cirebon.

Di halaman keraton bisa Anda temui patung macan sebagai logo atau lambang Prabu Siliwangi. Di bagian depan ada alun-alun yang digunakan untuk rakyat berkumpul dan pasar, kemudian di sebelah timur ada masjid.

foto by akarnews.com

Lokasi dan Tiket Masuk Keraton Kanoman

Alamat Kerarton Kanoman ada di Jalan Winaon, Kampung Kanoman, Kelurahan Lemahwungkuk, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat.

Lokasi kerajaan ini tepat di belakang pasar dan tidak terlalu jauh dari Stasiun Kejaksaan Cirebon. Rutenya bisa ditempuh melalui Jakarta, Bandung dan Kuningan. Tiket masuk keraton ini sendiri cukup murah, yaitu Rp7.000,-.

foto by teluklove.com

Bagi yang suka mengambil gambar atau hobi fotografi, tempat ini sangat cocok untuk Anda. Sebab, banyak sekali spot photo sejarah dan benda-benda peninggalan Kesultanan Cirebon di masa lalu.

foto by x6-sman5.blogspot.co.id

Comment

News Feed