by

10 Gambar Jam Gadang, Sejarah Misteri, Lokasi Alamat, Ukuran Tinggi + History Wisata Malam Hari?

Gambar jam gadang padang sejarah tempo dulu runtuh tasikmalaya hantu bukittinggi vector kurir letak sumatera barat lukisan foto lokasi kebakaran wallpaper wisata misteri alamat angka adalah berada kota kartun video indonesia tahun baru radio ukuran bukit tinggi aneh ada dimana ambruk romawi animasi dikota empat adventure bandung roboh wikipedia berasal dari mana tinggu clipart clock tower cdr reptile community cerita contoh dan dalam bahasa inggris malam hari masa ke stik es krim streaming 102 3 sumbar online history hancur historical pada harga
Jam Gadang (foto: 7linesholidaybekate.blogspot.co.id)

Lokasi: JL. Istana, Kelurahan Bukit Cangang, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat
Map: KlikDisini
HTM: Gratis
Buka/Tutup:  24 Jam

Setiap kali berbicara tentang Minangkabau atau Sumatera Barat, image masyarakat Indonesia akan tertuju pada sebuah Clock Tower yang bernama Jam Gadang.

Sehingga setiap kali mendeskripsikan tentang Minang dan Sumbar, baik dalam bentuk foto, lukisan, cipart, wallpaper, gambar kartun atau animasi, video dan sebagainya, sosok dari Jam Gadang tidak pernah lupa untuk diikutsertakan.

Karena itu tidak salah, jika Jam Gadang menjadi landmark kebanggaan masyarakat Sumatera Barat dan Kota Bukittinggi menjadikannya sebagai logo Pemerintah Kota. Lokasi monumen ini juga ditetapkan sebagai titik 0 alias pusat dari Kota Bukittinggi.

Area di Sekitar Jam Gadang (foto: tabunginfo.blogspot.co.id)

Selain itu banyak perusahaan, rumah makan, kelompok seni, serta komunitas-komunitas yang menggunakan nama “Jam Gadang” sebagai perwujudan rasa bangga terhadap bangunan yang ditetapkan sebagai cagar budaya melalui undang-undang No.11 tahun 2010 ini.

Beberapa diantaranya adalah Radio Streaming Online Jam Gadang yang dapat ditangkap melalui frekuensi 102.3 FM, Marching Band Gita Jam Gadang, Jam Gadang Reptile Community, serta yang lain.

Karena selalu diidentikkan dengan Minangkabau, membuat siapapun yang berkunjung ke Kota Bukittinggi, wajib untuk singgah ke Taman Sabai Nan Aluih guna melihat keindahan dan kemegahan dari Jam Gadang.

Jam Gadang pada Malam Hari (foto: tabunginfo.blogspot.co.id)

Deskripsi Singkat tentang Jam Gadang

Berada di Pusat kota Bukittinggi, tepatnya di tengah Taman Sabai Nan Aluih, JL. Istana, Kelurahan Bukit Cangang, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat, dengan jarak sekitar 72 km dari Kota Padang atau sekitar 42 km dari Kota Payakumbuh, membuat lokasi Jam Gadang sangat mudah untuk diakses, baik dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum.

Wisatawan yang berangkat dari kedua Kota tersebut dapat langsung menuju Bukittinggi, dan sesampai di sana, bagi yang menggunakan angkutan umum dapat melanjutkan perjalanan ke alamat yang dituju dengan menggunakan angkutan kota.

Jam Gadang Sekitar Tahun 1926–1940 (foto: wikipedia)

Sesampai di tempat, akan terlihat sebuah monumen berlantai empat setinggi 26 meter dengan bagian dasar berukuran 13 x 4 meter2, sedang bagian atas berhiaskan jam raksasa di keempat sisinya yang masing-masing memiliki diameter 80 cm2.

Disebut Jam Gadang karena kata”Gadang” dalam Bahasa Minangkabau memiliki arti “Besar”. Sehingga kata “Jam Gadang” selain merujuk pada nama monumen dari itu sendiri juga menggambarkan wujud dari monumen.

Jam Gadang banyak disebut sebagai kembaran dari Menara Big Ben yang ada di London, Inggris, karena mesin yang menggeraknya hanya diproduksi 2 unit oleh sebuah pabrik di Jerman yang bernama Vortmann Recklinghausen. Satu mesin digunakan di Menara Big Ben dan yang satu lagi dipakai oleh Jam Gadang.

Mesin Buatan Vortmann Recklinghausen yang Digunakan Jam Gadang (foto: indonesiakaya.com)

Mesin tersebut bekerja dengan sistem mekanik lewat dua bandul besar yang satu sama lain saling menyeimbangkan. Dengan sistem tersebut, meski tidak menggunakan sumber energi apapun, jam dapat berfungsi terus selama bertahun-tahun.

Sejarah dan Struktur Jam Gadang

Landmark kebangaan masyarakat Sumbar ini sebagaimana catatan wikipedia, dibangun pada  tahun 1926 oleh sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang menjadi Kota Bukittinggi), bernama Rook Maker, setelah yang bersangkutan menerimanya dari Ratu Belanda, Wilhelmina, sebagai hadiah. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berusia 6 tahun.

Atap Jam Gadang dari Jaman ke Jaman (foto: thelado.wordpress.com)

Dirancang oleh arsitektur asli Minangkabau yang bernama Jazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh, Clock Tower ini dibangun dengan menggunakan material pasir putih, kapur dan putih telor, tanpa memakai semen serta besi penyanggah.

Biaya yang dihabiskan untuk mendirikan bangunan ini sekitar 3.000 gulden atau jika dirupiahkan dengan kurs mata uang sekarang sekitar Rp.22,7 juta. Karena dibangun hampir  satu abad yang lalu, biaya tersebut terbilang fantastis.

Saat pertama kali dibangun, atap menara Jam Gadang berbentuk bulat dengan bagian atas berhiaskan patung ayam jantan yang menghadap ke Timur. Saat Jepang menguasai Bukittinggi, bagian atap direnovasi dan diganti dengan bentuk menyerupai klenteng atau pagoda.

Pemandangan yang Disaksikan dari Atas Menara Jam Gadang (foto: indonesiakaya.com)

Bagian atap menara kembali mengalami perubahan setelah Indonesia merdeka dengan diganti bentuk menyerupai rumah adat Minangkabau sebagai simbol dari keberadaan Suku Minangkabau di Sumatera Barat.

Karena merupakan cagar budaya, upaya perawatan dan renovasi dilakukan oleh pemerintah agar Jam Gadang tetap tegak berdiri. Renovasi terakhir dilakukan oleh BPPI (Badan Pelestarian Pusaka Indonesia), Pemerintah Kota Bukittinggi dan Kedubes Belanda di Jakarta pada tahun 2010, yang peresmiannya dilangsungkan bersamaan dengan HUT Kota Bukittinggi ke-262 pada 22 Desember 2010.

Berwisata di Kawasan Jam Gadang

Angka 4 yang di tulis IIII dalam Romawi pada Jam Gadang (foto: menit.co.id)

Berkunjung ke Taman Sabai Nan Aluih yang di tengahnya terdapat bangunan Jam Gadang, wisatawan tidak hanya akan menjumpai sebuah landmark megah berbentuk jam raksasa, namun juga akan melihat sesuatu yang aneh dari Angka Romawi yang tertulis pada lingkaran jam.

Keanehan tersebut dapat dilihat dari penulisan angka 4 yang dalam angka Romawi semestinya ditulis IV, namun di sini di tulis IIII. Penulisan angka yang janggal tersebut sudah barang tentu mengundang tanda tanya, dan hingga kini belum ada jawaban yang pasti kecuali hanya jawaban yang berupa perkiraan.

Beberapa perkiraan yang membuat penulisan angka IV dibuat dalam bentuk IIII diantaranya adalah karena simbol IV dapat diartikan sebagai “I Victory (Aku Menang)” atau “Indonesia Victory”, sehingga Belanda takut dapat memicu semangat rakyat Bukittinggi untuk ikut berjuang memerdekaan Indonesia.

Para Pedagang Kaki Lima di Kawasan Taman Sabai nan Aluih (foto: indonesiakaya.com)

Pendapat lain mengatakan kalau angka IIII merupakan simbol dari jumlah korban yang meninggal saat dibangunnya menara. Kemudian satu lagi pendapat mengatakan bahwa tempo dulu sebelum abad ke-19, penomoran Romawi memang bervariasi, ada yang menulis IV ada juga yang IIII. Hal tersebut dapat dilihat dari keberadaan Jam Matahari. Karena Jam Gadang dibangun awal abad XIX, sehingga tidak aneh jika penulisan angka 4 menggunakan simbol IIII.

Selain melihat keanehan dari penulisan angka Romawi pada lingkaran jam, wisatawan yang berkunjung ke sini juga dapat melakukan berbagai aktifitas menyenangkan di Taman Sabai Nan Aluih yang ditata sedemikian rupa sehingga menarik untuk dipandang.

Taman ini memang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang menjadi tempat rekreasi murah bagi masyarakat sekitar, menjadi tempat berkumpul beberapa komunitas, sekaligus menjadi tempat penyelenggaraan berbagai macam event, seperti bazaar, lomba-lomba, festival dan sebagainya.

Jika keindahan taman masih belum memberi kepuasan, wisatawan dapat menuju ke puncak Menara Jam Gadang dengan menaiki anak tangga. Di atas menara itulah akan dapat disaksikan keindahan Kota Bukittinggi dengan bangunan-bangunannya yang berlatarbelakangkan bebukitan dan lembah-lembah hijau di kejauhan.

Bendi di Kawasan Jam Gadang (foto: travel.dream.co.id)

Di kawasan sekitar taman juga dapat ditemui bendi atau andong atau delman yang oleh masyarakat sekitar dimanfaatkan sebagai sarana transportasi dengan tarif jauh – dekat Rp.3.000. Tarif tersebut bisa membengkak menjadi Rp.25.000 – Rp.50.000 jika penumpangnya wisatawan dari luar daerah yang berjalan-jalan berkeliling kawasan kota.

Pada malam hari Taman Sabai Nan Aluih semakin bertambah ramai oleh pengunjung, baik anak-anak muda maupun mereka yang datang bersama keluarga. Mereka melakukan berbagai macam aktifitas di luasnya taman sambil menyaksikan dan disaksikan oleh Jam Gadang yang berdiri megah di tengah taman.

Selain masyarakat yang ingin menikmati rekreasi murah, pada pedagang kaki lima dan penjual makanan juga memenuhi beberapa sudut teman. Mereka menggelar berbagai jenis dagangan dan menjual aneka kuliner, termasuk kuliner khas Minangkabau yang wajib dicoba oleh wisatawan dari luar daerah.

Bagi wisatawan yang ingin berbelanja oleh-oleh khas Bukittinggi, tidak jauh dari lokasi taman, terdapat Pasar Atas yang menjual berbagai jenis barang, seperti kerajinan perak, kerajinan tenun dan berbagai souvenir serta pernik-pernik khas Minangkabau. Selain itu dijual pula barang-barang kebutuhan sehari-hari serta buah-buahan. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed