Harga Tiket Masuk Taman Nasional Way Kambas Letak di Lampung dan Sejarah Tempat Penangkaran Hewan

Taman nasional way kambas letak harga tiket masuk lampung merupakan tempat penangkaran hewan tour sejarah gajah national park wilayah konservasi bagi binatang melindungi habitat asli timur berguna untuk flora dan fauna logo cerita penjelasan laporan hasil observasi adalah terletak dimana sumatera bintang sebagai identitas provinsi pelatihan bahasa inggris melestarikan artikel akses ke yang dilindungi alamat balai apa manfaat berada serta beserta pemerintah membangun pengaruh keberadaan kehidupan masyarakat bertujuan bukit cerpen tentang digunakan sumatra indonesia pelestarian pulau terdapat ada foto fungsi fasilitas pusat gambar geografis kelestarian hutan informasi info jurnal kabupaten kebakaran termasuk kawasan kontak keadaan keunikan kantor kegunaan populasi luas perlindungan satwa nomor telepon no telp teks struktur organisasi peta terbakar youtube makalah wisata definisi umum asal usul video wikipedia website spesies yg langka
Taman Nasional Way Kambas, foto: wisatatiga.com

Lokasi: Raja Basa Lama, Labuhan Ratu, Sukadana, Kabupaten Lampung Timur 34196
Map:
KlikDisini
HTM:
Rp.7.000/Orang
Buka/Tutup:
08.00-18.00
Telepon:
(0725) 44220

Taman Nasional Way Kambas adalah pusat ekosistem yang berada di hutan daratan rendah dan terdiri dari hutan rawa air tawar dengan padang rumput serta semak belukar dan hutan pantai. Lokasi taman satwa liar ini terletak di ujung timur pulau Sumatera yang berada di pinggir pantai. Luas wilayah hutan konservasi satwa liar ini sekitar 125.000 hektar dan sebagain besar wilayahnya masih berupa hutan rimba.

Jarak dari kota Bandar Lampung sekitar 112 km di sebelah utara menuju pesisir pantai. Kondisi jalan raya dari pusat kota menuju taman wisata ini cukup baik sehingga mudah untuk dilalui. Perjalanan menggunakan kendaraan bermotor memerlukan waktu yang tidak lama, sekitar 2 sampai 3 jam. Alamat taman satwa ini tepatnya berada di Jalan Labuan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

para pengujung naik gajah, foto: yopiefranz.com

Taman Nasional Way Kambas adalah pusat pelestarian flora dan fauna terutama satwa gajah Sumatera yang makin lama terancam punah. Karena itulah satwa yang paling banyak di taman Way Kambas ini adalah binatang gajah dan menjadi pusat konservasi salah satu hewan purbakala ini. Jumlah gajah yang ada di taman nasional atau National Park ini sekitar 300 ekor dan jumlah populasi hewan ini akan terus bertambah. Pusat konservasi satwa gajah ini telah menyumbang ratusan gajah ke taman satwa atau kebun binatang di seluruh Indonesia.

Dengan adanya taman satwa ini diharapkan semua gajah bisa hidup dengan bebas dan aman serta bisa berkembang biak untuk meneruskan keturunan. Tujuan yang lebih utama adalah melindungi satwa liar agar terhindar dari ancaman perburuan tangan jahat manusia sehingga hewan ini tidak mengalami kepunahan. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memelihara habitat asli yang sudah menjadi tempat tinggal bagi satwa tersebut selama berabad-abad lamanya.

Setiap pagi para pawang memandikan gajah-gajah di sebuah kolam dan selanjutnya hewan tersebut dilepaskan agar bisa hidup bebas di alam liar. Tentu saja pada waktu siang hari banyak sekali gerombolan gajah yang kembali ke habitat aslinya di alam liar dan kembali sore hari. Banyak juga gajah yang tersesat dan tidak kembali ke PLG sampai malam hari dan mendekati pemukiman masyarakat. Hal ini terkadang meresahkan masyarakat karena kawanan gajah merusak beberapa tanaman milik masyarakat setempat.

gajah yang ada di taman nasional, foto: indoholidaytourguide.com

Gajah yang melintas di perkebunan penduduk akan membuat banyak tanaman terinjak sehingga rusak dan para penduduk tentu saja marah dengan masalah tersebut. Sebenarnya para petugas selalu melakukan patroli dengan menaiki gajah di wilayah perbatasan taman Way Kambas menyusuri pemukiman penduduk untuk mencari gajah yang melewati perbatasan.

Para petugas akan menggiring gajah tersebut agar tidak sampai masuk ke wilayah pemukiman warga dan mengembalikan hewan tersebut ke habitat asalnya. Namun karena wilayah hutan lindung ini sangat luas dan keterbatasan para petugas sehingga terkadang ada beberapa gajah yang lolos dari pengawasan dan masuk ke wilayah pemukiman warga. Jika di malam hari, proses pengusiran gajah dari pemukiman penduduk menggunakan pistol SOS sehingga gajah akan lari ketakutan melihat bola api yang keluar dari pistol.

Taman Way Kambas juga membangun fasilitas rumah sakit gajah dan tentu saja satu-satunya layanan kesehatan hewan ini di Indonesia, bahkan di Asia. Rumah sakit ini menangani gajah yang sedang sakit ataupun yang tertangkap karena berkeliaran sampai ke pemukiman masyarakat. Biasanya gajah tersebut mengalami stress berat karena dikejar-kejar penduduk dan merasa terancam.

Gedung rumah sakit memang sangat besar dan kondisinya terbuka dengan tiang-tiang besi sebagai pemisah antara gajah yang sedang sakit dan yang sudah sembuh. Pemeriksaan rutin gajah dilakukan sebulan sekali untuk memeriksa mulut, gigi serta warna kotorannya. Selain itu pemeriksaan pada kaki juga dilakukan karena biasanya kaki gajah terluka karena tertusuk paku atau benda tajam lainnya.

keluarga gajah, foto: utiket.com

Selain gajah, masih ada lagi binatang lainnya yang dilindungi seperti beruang madu, badak Sumatra, harimau Sumatra, rusa sambas, kijang dan kucing emas, tapir serta hewan yg langka lainnya yang terancam dari kepunahan. Dengan lahan seluas ribuan hektar tersebut tentunya masih banyak hewan-hewan lainnya yang masih belum diketahui seperti serangga, ular, serta satwa lainnya.

Proses konservasi ini pada awalnya melakukan karantina kepada hewan yang masih liar dan melakukan pendekatan terus menerus agar hewan tersebut bisa bersahabat dengan manusia. Setelah hewan mulai jinak dan bisa bersinergi dengan masyarakat, maka akan dibiarkan hidup di alam liar yang masih termasuk dalam wilayah Taman Nasional Way Kambas.

Ternyata pusat observasi taman satwa dan alam liar ini juga bisa menarik banyak wisatawan yang ingin melihat dari dekat tentang proses penangkaran satwa. Sehingga wahana pelestarian alam liar ini berubah menjadi tempat wisata bagi masyarakat Lampung dan sekitarnya. Selain itu, tempat wisata ini juga bisa menjadi pusat pendidikan dan pelatihan bagi seluruh masyarakat untuk melestarikan alam dan semua satwa yang hidup di dalamnya.

Harga Tiket masuk Taman Nasional Way Kambas

kumpulan gajah sedang mandi, foto: radartvnews.com

Untuk memasuki taman satwa ini memang cukup murah dan setiap pengunjung hanya perlu membayar Rp.7000. Sedangkan untuk kendaraan roda 4 diharuskan membayar ongkos retribusi sebesar Rp.10.000 untuk biaya perbaikan jalan. Hal ini karena letak Pusat Latihan Gajah (PLG) atau Way Kanan masih berjarak 9 km dari pintu masuk dan akses sepanjang jalan beraspal yang dilalui sudah banyak yang rusak.

Bagi para penunjung yang berjalan kaki tidak perlu khawatir, karena bisa menggunakan jasa ojek dari pintu masuk sampai ke lokasi. Sekitar 1 km sebelum sampai di lokasi PLG, ada pos pemeriksaan tiket untuk meninjau ulang tiket masuk para pengunjung. Tentu saja para pengunjung harus menyimpan baik-baik tiket yang telah dibeli agar bisa lolos dari pemeriksaan tiket.

Lokasi parkir sangat luas dan terdapat warung makan sebagai tempat peristirahatan para pengunjung sebelum menuju ke tempat PLG. Harga makanan dan minuman di warung tersebut memang masih standar dan tidak terlalu mahal serta tidak memberatkan pengunjung. Sebaiknya para pengunjung juga membeli satu ikat pisang dengan harga Rp.10.000 untuk diberikan kepada gajah yang ada di sana.

Bagi para pengunjug datang membawa pisang, biasanya seekor gajah akan menyambut dengan belalainya agar makanan tersebut diberikan kepada dia. Ternyata gajah yang telah jinak memang lucu sekali dan bisa tahu kalau ada para pengunjung yang akan memberikan makanan.

Wahana Wisata Taman Nasional Way Kambas

kegiatan yang bisa di lakukan di taman nasional, foto: staticflickr.com

Di lokasi Pusat Latihan Gajah (PLG) terdapat beberapa atraksi menarik yang digelar setiap sore hari. Ada gajah yang sedang mengusung kayu, ada juga gajah yang bisa membajak sawah dan ada pula atraksi sirkus gajah yang duduk dan berjajar bersama gajah lainnya. Atraksi lainnya adalah para pawang yang tidur dan dilewati gajah tanpa menginjaknya.

Sementara atraksi kawanan gajah yang bermain bola digelar setiap sore hari pada akhir pekan. Bola yang digunakan besarnya 3 kali lipat dengan bola pada umumnya dan tentu saja bobot bola tersebut juga berat sehingga gajah tidak bisa menendang jauh. Masih ada lagi atraksi lainnya yaitu gajah yang adu balapan dengan ditunggangi para pengunjung. Dengan ukuran badan yang besar, tentu saja hewan ini tidak bisa lari kencang dan akan terlihat lucu. Ada juga gajah yang memiliki keahlian dalam menggambar lukisan dan merupakan atraksi yang sangat menarik bagi para wisatawan.

Para pengunjung juga bisa mencoba menaiki gajah yang dikemudikan para pawangnya dengan membayar Rp.20.000 untuk satu putaran sekitar 50-100 meter.  Jika belum puas, maka bisa mengambil paket short time dengan biaya Rp.150.000 untuk berkeliling di taman dengan gajah selama 30 menit. Setiap satu ekor gajah bisa dinaiki 2 pengunjung dan 1 pawangnya.  Tentu saja para pengunjung bisa mengabadikan momen berkeliling menaiki gajah untuk mengambil foto dengan kamera.

para gajah liar di sekitar taman nasioanal, foto: thenewsminute.com

Area berkeliling gajah merupakan sebuah taman yang dipenuhi dengan rumput hijau serta banyak pepohonan tinggi sehingga suasananya sangat sejuk. Selama berkeliling, para pengunjung akan disuguhi pemandangan yang indah hutan liar di sekitar Taman Nasional Way Kambas. Selain itu, bisa melihat gajah-gajah lainnya yang juga berkeliling dengan para pengunjung.

Ada dua kolam besar yang berisi air dan bentuknya seperti danau buatan sebagai tempat untuk memandikan para gajah. Gajah-gajah tersebut akan mandi setiap pagi dan selanjutnya akan menuju ke  alam bebas dengan padang rumput yang sangat luas. Jika ingin melihat para pawang yang sedang memandikan gajah harus datang pagi-pagi sekali atau menginap, karena proses memandikan gajah dilakukan pada jam 6 pagi.

Biasanya kawanan gajah akan menghabiskan satu hari berada di alam liar atau kembali ke habitat aslinya. Pihak pengelola memiliki gardu pandang setinggi 15 meter untuk memantau keberadaan gajah di alam bebas. Gardu pandang ini bisa digunakan para pengunjung untuk mengambil gambar gajah di padang rumput atau pemandang hutan dikawasan ini, namun harus dengan meminta izin kepada petugas.

pertunjukan gajah duduk, foto: pedomanwisata.com

Wahan wisata lainnya yang disukai para pengunjung adalah pusat penangkaran badak Sumatra yang memiliki kandang berbentuk kotak persegi ketika masih dalam penangkaran. Jika hewan ini sudah jinak dan tidak berbahaya, maka akan dilepaskan ke alam bebas. Di lokasi PLG ini juga terdapat museum gajah dengan koleksi tulang atau rangka gajah setinggi 3 meter, namun koleksi yang ada di museum tersebut tidak banyak sehingga jarang pengunjungnya. Selain itu, terdapat pula pusat laboratorium alam dengan alat-alat yang lengkap dan tentunya sangat membantu bagi pengunjung yang sedang melakukan penelitian.

Para pengunjung juga bisa mengambil paket tour untuk berkeliling menyusuri sungai dengan perahu motor yang berkapasitas 6 orang. Tentu saja pengunjung akan diajak para guide untuk mengelilingi kawasan hutan Way Kambas dan melihat kehidupan satwa liar di alam bebas. Harga yang ditawarkan untuk paket tour sekitar Rp.750.000 sampai Rp.1.500.000 tergantung dari jauh atau dekatnya hutan perjalanan. Harga tersebut memang terlihat mahal, namun akan segera terbayar setelah melihat keindahan alam bebas beserta para kawanan gajah dan hewan lainnya.

Penginapan Taman Nasional Way Kambas

gajah dan pawang sedang bermain, foto: kompas.com

Guest House tersedia di plang hijau yang ada di Pusat Latihan Gajah serta camp resort Way Kanan sebagai fasilitas menginap para pengunjung. Harga yang ditawarkan pihak pengelola sekitar Rp.200.000 per malam. Selain itu, masih ada lagi penginapan lainnya yang berada dekat dengan gerbang pintu masuk yang memiliki konsep bangunan cottage yang bisa digunakan menginap 4 orang. Fasilitas yang diberikan sangat lengkap seperti di rumah sendiri dengan listrik bertenaga surya.

Jika ingin lebih menantang, bisa menginap di camp area dan bersentuhan langsung dengan alam di malam hari. Tentu saja suara-suara binatang malam akan terdengar dengan jelas dan bisa tahu bagaimana kondisi malam hari di sekitar hutan liar. Suasana akan lebih meriah jika sambil mengadakan pesta barbeque ataupun berada di depan api unggun sampai larut malam.

Setiap pagi para pengunjung akan disuguhi kicauan burung-burung yang saling bersautan diatas pohon dan terasa seperti berada di alam liar. Keuntungan lainnya jika menginap di taman ini antara lain bisa melihat proses memandikan gajah setiap jam 6 pagi. Kegiatan ini memang sangat menyenangkan dan bahkan banyak pengunjung yang berani membayar mahal untuk ikut par pawang untuk memandikan gajah-gajah tersebut.

Di sekitar lokasi cottage terdapat sebuah restoran yang menyajikan menu masakan Indonesia dan Eropa untuk memanjakan lidah para pengunjung. Hal ini karena banyak juga para wisatawan dari luar negeri yang datang sehingga menu restoran bisa melayani semua pengunjung yang datang. Selain itu, ada juga sebuah taman yang di kelilingi tembok dengan nama Satwa Gajah Eco Lodge yang memiliki banyak pepohonan dengan buah-buahan tropis.

Sejarah Nasional Way Kambas

proses pembelajaran untuk gajah, foto: kapanlagi.com

Sejak tahun 1924 kawasan hutan Way Kambas memang sudah direncanakan untuk dijadikan pusat pelestarian alam sehingga di lokasi tersebut dikosongkan dari pemukiman penduduk. Taman Satwa Way Kambas merupakan cagar alam yang paling tua di Indonesia dan sudah berdiri sejak tahun 1936 pada zaman penjajahan Belanda. Selanjutnya pemerintahan Belanda mulai meresmikan pusat pelestarian alam tersebut pada tahun 1937 dan menggunakan gajah sebagai tenaga pengangkut kayu.

Menginjak tahun 1978, kawsan hutan lindung ini diberi nama Kawasan Pelestarian Alam (KPA) yang disahkan oleh Menteri Pertanian. Selanjutnya Kawasan Pelestarian Alam ini diserahkan kepada pihak Sub Balai Kawasan Pelestarian Alam (SKBPA) untuk mengelolanya. Selanjutnya tahun 1989 diadakan acara Pekan Konversi Nasional di Kaliurang, Yogyakarta telah di deklarasikan oleh Menteri Kehutanan bahwa Kawasan Pelestarian Alam diubah namanya menjadi Taman Nasional Way Kambas

Selanjutnya taman satwa liar ini mulai menjadi pusat konservasi atau penangkaran dan pelatihan gajah sampai sekarang. Saat ini pusat konservasi Way Kambas menjadi pemasok utama satwa gajah sumatra ke kebun binatang di seluruh Indonesia. Selain itu, juga melayani pertukaran satwa dari kebun binatang lainnya untuk menghindari perkawinan sedarah agar bisa menghasilkan keturunan yang sehat.