Harga Tiket Masuk Museum Radya Pustaka, Alamat Terletak di Kota Surakarta Solo Jawa Tengah + Koleksi Sejarah

Museum radya pustaka terletak di kota solo koleksi sejarah harga tiket masuk surakarta jawa tengah 57141 berada makalah tentang alamat jam buka tutup bahasa inggris ada adalah tertua artikel kirab ageng berisi peristiwa latar belakang biaya buatlah deskripsi berdasarkan teks diatas dengan berdirinya contoh laporan kunjungan dimanakah letak fungsi foto gambar isi informasi jadwal kasus kondisi lokasi menyimpan misteri siapa yang mendirikan no telp digitalisasi naskah kuno didirikan oleh terdapat provinsi pencurian pengelolaan profil tujuan pemugaran sriwedari wikipedia wisata
Museum Radya Pustaka, foto: okezone.com

Lokasi: Jalan Brigjen Slamet Riyadi, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Kode pos: 57141
Map: KlikDisini
HTM: Free
Buka/Tutup: 08.00 – 14.00
Telepon: (0271) 712306

Sebagai salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah yang terkenal akan destinasi wisata budaya, Kota Surakarta memiliki banyak koleksi bukti-bukti sejarah. Kota yang memiliki slogan pariwisata sebagai “The Spirit of Java” ini terkenal tentang kebudayaan Jawa, kerahaman dan sopan santun masyarakatnya.

replikas Canthik Perahu Rajamala, foto: solopos.com

Kota ini merupakan tempat yang menjadi saksi sejarah dari berbagai zaman, termasuk dengan adanya peninggalan-peninggalan bersejarah seperti Benteng Vastenburg, adanya situs Sangiran, serta keberadaan Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran.

Destinasi wisata yang akan kita bicarakan dalam artikel kali ini berada di Kota Solo, adalah suatu objek wisata yang menyimpan bukti sejarah dan kebudayaan Jawa yang berkembang di daerah ini. Namanya adalah Museum Radya Pustaka.

Lokasi Museum Radya Pustaka

perpustakaan yang ada di dalam museum, foto: indonesiakaya.com

Di manakah museum ini berlokasi? Museum Radya Pustaka adalah museum tertua di Indonesia yang terletak di Jalan Brigjen Slamet Riyadi, Surakarta, jalanan utama Kota Solo. Letak museum tua ini berada di sisi kanan jalan utama di Kota Solo. Sejajar dengan objek wisata budaya terkenal lainnya di Kota Budaya, yaitu Taman Sriwedari.

Di antara Taman Sriwedari dan Museum Radya Pustaka, terdapat Graha Wisata Niaga. Gedung ini sering digunakan sebagai gedung pertemuan. Selain itu, gedung ini juga dapat disewa untuk acara-acara tertentu seperti pernikahan atau pameran karya seni dan teknologi.

koleksi miniatur arca, foto: tstatic.net

Bila rekan-rekan traveler ingin pergi ke Museum Radya Pustaka ini, jika datang dari arah barat, bisa melalui Jalan Brigjen Slamet Riyadi. Selain itu, bisa juga dari arah Jalan Dr. Soepomo, yang akan berujung di depan Taman Sriwedari. Perlu diingat kawan, bahwa Jalan Brigjen Slamet Riyadi ini adalah jalan searah.

Sejarah Museum Radya Pustaka

salah satu ruangan koleksi pameran, foto: tripadvisor.com

Musem yang dibangun pada tanggal 2 Oktober tahun 1890 ini dulunya merupakan tempat tinggal seorang warga negara Belanda. Kemudian, tanah yang berada di kompleks kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ini dibangun menjadi sebuah museum. Siapakah yang mendirikan Museum ini? Dia adalah Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV, pada masa pemerintahan Paku Buwono IX yang memiliki tujuan dan fungsi untuk menyimpan naskah-naskah pada masa itu dan diisi dengan barang-barang pusaka keraton.

Sekalipun sebuah museum, uniknya, museum ini tidak berada dalam naungan Dinas Pemerintah. Yayasan Paheman Radyapustaka Surakarta yang menaungi museum ini. Pada awal pembangunannya, Radya Pustaka digunakan sebagai tempat untuk menyimpan surat atau dokumen kerajaan. Museum ini juga telah mengalami beberapa kali pemugaran untuk memperbaiki beberapa titik lokasi dan bahkan pemindahan.

Koleksi Museum Radya Pustaka

ruangan koleksi wayang, foto: tripadvisor.com

Seperti layaknya museum, Radya Pustaka memiliki berbagai koleksi yang menjadi saksi sejarah dan memiliki profil nilai budaya Jawa yang kental. Koleksi-koleksi yang ada di museum ini contohnya berupa arca, pusaka yang menyimpan konon menyimpan misteri atau senjata tradisional, keramik, wayang kulit, serta buku dan kitab kuno yang berisi catatan sejarah Jawa. Setiap tahunnya bahkan akan dijadwalkan Kirab Ageng Museum Radya Pustaka yang berisi kegiatan untuk membersihkan koleksi-koleksi pusaka yang telah disebutkan di atas.

Kalau rekan Travelers sekalian berkunjung ke sana, maka di bagian halaman depan, tepat di depan gedung, rekan sekalian akan menjumpai sebuah patung dada R. Ng. Rangga Warsita, hali ini tercatat di situs Wikipedia. Di dalam museum ini, terdapat orgel yang merupakan hadiah dari Napoleon Bonaparte pada Paku Buwono IV, raja dari Keraton Surakarta. Selain itu, terdapat juga mesin ketik dengan huruf Jawa atau huruf hanacaraka (aksara jawa) loh kawan. Pernah kah melihat yang satu ini?

patung sultan solo, foto: bisniswisata.co.id

Berbagai langkah dilakukan oleh pihak pengelola museum untuk menyelamatkan koleksi mereka yang terbilang kuno. Bayangkan, naskah-naskah yang ditulis beberapa puluh atau bahkan ratus tahun yang lalu itu pasti sudah termakan usia. Namun, isi dari naskah tersebut masihlah merupakan bukti sejarah. Pernah ada kasus peristiwa pencurian koleksi Museum yaitu beberapa arca yang merupakan peninggalan berharga yang disimpan di museum tersebut.

Salah satu langkah yang dilakukan oleh pihak pengelola adalah melakukan digitalisasi terhadap naskah-naskah kuno. Nah, rekan-rekan travelers zaman now, sekarang bisa nih untuk menantikan koleksi museum dalam media yang ‘sesuai’ dengan generasi milenial. Biasanya pengunjung yang datang juga akan membuat laporan kunjungan, dan bisa langsung bertanya-tanya pada pengurus Museum.

Daya Tarik Museum Radya Pustaka

koleksi gamelan yang dimiliki oleh musuem , foto: liputan6.com

Museum Radya Pustaka ini bisa dikatakan sebagai museum dengan latar belakang‘pencermin sejarah’ terutama sejarah masyarakat Surakarta dan Keraton Surakarta, sudah banyak makalah ilmiah yang ditulis dan sumbernya di ambil dari koleksi di tempat ini hloh. Bangunan museum merupakan bangunan khas Belanda, mencerminkan karya arsitektur pada masa itu.

Rekan-rekan traveler, ketika memasuki halaman dari museum ini, akan disambut oleh patung yang berada di tengah halaman dan meriam yang digunakan pada masa VOC. Patung ini adalah patung Rangga Warsita, seorang pujangga terkenal pada masa itu.

salah satu daya tarik yang dimiliki oleh museum, foto: tempo.co

Rekan-rekan travelers tak perlu khawatir karena di masing-masing display koleksi sudah dilengkapi dengan deskripsi mengenai koleksi yang bersangkutan. Teks yang ada dibuat dengan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris berdasarkan informasi mengenai koleksi.

Informasi dan Berita Miris Museum Radya Pustaka

Sebagai museum yang dikelola yayasan, banyak persoalan yang dihadapi oleh pengelola tempat bersejarah ini. Persoalan-persoalan tersebut tentunya sangat berdampak terhadap eksistensi Museum Radya Pustaka dan pengelolaan tempat ini.

Pernah dikabarkan dalam berita bahwa koleksi Museum Radya Pustaka ini dicuri atau hilang. Pencurian ini tentunya menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Beberapa waktu yang lalu, bahkan museum ini sempat tutup beberapa hari untuk kunjungan umum. Hal ini dikarenakan persoalan dana dan gaji karyawan.

bagian belakang museum, foto: indonesiakaya.com

Selain itu, banyak koleksi yang ‘seakan’ tidak terawat juga di dalam museum. Padahal koleksi-koleksi itu memiliki nilai sejarah. Eits, jangan berburuk sangka dulu kawan. Kondisi ini bukan semata-mata salah pengelola.

Hal ini terjadi karena perawatan dan biaya operasional untuk menjaga koleksi-koleksi itu tidak murah. Sedangkan tarif yang dibebankan pada pengunjung juga tidak terlalu mahal.

Hal yang membuat sedih lagi, sekalipun memiliki nilai sejarah dan sebagai sarana edukasi, tidak banyak masyarakat yang ‘berbondong-bondong’ datang ke museum ini. Nampaknya generasi milenial tidak begitu menikmati pameran koleksi Museum Radya Pustaka ini.

Saat ini, Museum Radya Pustaka sedang dalam proses pengaturan dasar hukum kawan. Harga tiket masuk yang awalnya adalah Rp5.000,00, kini, pengunjung sementara ini digratiskan untuk mengunjungi museum. Semoga pengaturan landasan hukum ini segera beres.

Nah, untuk itu, kawan-kawan bisa nih untuk membantu mempromosikan wisata kita. Namun, karena di dalam museum terdapat larangan untuk mengambil gambar (pembatasan izin untuk mengambil foto), sepertinya rekan-rekan travelers harus mencari cara lain nih.

Promosi bisa dilakukan dengan cara cerita kawan. Sharelah pengalaman rekan-rekan travelers ketika berkunjung ke Museum Radya Pustaka dengan orang-orang terdekat dan ajak mereka untuk pergi ke museum. Mari lestarikan museum, dan buatlah diri Anda menghargai sejarah bangsa kawan. Salam traveler!