10 Gambar Wisata Kampung Batik Trusmi Cirebon, Jam Buka Lokasi + Alamat Terkenal Dari Daerah

Batik trusmi cirebon kampung jakarta couple bandung alamat online sejarah lokasi terkenal dari daerah gambar cirebonan plered medan jaya abadi jam buka wisata pusat grosir salma weru lor jawa barat mayestik reseller surabaya tulis berasal asofa mega mendung harga eb factory group model terbaru sally giovanny gamis adalah pemilik per meter jual murah nofa berapa kitchen anak annur agen cihampelas tutup thamrin city maknanya stasiun edi baredi embos eksklusif email facebook official fanpage foto fungsi filosofi gaji hitam putih hafiyan hem hrd instagram ibnu riyanto ibr ninik ichsan indonesia industri iklan info khusus ibukota jogja jmp kuningan karir kota sumatera utara khas keluarga katura kain sanggar lebet sibu lia mahkota cabang nova owner omzet toko baju pria pasangan penjelasannya rasheda rumah rekomendasi review sarimbit sutra termurah usaha voucher wikipedia wanita wening yang bagus youtube
Batik Trusmi (foto: kompasiana)

Lokasi:  Dusun Trusmi, Desa Weru Lor, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat , 42273
Map: KlikDisini
HTM:  Rp.15.000
Buka/Tutup: 09.00 – 17.00 WIB
Telepon: 0341 – 595929

Sebagai warisan budaya dunia yang diakui UNESCO, batik memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan sebagai produk tekstil khas Indonesia. Itu sebabnya sentra-sentra penghasil batik yang sudah ratusan tahun berproduksi hingga kini masih dapat bertahan, bahkan di sejumlah daerah banyak bermunculan sentra-sentra baru yang menawarkan berbagai corak dan motif. Alhasil, ragam batik pun semakin berkembang, karena corak dan motif klasik masih banyak yang meminati, sementara corak dan motif konvensional juga dapat diterima oleh pasar.

Beberapa sentra batik yang selama ini telah memiliki nama di tanah air, diantaranya adalah: Jogja, Pekalongan, Solo, Lasem, Kudus, Kuningan, Madura, Jember, Malang dan beberapa daerah yang lain, termasuk Cirebon lewat Kampung Batik Trusmi yang populer dengan motif Batik Mega Mendungnya. Motif berbentuk awan yang konon merupakan akulturasi antara Budaya Cirebon dengan Budaya China ini, konon terinspirasi dari Pernikahan antara Pangeran Cakrabuana (1452 – 1479) dengan putri dari China. Sehingga motif yang telah didaftarkan ke UNESCO oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata ini sarat akan filosofi sebagaimana motif-motif batik klasik lainnya.

Presiden Jokowi Saat Berbelanja di Sentra Batik Trusmi (foto: jmijustice.blogspot.co.id)

Terlepas dari popularitas motif Mega Mendung, Kampung Trusmi memiliki potensi yang besar sebagai produsen batik di tanah air, sekaligus potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata budaya dan edu-wisata, karena eksistensi kampung ini sebagai penghasil batik sudah dimulai sejak abad ke-14. Bekerja sebagai pengrajin batik bagi masyarakat yang tinggal di kampung ini tidak hanya sekedar untuk mencari makan, tapi juga menjadi  bagian dari adat dan budaya serta pola hidup yang mereka jalani sehari-hari.

Tidak heran jika di Kampung Trusmi dan beberapa desa di dekatnya, seperti Desa Kaliwulu, Wot Galih, Kenduruan, Paoman, Gamel dan Kali Tengah, jumlah pengrajin mencapai lebih dari 3.000 orang, meski jumlah tersebut dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Semakin berkurangnya jumlah pengrajin tersebut bukan berarti eksistensi dari kampung ini sebagai produsen batik terancam, hanya saja memang butuh perhatian yang serius dari pemerintah agar julukan Trusmi sebagai Kampung Batik  dapat terus dipertahankan.

Sekilas Tentang Kampung Batik Trusmi

Para Pengrajin Batik di Kampung Batik Trusmi (foto: republika.co.id)

Batik Trusmi memang telah mencetak banyak jutawan dan milyuner, seperti pasangan Sally Giovanny dan Ibnu Riyanto yang merupakan owner TRUSMI Group dan Batik Kitchen yang omzetnya milyaran dan memiliki banyak cabang, Ninik Masruni Masina pemilik Warung Batik Ninik Ichsan, Edi Baredi yang menjadi pemilik EB Kampoeng Batik Traditional, dan masih banyak lagi yang lain. Trusmi memang terkesan gemerlap dengan hadirnya sejumlah official fanpage Batik Trusmi dan online shop seperti Annur, Nova, Rasheda, Wening dan Stasiun Batik, yang khusus menjual Batik Trusmi dan gencar memasang iklan serta memajang foto-foto produk lewat website, facebook, instagram hingga youtube.

Namun, pada kenyataan, tidak semuanya persis sebagaimana bayangan setiap orang. Karena gambaran yang tersaji di sentra batik ini berwarna hitam putih. Ada yang kehidupannya melambung berkat batik, tapi lebih banyak yang hidup dengan gaji pas-pasan karena menekuni usaha sebagai pengrajin.

Kampung yang terletak di Desa Weru Lor Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon ini meski terkenal sebagai penghasil batik sejak abad ke-14, namun industri batik hingga kini masih belum bisa memberikan kesejahteraan yang utuh kepada masyarakat Trusmi dengan indikasi masih adanya kesenjangan yang menyolok dari sisi ekonomi antara para pengrajin dengan pengusaha. Kesenjangan tersebut disebabkan karena keterbatasan modal dari para pengrajin serta mekanisme pembayaran dari pihak showroom yang memakan waktu lama.

Deretan Showroom Batik Trusmi (foto: pegipegi.com)

Rentang waktu tersebut sudah barang tentu menjadi beban bagi para pengrajin karena mereka harus mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari berikut beban bunga pinjaman dari modal usaha yang harus mereka tanggung. Karena itu muncul istilah “gudhel nyusu kebo” (kerbau yang meminum susu anaknya) untuk menggambarkan showroom-showroom yang justru disubsidi oleh para pengrajin dan bukan sebaliknya. Hal tersebut muncul akibat dampak dari relasi ekonomi, dimana ada semacam ketergantungan dari pengrajin kepada pengusaha.

Harga jual batik yang tinggi di showroom-showroom tidak membuat tingkat ekonomi pengrajin meningkat karena harga beli dari pengusaha ke pengrajin masih saja murah. Akibatnya, dalam relasi sosial masyarakat Trusmi, kemiskinan seolah sudah menstruktur, sehingga banyak keturunan dari para pengrajin yang enggan untuk melanjutkan profesi orang tua mereka dan enggan untuk meneruskan tradisi yang sudah turun temurun.

Langkah untuk mengantisipasi persoalan tersebut sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah. Beberapa diantaranya dengan membuka koperasi di beberapa tempat guna menampung sekaligus menjadi showroom bagi para pengrajin yang tidak memiliki tempat untuk memajang hasil produksi mereka. Bahkan, sejak bulan Maret 2015 Pemerintah Daerah Cirebon juga telah membuka Pasar Batik Trusmi untuk memberi tempat bagi para pengrajin agar dapat memasarkan hasil produksi mereka tanpa melalui para pengusaha.

Pasar Batik Trusmi (foto: cirebonpos.com)

Namun, langkah tersebut hingga kini masih belum membuahkan hasil yang maksimal. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi pasar yang sepi dan berbeda jauh dari Pusat Grosir Batik Trusmi yang selalu ramai dikunjungi pembeli maupun wisatawan. Banyak faktor yang menjadikan Pusat Grosir lebih ramai dibanding Pasar Batik, beberapa diantaranya karena fasilitas di pasar yang masih minim jika dibandingkan dengan Pusat Grosir serta banyaknya bus pariwisata yang justru lebih memilih membawa rombongan wisatawan untuk berkunjung ke Pusat Grosir dibandingkan ke Pasar Batik. Kondisi tersebut tentunya menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah.

Sejarah Kampung Batik Trusmi

Sejarah tentang Kampung Trusmi memiliki banyak versi. Namun ada dua versi yang lebih mendekati kebenaran dan dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Cirebon. Versi pertama sebagaimana tertulis dalam wikipedia, yaitu kisah tentang Putra dari Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang bernama Pangeran Cakrabuana. Setelah melepaskan jabatannya  dan menjadi murid Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, Pangeran Cakrabuana hijrah ke Cireban dan menetap di kawasan yang kini disebut Desa Trusmi. Untuk dapat menempati kawasan tersebut, dia harus terlebih dahulu menaklukkan penguasa sebelumnya yaitu Ki Gede Trusmi. Selanjutnya, Ki Gede mengabdi dan menjadi murid Pangeran  Cakrabuana yang berjuluk Ki Buyut Trusmi.

Saat itu Ki Buyut juga mendirikan padukuhan di sebelah Barat Keraton Pakungwati yang jaraknya sekitar 7 km. Di padukuhan tersebut terdapat sebuah balong atau kolam keramat yang airnya sangat jernih. Sumber air yang ada di balong tersebut terus menerus mengalir atau semi sehingga disebut Terus Semi yang kemudian disingkat Trusmi.

Motif Batik Mega Mendung (wikipedia)

Versi kedua berkisah tentang Putra Pangeran Carbon Girang yang bernama Pangeran Manggarajati yang juga dikenal dengan nama Bung Cikal. Saat masih kecil, Bung Cikal sudah ditinggal mati oleh ayahnya, sehingga oleh Sunan Gunung Jati diangkat anak. Selanjutnya, oleh Sunan Gunung Jati, Bung Cikal dititipkan kepada Pangeran Cakrabuana.

Meski masih kecil, Bung Cikal memiliki kesaktian yang luar biasa. Hanya saja, dia memiliki kebiasaan buruk, yaitu merusak tanaman-tanaman yang ditanam Pangeran Cakrabuana. Namun, pada akhirnya Bung Cikal memperoleh pelajaran, yaitu setiap kali dia memetik dan mencabuti tanaman, maka tanaman tersebut langsung bersemi kembali. Karena itu, tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Padukuhan Terus Semi yang kemudian disingkat menjadi Trusmi. Padukuhan ini berubah menjadi sebuah desa pada saat meletusnya Perang Diponegoro atau sekitar tahun 1925.

Terlepas mana yang benar dari kedua kisah tersebut, masyarakat Cirebon mempercayai bahwa yang mengajarkan masyarakat Desa tersebut bercocok tanam dan membatik adalah Ki Gede Trusmi, murid dari Ki Buyut Trusmi. Itu sebabnya makam Ki Gede sampai sekarang masih terawat dengan baik. Masyarakat setempat bahkan selalu menggelar upacara Ganti Welit (mengganti atap) setiap setahun sekali dan upacara Ganti Sirap (mengganti dinding makam) setiap 4 tahun sekali.

Rute Menuju Kampung Batik Trusmi

Pintu Gerbang Kampung Batik Trusmi (foto: mommiesdaily.com)

Hanya butuh waktu sekitar 3,5 jam perjalanan bagi wisatawan yang berangkat dari Jakarta Selatan menuju kota Cirebon, atau sekitar 3 jam jika berangkat dari daerah Cawang atau Taman Mini, sehingga bisa dibilang cukup dekat. Itupun dengan kecepatan normal dan sudah termasuk berhenti di rest area.

Perjalanan dari Jakarta dapat ditempuh dengan melewati Tol Cikampek disambung Tol Cipali sejauh sekitar 103 km. Keluar dari Tol Cipali langsung masuk ke Tol Palimanan – Kanci, kemudian exit di pintu Tol Plumbon, tepatnya pintu keluar kedua. Begitu meninggalkan Tol Plumbon, Anda sudah masuk wilayah Cirebon. Lokasi Kampung yang dituju sekitar 1 kilometer dari pintu keluar Tol Plumbon.

Dengan rute yang sangat mudah tersebut, siapapun rasanya tidak mungkin tersesat, karena begitu keluar dari pintu tol akan banyak ditemui rambu penunjuk arah yang akan membawa wisatawan ke alamat yang dituju. Dengan mengikuti rambu tersebut, tidak berapa lama kemudian Anda akan tiba di sebuah gapura besar. Gapura  itulah yang menjadi penanda alias pintu masuk Trusmi.

Batik Tulis Motif Pesisiran Klasik yang Eksotis Produk Kampung Batik Trusmi (foto: mommiesdaily.com)

Siapapun akan langsung yakin kalau kawasan tersebut merupakan sentra batik karena di sana dapat dilihat deretan toko yang semuanya menjual dagangan yang sama yaitu produk tekstil khas Indonesia dengan berbagai jenis mulai dari batik tulis, cap dan printing. Beberapa toko yang ada di Pusat Grosir tersebut diantaranya adalah Hafiyan, IBR, Lebet Sibu, Lia, Mahkota, serta yang lain. Khusus untuk batik tulis didominasi oleh produk dari Trusmi sedang untuk batik cap dan printing mayoritas didatangkan dari Purwokerto, Solo serta Jogja.

Berburu Batik di Kampung Batik Trusmi

Pusat Grosir ini memang tempat yang paling banyak dikunjungi para wisatawan, karena bus-bus pariwisata mayoritas membawa penumpangnya ke tempat ini jika ingin berbelanja kain batik. Di Pusat Grosir ini pula lidah wisatawan akan dimanjakan dengan serangkaian kuliner khas Cirebon seperti Empal Gentong, Nasi Jamblang, Tahu Gejrot, Sego Lengko, Docan, Empal Asam, Pedesan Entog, Tahu Kuningan, Kerupuk Melarat, dan sejumlah makanan lainnya yang sulit ditemui di tempat-tempat lain.

Tapi jika ingin menuju ke Trusmi, dari Pusat Grosir perjalanan masih harus diteruskan hingga tiba di sebuah toko paling besar bernama “Batik Trusmi”. Toko seluas 1,5 hektar inilah milik dari Sally Giovanny, miliuner cantik asli Cirebon yang masih berusia 28 tahun, namun telah memiliki karyawan tetap sebanyak lebih dari 850 orang dan menggandeng 500 lebih pengrajin.

Antusiasme Wisatawan Berburu Batik Trusmi (foto: myzozieman.blogspot.co.id)

Toko tersebut bisa dibilang telah menjadi landmark serta one stop Shopping place karena di dalamnya tersedia beragam jenis dan motif kain batik serta oleh-oleh khas Cirebon. Selain sebagai pusat perbelanjaan, area parkir yang ada di toko tersebut juga bisa dijadikan sebagai tempat penitipan mobil jika ingin menjelajah Kampung Trusmi.

Kampung yang dimaksud sebenarnya hanya memiliki satu ruas jalan utama ditambah beberapa ruas jalan kecil. Rumah-rumah penduduk yang berjajar di kanan kiri jalan, sebagian digunakan untuk showroom dan masing-masing memiliki papan nama. Beberapa diantaranya adalah Jaya Abadi,Asofa, Nofa, serta yang lain.

Tidak perlu ragu untuk masuk ke salah satu rumah yang juga berfungsi sebagai showroom tersebut. Bila tujuannya memang ingin berburu produk tekstil khas Indonesia, justru sangat disarankan untuk keluar masuk rumah/showroom, karena masing-masing rumah memiliki kain dengan motif yang berbeda, sebab mereka memproduksinya sendiri secara khusus sehingga eksklusif.

Meski motif kain yang ditawarkan setiap toko berbeda, namun jenis koleksi yang dijual rata-rata sama, seperti blus dan bawahan wanita, dress, daster, baju gamis, berbagai jenis baju pria, seperti hem dan baju koko, baju untuk anak, sampai dengan busana keluarga seperti baju sarimbit alias couple dengan model-model terbaru. Bahan dari kain-kain batik tersebut juga terdiri dari berbagai jenis mulai dari yang biasa sampai yang bagus, seperti dobby, katun, embos sampai dengan sutra. Begitu juga dengan harganya, mulai dari yang termurah sekitar Rp.100.000-an sampai dengan yang termahal dengan harga lebih dari Rp.2 juta.

Kain Batik yang Dijemur Usai Diwarnai di Kampung Batik Trusmi (foto: Antara/Widodo S. Jusuf)

Berbelanja di rumah sekaligus showroom ini lebih direkomendasi dibandingkan di Pusat Grosir, karena pembeli dipastikan akan memperoleh produk-produk eksklusif karena tidak diproduksi secara masal sebagaimana batik cap dan printing dan dengan harga yang lebih murah untuk barang dengan kualitas yang sama jika dibandingkan dengan yang dijual di Pusat Grosir. Hanya saja jangan membeli per meter, karena batik tulis tidak diproduksi dan dijual meteran sebagaimana batik cap dan printing yang banyak dijual di Cihampelas Bandung, JMP Surabaya, atau di Mayestik dan Thamrin City yang ada di Ibukota Jakarta.

Berbagai motif batik khas Cirebonan Klasik dapat ditemui di tempat ini, seperti Ayam Alas, Gunung Giwur, Simbar Menjangan, Singa Payung, Patran Keris, Banjar Balong, Patran Kangkung dan sebagainya.   Namun jika ingin membeli yang benar-benar khas Trusmi ada 3 motif yang bisa dipilih yaitu: Motif Sawat Pengantin yang merupakan kain adat pernikahan, Paksin Naga Liman dengan gambar ular naga dan sayap burung serta motig Mega Mendung yang berbentuk awan dengan gradasi warna yang unik dan variatif.

Menjelajah kampung ini bisa dilakukan sejak pagi hingga malam hari, karena rumah-rumah yang dijadikan showroom tersebut buka sejak jam 08.00 dan tutup sekitar pukul 21.00 WIB. Tidak hanya berbelanja saja yang dapat dilakukan pengunjung di tempat ini, tapi juga melihat rumah-rumah tradisional milik warga dan melihat aktifitas warga dalam memproduksi batik, mulai dari membentangkan kain pada gawangan, mencairkan malam dalam wajan, menyaring malam, mencanting, mewarnai sampai dengan menjemur kain yang sudah melalui berbagai proses.

Jika hanya sekedar melihat masih belum merasa puas, pengunjung dapat belajar membatik dengan berkunjung ke Sanggar Katura yang ada di kampung ini. Di sana akan diajarkan secara lengkap tentang proses membuat kain batik, mulai dari awal sampai dengan finnishing, dan tidak hanya sekedar teori, tapi juga disertai praktek. Karena itulah Kampung Batik Trusmi tidak hanya sekedar wisata belanja, tapi juga wisata budaya dan edukasi. (*)