10 Gambar Wisata Gunung Agung Bali, Sejarah Meletus Tahun 1963 + Letak Lokasi Terkini Hari Ini 2017

Gunung Agung dari Kejauhan (foto: phinemi.com)
Gunung Agung dari Kejauhan (foto: phinemi.com)

Lokasi : Dusun Jungutan, Desa Bebandem, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali
Map: KlikDisini
HTM: Rp. 20.000/ orang
Buka/Tutup: 24 jam
Telepon:

Bali merupakan pulau yang dipenuhi dengan keindahan alam pesisir yang luar biasa. Tidak hanya sampai disitu, keindahan alam dari pulau ini dari sisi dataran tingginya juga tak kalah menakjubkan. Perpaduan birunya daerah pesisir dan dataran tinggi yang menghijau membuat Bali tidak pernah sepi oleh para wisatawan.

Tak tanggung-tanggung, wisatawan yang kerap mengunjungi pulau yang juga disebut dengan Pulau Dewata ini juga berasal dari luar Indonesia atau wisatawan mancanegara. Semakin banyak wisatawan mancanegara, maka semakin banyak pula devisa negara bertambah. Dengan demikian, devisa negara akan berjalan dengan baik.

Bali juga terkenal dengan kulinernya yang selalu bisa membuat orang penasaran. Rasanya yang begitu khas dan penggunaan rempah yang beraneka ragam, membuat masakan khas Bali memiliki cita rasa yang luar biasa. Semua masakan juga pada umumnya masih dibuat dengan menggunakan tungku kayu yang dimana memberikan rasa yang berbeda dari makanan yang dimasakan dengan kompor gas.

Saat ini, terdapat berita duka di Bali, karena Gunung Agung tengah meletus. Gunung ini sebenarnya juga menjadi salah satu objek wisata alam dan tidak kali pertama gunung ini meletus. Sebelum membahas mengenai keindahan Gunung Agung, mari bersama tengok sejarah dari gunung ini.

Sejarah dan Lokasi Gunung Agung

Gunung Agung Tertutupi Sedikit Awan (foto: tribunnews.com)
Gunung Agung Tertutupi Sedikit Awan (foto: tribunnews.com)

Gunung Agung Bali merupakan gunung yang terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Gunung ternyata juga menjadi gunung tertinggi di pulau Bali. Tinggi gunung ini mencapai 3.031 meter di atas permukaan laut.

Gunung Agung merupakan gunung berapi yang aktif hingga saat ini dan bahkan saat ini (2017) tengah meletus. Gunung berapi ini bertipe stratovolcano. Stratovolcano merupakan gunung berapi yang tinggi dengan puncak mengerucut. Bentuknya yang demikian tentu mengingatkan kita dengan bisul yang sama-sama dapat mengeluarkan “isi’.

Di lereng Gunung Agung ternyata terdapat pura yang amat penting bagi umat beragama Hindu. Pura ini bernama Pura Besakih. Pemandangan Gunung Agung dari pura ini terbilang unik, karena terlihat mengerucut dengan sempurna. Namun sebenarnya puncak dari gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang berbentuk lingkaran dan lebar.

Riwayat Letusan Gunung Agung hingga Tahun 2017

Fakta yang ada menyatakan bahwa Gunung Agung Bali sudah meletus beberapa kali, untuk tepatnya yaitu sebanyak 5 kali termasuk tahun ini (2017). Letusan pertama terjadi pada tahun 1808.

Tahun tersebut, Gunung Agung memuntahkan abu dan batu apung dengan jumlah yang terbilang sangat banyak. Tentu bukan hal yang mengagetkan, karena material letusan berasal dari perut bumi.

Letusan selanjutnya terjadi pada tahun 1821. Letusan pada tahun ini tidak diketahui data secara terperinci nya namun yang pasti letusannya masih dalam kisaran normal dan dinilai tidak terlalu hebat dari tahun 1808.

Letusan kembali berlanjut di tahun 1843. Letusan ini diawali dengan sejumlah gempa bumi kemudian Gunung Agung mengeluarkan isinya yang berupa abu vulkanik, pasir serta batu apung.

120 tahun Gunung Agung tenang. Namun, ketika memasuki bulan Februari 1963, gunung ini meletus kembali hingga bulan Januari tahun  1964. Penduduk lokal mendengar suara letusan yang keras pada 18 Februari 1963 kemudian disusul dengan asap tebal yang keluar dari puncak Gunung Agung.

Lava Meluber Keluar (foto: bali.tribunnews.comm)
Lava Meluber Keluar (foto: bali.tribunnews.comm)

Abu panas dan gas dikeluarkan oleh Gunung Agung dari letusannya hingga mencapai ketinggian 20.000 meter. Keberadaan material-material di langit hingga dapat mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk.  Sinar matahari yang terhalang ini membuat suhu udara di lapisan stratosfer turun hingga 6oC.

Peristiwa ini menyebabkan penurunan rata-rata suhu di bumi bagian utara hingga mencapai 0,4 oC pada tahun 1963 hingga 1966. Abu belerang hasil dari letusan Gunung Agung bertebangan ke seluruh dunia, bahkan abu ini hingga mencapai Greeenland. Hal ini dapat terlihat dari kandungan sulfur acid yang ada di dalam lapisan es di sana.

Mungkin daerah di Indonesia lain juga merasakannya, seperti daerah Jakarta, Surabaya, Situbondo, Bekasi, Senayan City, Jogja, Lampung, Cirebon, Galaxy Mall, Depok, Pasar Senen, Kwitang, Yogyakarta, Arion, toko buku, Atrium dan Depok, mungkin juga mempengaruhi valas saat itu.

Lahar mulai dialirkan oleh Gunung Agung pada 24 Februari 1963 dari bagian utaranya. Muntahan gunung ini terus mengalir selama 20 hari dan jaraknya hingga 7 km. Letusan Gunung Agung  kembali menggema pada 17 Maret 1963. Letusan ini bahkan setara dengan letusan Gunung Vesuvius yang meluluhlantahkan Kota Pompeii, Italia yaitu sebesar VEI 5.

Namun letusan ini tidak berhenti sampai situ saja,  pada  17 Mei 1963 Gunung Agung kembali meletus. Dari seluruh rangkaian letusan-letusan dari Gunung Agung ini menimbulkan korban jiwa sebanyak 1.148 orang dan 296 orang luka-luka.

Namun kelihatannya Gunung Agung masih belum puas dengan letusannya. Ketenangan selama 54 tahun seakan menjadi titik batas kesabaran Gunung Agung. Gunung ini kembali menunjukkan aktivitasnya pada bulan September 2017.

Badan Nasional penanggulangan bencana sudah membuat deklarasi zona eksklusif sepanjang 12 km di sekitar gunung berapi ini pada 24 September 2017.

Gunung ini kembali mengeluarkan magmanya yang dimulai pada hari Sabtu 25 November 2017  dan meningkat sekitar 1,5 hingga 4 km di atas ke puncak dan melayang ke arah selatan serta membersihkan daerah sekitar dengan lapisan abu tipis yang gelap.

Abu ini menyebabkan maskapai penerbangan membatalkan semua penerbangan yang menuju ke Australia dan Selandia Baru dan batuk.  Letusan kedua kembali terjadi pada 26 November 2017. Eruption atau erupsi terkini sudah pernah masuk dalam level waspada dengan status yang selalu update secara online oleh BMKG.

Kabar terbaru dari gunung sudah bukan misteri lagi, karena news selalu baru tiap harinya dan bahkan dapat dilihat dari Youtube secara live sehingga hoax sangat minim. Gambar denah dari gunung ini juga dapat dilihat secara jelas di Google Earth maupun di Wikipedia, sehingga tidak menjadi misteri maupun mitos lagi.

Keindahan Gunung Agung

Keindahan di Puncak Gunung Agung (foto: pegi-pegi.com)
Keindahan di Puncak Gunung Agung (foto: pegi-pegi.com)

Sekarang mari kita beralih membahas mengenai keindahan yang ditawarkan Gunung Agung. Ketika berada di puncak Gunung Agung maka kita akan disuguhkan dengan pemandangan dari alam Pulau Bali yang berada di sekitar Gunung ini secara sempurna.

Tidak hanya diperlihatkan pemandangan alam di sekitar Gunung Agung melainkan juga pemandangan dari Gunung Rinjani yang terletak jauh di Pulau Lombok. Keindahan pemandangan dari Puncak Gunung Agung tidak hanya sampai situ saja.

Rangkain gugusan kepulauan Nusa Penida ternyata juga menjadi salah satu bagian pemandangan yang terangkai begitu  alami.  Pantai Sanur dan Danau Batur juga dapat terlihat dengan menawan dari ketinggian 3.000 meter diatas permukaan air laut ini.

Jalur Pendakian Gunung Agung

Jalur Pendakian Gunung Agung (foto: wisatagunung.com)
Jalur Pendakian Gunung Agung (foto: wisatagunung.com)

Tentu untuk mencapai puncak tertinggi di Bali ini diperlukan pendakian. Untuk mendaki Gunung Agung bisa dilakukan dari beberapa jalur pendakian pendakian, yaitu dapat dimulai dari jalur Selatan, Tenggara dan Barat Daya.

Pendakian dari jalur Selatan dimulai dari Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Tempat singgahnya adalah di Pura Pasar Agung.  Pura ini dapat ditempuh melalui Pasar Selat.  Jalur pendakian selanjutnya adalah dari Tenggara yakni dari Budakeling kemudian melewati Nangka.

Jalur pendakian Barat Daya merupakan jalur pendakian yang paling sering digunakan oleh para pendaki.  Jalur pendakian ini dimulai dari Pura Besakih yang berada di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.

Namun jalur ini telah mencetak beberapa peristiwa yakni kecelakaan dan hilangnya beberapa pendaki.  Peristiwa ini akhirnya mengharuskan menggunakan jasa pemandu jika memang ingin melanjutkan pendakian di Gunung Agung dan peraturan ini dimulai sejak Mei 2009.

Estimasi waktu untuk mendaki Gunung Agung jika dimulai dari Pura Pasar Agung maka membutuhkan waktu perjalanan kurang lebih 4 jam hingga ke ketinggian 2.850 m sedangkan jika dari Pura Bekasih membutuhkan waktu perjalanan kurang lebih 6 jam hingga ke Puncak Gunung Agung yakni Puncak tertingginya 3.031 meter.

Cara Menuju ke Gunung Agung

Cahaya dari Ufuk Timur (foto: villa-bali.com)
Cahaya dari Ufuk Timur (foto: villa-bali.com)

Untuk ke Gunung Agung maka dapat ditempuh melalui jalur Pura Bekasih.  Jika dimulai dari Denpasar maka ambillah arah Utara dengan estimasi jarak kurang lebih 25 km. Gunakan peta atau aplikasi Maps untuk mempermudah menuju alamat gunung ini berada.

Terdapat jalur lain untuk menuju ke Gunung Agung yakni melalui Kota Semarapura Kabupaten Klungkung.  Jalur ini dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum yang tarifnya mulai dari Rp. 7.000 hingga Rp. 10.000.

Harga Tiket Masuk dan Estimasi Biaya Pendakian Gunung Agung

Berada di Puncak 1 (foto: ichirent.blogspot.co.id)
Berada di Puncak 1 (foto: ichirent.blogspot.co.id)

Harga tiket masuk ke Gunung Agung adalah Rp. 20.000 namun ini belum termasuk estimasi biaya untuk pendakian. Dari data yang berhasil dihimpun estimasi biaya pendakian terbagi menjadi dua yaitu di ketinggian sekitar 3.000 mdpl dan 2.000 mdpl.

Biaya yang dibutuhkan untuk ketinggian 3.000 mdpl kurang lebih Rp. 1.200.000 per orang, sedangkan untuk di ketinggian 2.000 mdpl kurang lebih Rp. 950.000 per orang. Biaya ini sudah termasuk dengan peralatan pendakian seperti lampu penerangan, makan pagi, pemandu, transportasi dari hotel ke Gunung Agung pulang pergi.

Untuk memudahkan pendakian maka sangat disarankan untuk menggunakan jasa paket wisata agar semuanya terlaksana dengan baik dan tentunya tanpa ada pemborosan biaya yang berarti. Selain itu juga paket wisata sudah pasti terestimasi dengan baik jadi kita hanya perlu menyiapkan badan serta biaya saja.

Informasi Pendakian

Sunset di Guung Agung (foto: butterflyontherun.wordpress.com)
Sunset di Gunung Agung (foto: butterflyontherun.wordpress.com)

Mendaki Gunung Agung dari jalur barat maka membutuhkan waktu untuk sampai di Puncak tertinggi kurang lebih 5 hingga 6 jam.  Waktu tersebut terbilang sangat lama dan tentu ini dibutuhkan stamina yang sangat kuat, sehingga jalur pendakian ini sangat disarankan bagi orang-orang yang memang memiliki stamina serta fisik yang kuat.  Biasanya pendakian dimulai sekitar jam 12.00 malam.

Mendaki Gunung Agung via jalur Selatan maka kita hanya akan sampai di puncak dua saja yakni di ketinggian 2.000 meter.  Walaupun selisih ketinggian hampir 1.000 meter, tetapi pemandangan yang ditawarkan juga tidak kalah  memukau.

Ketinggian ini sudah membawa kita berada di atas awan dan dapat menyaksikan keindahan kawah Gunung Agung.  Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak dua ini kurang lebih 3,5 hingga 4 jam.  Biasanya pendakian ini dimulai pada pukul 01.45.

Lebih Favorit Puncak 2

Wisatawan lokal lebih menggemari mendaki Gunung Agung di puncak dua. Alasan utamanya adalah tentu waktu yang lebih singkat serta tenaga yang dibutuhkan jauh lebih sedikit daripada ke puncak satu.

Puncak dua juga sangat direkomendasikan bagi para pemula atau yang pertama mendaki gunung. Pendakian juga dapat dilakukan lebih cepat, tergantung persetujuan dengan pemandu.

Tidak Hanya jadi Tujuan Wisata

Tempat Persembahayangan (foto: tribunnews.com)
Tempat Persembahayangan (foto: tribunnews.com)

Pemeluk agama Hindu juga mengeramatkan Gunung Agung.  Umat Hindu memiliki upacara persembahyangan dalam tingkatan paling tinggi.  Tempat persembahyangan ini adalah di puncak Gunung Agung.

Informasi tambahan, jika waktu pendakian bersamaan dengan ritual agama tersebut maka waktu pendakian dapat diundur atau dimajukan, tergantung persetujuan kedua belah pihak yakni pendaki dengan pemandu.

Informasi yang Harus Diketahui

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Gunung Agung merupakan salah satu gunung yang dikeramatkan oleh umat Hindu, maka ada peraturan yang harus diketahui sebelum melakukan pendakian.

Dalam Kepercayaan umat Hindu sapi merupakan hewan yang   di sucikan.  Dengan demikian para pendaki tidak diperbolehkan membawa makanan yang terbuat dari daging sapi.

Selama pendakian juga diharapkan para pendaki berbicara dengan kata-kata yang sopan. Selain itu ketika pendakian mungkin saja kita kehausan dan tanpa sengaja kita menemukan mata air, tetapi mata air tersebut merupakan air suci yang tidak boleh sembarangan diambil.

Jika memang sangat terpaksa maka kita bisa meminta tolong pada pemandu untuk melakukan persembahyangan terlebih dahulu agar dapat mengambil air suci tersebut. Semua peraturan ini sebaiknya dilakukan sebagai wujud toleransi kita terhadap umat beragama lain.

Gunung Agung itu Kramat bagi Umat Hindu

Kawah Gunung Agung (foto: youtube.com)
Kawah Gunung Agung (foto: youtube.com)

Gunung Agung bagi masyarakat Hindu Bali  dipercayai sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Masyarakat sekitar juga mempercayai bahwa Gunung ini menjadi salah satu tempat istana Dewata.  Kepercayaan inilah yang membuat Gunung ini menjadi tempat yang dikeramatkan atau disucikan.

Di lereng Gunung Agung terdapat sebuah pura yaitu Pura Besakih. Pada tahun 1963 pura ini juga tak luput dari lelehan lahar letusan Gunung Agung.  Masyarakat  sekitar percaya bahwa ini adalah peringatan dari Dewata.

Menilik dari Catatan sejarah yang ada ternyata Gunung Agung dan pura bekasih merupakan dua hal yang saling berkaitan. Kedua tempat ini erupakan pondasi awal terciptanya masyarakat Bali.  Maharisi Markandeya merupakan orang pertama yang memimpin pelarian Majapahit ke Bali dan menetap di sini.

Sebelumnya terdapat gelombang Exodus yang dipimpin oleh Markandeya. Gelombang berisikan  800 orang namun semua orang tersebut tewas karena wabah penyakit. Informasi ini diambil dari Custodian of The Sacred Mountains: Budaya dan Masyarakat di Pulau Bali yang dikarang oleh Thomas A. Reuter.

Objek Wisata lain Di Sekitar Gunung Agung

Di sekitar daerah Gunung Agung juga terdapat objek wisata lain. Lokasinya yang terbilang berdekatan ini membuat objek-objek wisata ini juga terkena dampak dari letusan Gunung Agung. Berikut ini adalah beberapa objek-objek wisata tersebut.

1. Taman Ujung

Taman ini sebenarnya tempat peristirahatan Raja Karangasem yang terakhir. Di taman ini terdapat bangunan yang sebenarnya merupakan sebuah istana. Arsitekturnya memiliki perpaduan antara Bali dan Eropa. Perpaduan arsitektur ini menciptakan suatu kombinasi yang sangat unik dan tentunya bagus.

Bangunan ini juga dikeliling kolam,  sehingga membuatnya tampak jauh lebih cantik. Keindahhannya ini juga membuat tempat ini sering dijadikan sebagai lokasi foto-foto. Baik untuk selfie maupun yang lainnya.

2. Pantai Candidasa

Sunset di pantai ini terbilang sangat cantic. Tidak dapat dipungkiri jika pemandangan tersebut selalu bisa membuat hati ikut terbawa suasana. Sinar matahari yang bersinar lembut berwarna oranye kekuningan seakan memberikan kesan hangat dan menenangkan.

Pantai Candidasa termasuk pantai yang terkenal dari daerah Karangasem. Di pantai ini, wisatawan dapat menyewa perahu nelayan untuk mengelilingi perairan di pantai ini. Perahu nelayan di sini juga disebut dengan jukung.

3. Pura Besakih

Tentu pura ini sangat dekat dengan Gunung Agung, karena memang berloasi di lerengnya. Pura ini juga termasuk dalam pura ketiga terbesar di Pulau Bali dan pura ini juga terkena dampak dari letusan Gunung Agung.