10 Gambar Keraton Kasepuhan Cirebon, Tiket Masuk, Alamat Letak Museum dan Masjid

Keraton kasepuhan cirebon silsilah sejarah gambar alamat tiket masuk makalah foto letak museum masjid pusaka didirikan oleh terletak peninggalan kerajaan wikipedia jawa barat daerah yang kota 45114 indonesia berada adalah jam buka dari ada arsitektur artikel akulturasi pendiri acara banten tampak depan city west java lokasi fungsi gapura gerbang gelar htm open hours info isi istana jaman dulu jimat keturunan keluarga keunikan logo luas legenda lambang lukisan merupakan obyek wisata budaya misteri mitos dukung pembentukan provinsi peta poto rumah royal riwayat surakarta solo sultan sumur 2010 simbol tempo terdapat tanah tempat video website yogyakarta nama tentang
Keraton Kasepuhan (foto: hipwee.com)

Lokasi:  JL. Kasepuhan No.43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat, 45114
Map: KlikDisini
HTM:  Senin – Jumat (Pelajar Rp.10.000, Wisatawan Domestik Rp.15.000, Wisman Rp.50.000), Sabtu, Minggu dan hari Libur (Pelajar Rp.15.000, Wisatawan Domestik Rp.20.000, Wisman Rp.70.000)
Buka/Tutup: 08.00 – 18.00 WIB
Telepon: 0231 – 225511

Berkunjung ke Kota Cirebon wajib hukumnya untuk singgah ke Keraton Kasepuhan, karena keraton inilah ikon dari Cirebon sekaligus menjadi tonggak sejarah dari Kota Udang ini. Berlokasi di perbatasan Provinsi Jawa Barat dengan Jawa Tengah dan dibangun di tengah-tengah perpaduan antara budaya Timur dan Barat serta ketiga agama besar yang banyak dianut masyarakat pada masa itu, yaitu Islam, Hindu dan Buddha, membuat gaya arsitektur bangunan dan benda-benda yang mengisi kompleks istana merupakan akulturasi dari beberapa budaya dan agama yang berbeda.

Patung Singa di Halaman Depan Keraton Kasepuhan Cirebon (foto: kemdikbud.go.id)

Hal itulah yang menjadi daya tarik dari istana ini, sehingga banyak dikunjungi wisatawan, baik yang sekedar ingin menghabiskan waktu libur maupun untuk tujuan penelitian dan penulisan makalah. Banyaknya wisatawan tersebut membuat info, foto serta video dari salah satu istana tertua di kawasan West Java ini dapat dengan mudah ditemui di dunia maya, baik lewat website, utamanya situs-situs wisata serta berbagai sosial media, karena tidak sedikit para wisatawan yang mengabadikan kunjungan mereka ke Keraton Kasepuhan dengan mengunggahnya ke media-media online.

Rute Perjalanan Menuju Keraton Kasepuhan Cirebon

Berkunjung ke Keraton Kasepuhan Cirebon sama sekali tidak sulit, karena lokasi obyek wisata sejarah ini berada di daerah perkotaan, tepatnya di JL. Kasepuhan No.43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, 45114. Sehingga selain dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi dapat juga dengan memanfaatkan transportasi umum.

gerbang masuk pelataran siti hinggil (foto: tindaktandukarsitek.com)

Pengunjung yang berangkat dari Jakarta dengan menggunakan kendaraan pribadi, tinggal masuk ke Tol Cikampek dilanjutkan ke Tol Cipali dengan jarak sekitar 103 km. Exit dari Tol Cipali menuju ke Tol Palimanan – Kanci dan keluar di pintu kedua Tol Plumbon. Saat keluar dari Tol Plumbon itulah Anda sudah berada di wilayah Cirebon sehingga tinggal mengikuti rambu petunjuk arah untuk sampai ke alamat yang dituju.

Bagi pengunjung yang memanfaatkan sarana transportasi umum, jika naik kereta api, dari Jakarta dapat menuju ke Stasiun Gambir dan naik KA Cirebon Express atau KA Argo Jati lalu turun di Stasiun Cirebon. Dapat juga dengan menuju ke Stasiun Senin lalu naik KA Tegal Express, Matramajaya, Tawang Jaya atau KA Majapahit dan turun di Stasiun Perunjakan Cirebon. Di kedua stasiun yang ada di Cirebon tersebut perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkot.

Untuk yang menggunakan bus, dari Jakarta bisa menuju ke Terminal Pulogadung, Kampung Rambutan, Pasar Minggu serta beberapa terminal lain yang menyediakan bus antar kota jurusan Cirebon. Sesampai di Terminal Harjamukti Cirebon, lanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot.

Sejarah Singkat Keraton Kasepuhan Cirebon

 

Siti Inggil Kraton Kasepuhan sekitar tahun 1920 – 1933 (foto: Georg Friedrich Johannes Bley)

Mengupas tentang sejarah Keraton Kasepuhan, tidak dapat dilepaskan dari asal-usul Cirebon City dan silsilah raja-raja di Kerajaan Cirebon. Sebagaimana artikel yang tertulis dalam wikipedia, Kerajaan Cirebon adalah kerajaan pertama di Jawa Barat yang bercorak Islam. Kerajaan ini terletak di kawasan Pantai Utara Pulau Jawa yang merupakan daerah perbatasan antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Hal tersebut menciptakan akulturasi kebudayaan, sehingga Cirebon memiliki budaya sendiri yang khas dan merupakan perpaduan antara Budaya Sunda dengan Budaya Jawa.

Berdasarkan naskah Babad Tanah Sunda, Carita Purwaka Caruban Nagari serta legenda dan mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, Cirebon awalnya merupakan sebuah dukuh kecil yang didirikan Ki Gedeng Tapa, sebelum akhirnya berubah menjadi kawasan yang ramai dan ditempati para pendatang. Asal usul nama Cirebon memiliki dua versi. Pertama berasal dari kata “Caruban” yang dalam bahasa Sunda memiliki arti “Campuran”, disebabkan karena wilayah ini ditempati oleh pendatang yang merupakan campuran dari berbagai daerah, suku, bahasa, adat istiadat dan agama.

bangunan utama keraton kasepuhan (foto: tindaktandukarsitek.com)

Versi kedua didasarkan pada profesi hampir semua masyarakat pada saat itu, yaitu sebagai nelayan. Sebagaimana umumnya para nelayan, selain pergi melaut untuk mencari ikan, aktifitas mereka sehari-hari juga membuat terasi. Kata “Cirebon” konon berasal dari kata “Cai” yang artinya “air” dan “Rebon” (Udang Rebon) yang merupakan bahan untuk membuat terasi.

Jika yang mendirikan Cirebon adalah Ki Gedeng Tapa, maka pendiri Kerajaan Cirebon  adalah cucunya yang bernama Pangeran Cakrabuana (1430 – 1479) yang juga keturunan Penguasa Kerajaan Pajajaran. Cakrabuana adalah putra pertama dari istri pertama Prabu Siliwangi yang yang juga putri dari Ki Gedeng Tapa yang bernama Subanglarang. Sebagai putra mahkota, Pangeran Cakrabuana yang juga memiliki nama Raden Walangsungsang, semestinya mewarisi tahta Kerajaan Pajajaran. Namun karena dia memeluk agama Islam, mengikuti agama yang dianut oleh ibunya, membuat Cakrabuana tersingkir dari tampuk kekuasaan dan Kerajaan Pajajaran sepeninggal Prabu Siliwangi dipimpin oleh Prabu Surawisesa (anak Prabu Siliwangi dari istri keduanya, Nyai Cantring Manikmayang).

Tajug Agung (mushola agung) Keraton Kasepuhan dengan pos Bedug Samogiri di sebelah kiri (foto: wikipedia)

Setelah pergi meninggalkan Pajajaran, Cakrabuana mendirikan sebuah padukuhan di kawasan Kebon Pesisir sekitar abad ke-15 – 16. Di tempat itu pula pada tahun 1430 M, dia membentuk pemerintahan dan mendirikan Dalem Agung Pakungwati. Nama Pakungwati diambil dari nama putrinya, yaitu Ratu Dewi Pakungwati yang kemudian diperistri Sunan Gunung Jati.  Pernikahan antara Sunan Gunung Jati dengan Dewi Pakungwati ini melahirkan seorang putra yang bernama Pangeran Mas Zainul Arifin. Cucu dari Cakrabuana inilah yang mendirikan Keraton Kasepuhan pada tahun 1529 M yang awalnya bernama Keraton Pakungwati.

Mengenal Keraton Kasepuhan Cirebon

Pasca terjadinya konflik internal keluarga istana pada tahun 1969, Kesultanan Cirebon terbagi menjadi dua, yaitu Kesultanan Kanoman yang menempati Keraton Kanoman yang didirikan Pangeran Mohammad Badridin yang bergelar Sultan Anom I pada tahun 1678 M, dan Kesultanan Kasepuhan yang menempati Keraton Kasepuhan. Ketika terjadi perpecahan tersebut, Kesultanan Kasepuhan dipimpin Sultan Maulana Pakuningrat XIII yang kemudian meninggal pada 30 April 2010 dan digantikan oleh Putranya, Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat yang memimpin Kesultanan Kasepuhan sampai sekarang.

Bangunan Mande Pengiring di Keraton Kasepuhan (foto: wikipedia)

Selain menjadi tempat tinggal keluarga Kesultanan Kasepuhan, bangunan keraton yang menempati lahan dengan luas 22 hektar, saat ini juga dijadikan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya, sama halnya dengan Keraton Yogyakarta,  Keraton Surakarta atau Solo, Keraton Banten serta istana-istana peninggalan kerajaan-kerajaan pada jaman dulu yang hingga kini masih berdiri kokoh dan terpelihara dengan baik.

Sebagai objek wisata, Keraton Kasepuhan dapat dikunjungi wisatawan sejak buka pada jam 08.00 hingga 18.00. Mereka yang berkunjung ke bangunan bersejarah ini dikenakan tiket masuk yang besarnya tergantung dari hari kunjungan dan asal wisatawan. Pada hari Senin – Jumat, HTM bagi pelajar Rp.10.000, wisatawan domestik Rp.15.000 dan wisman Rp.50.000. Sedang pada hari Sabtu, Minggu dan hari Libur, pelajar dikenakan tiket Rp.15.000, wisatawan domestik Rp.20.000 dan wisman Rp.70.000.

Wisatawan yang akan mengeksplorasi seluruh kawasan keraton wajib didampingi oleh pemandu wisata yang mengenakan pakaian adat, guna menjaga hal-hal yang tidak diinginkan terhadap benda-benda bersejarah yang ada di lingkungan keraton. Tidak ada patokan harga yang pasti untuk jasa yang diberikan para pemandu tersebut, namun biasanya para pengunjung memberikan imbalan sebesar Rp.20.000 – Rp.50.000.

Museum Pusaka Keraton Kasepuhan (foto: Tri Ispranoto/detikcom)

Gambaran secara singkat peta dari bangunan yang menghadap ke arah Utara ini, bagian depannya terdapat alun-alun. Tempo dulu bernama Alun-alun Sangkala Buana yang setiap hari Sabtu digunakan untuk latihan keprajuritan, pentas perayaan dan acara kesultanan dan tempat rakyat mendengarkan pengumuman dari istana. Di sebelah Barat bangunan terdapat masjid megah bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang dibangun para wali. Sedang di Timur alun-alun terdapat pasar yang disebut Pasar Kasepuhan.

Napak Tilas Jejak Sejarah di Keraton Kasepuhan Cirebon

Terdapat dua pintu gerbang untuk dapat memasuki area Keraton Kasepuhan yang hanya dapat dimasuki oleh wisatawan saat open hours, yaitu gerbang utama di sebelah Utara serta gerbang kedua di sisi Selatan kompleks bangunan. Gerbang Utara berbentuk jembatan sehingga disebut “Kreteg Pangrawit” yang artinya “Jembatan Kecil” sedang gerbang kedua disebut “Lawang Sanga” yang artinya “Pintu Sembilan”.

Setelah melewati pintu gerbang, dua bangunan yang dapat dilihat adalah Pancaratna dan Pancaniti. Pancaratna yang ada di sebelah Barat berukuran 8 x 8 meter dikelilingi pagar berteralis besi yang dulu dipakai untuk menghadap para pemimpin desa. Sedang Pancaniti yang ukurannya sama dan juga berteralis besi ada di sebelah Timur yang dulu memiliki fungsi sebagai tempat pengadilan dan digunakan para perwira untuk melatih prajurit.

Salah Satu Sudut Bagian Dalam Keraton Kasepuhan Cirebon (foto: pergidulu.com)

Saat memasuki kompleks istana, pengunjung akan menjumpai bangunan tinggi yang dikelilingi tembok bata kokoh. Bangunan yang bernama Siti Inggil (Tanah Tinggi) ini dibangun pada tahun 1529 saat pemerintah kerajaan dipegang oleh Sunan Gunung Jati. Siti Inggil dilengkapi dengan dua gapura bermotif bentar dengan gaya arsitektur zaman Majapahit. Gapura Sebelah Utara bernama Gapura Adi dan yang sebelah Selatan bernama Gapura Benteng. Pada bagian bawah Gapura Benteng inilah dapat dibaca Candra Sangkala bertuliskan Kuta Bata Tinata Banteng yang yang memiliki arti angka tahun 1451. Sedang di pelataran Siti Inggil terdapat bangunan tambahan untuk bersantai berupa meja batu berbentuk segi empat yang dibuat tahu 1800-an.

Pada kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan yang masing-masing memiliki nama dan fungsi sendiri-sendiri. Kelima bangunan tersebut adalah: Mande Malang Semirang yang menjadi tempat Sultan melihat pelaksanaan hukuman dan latihan keprajuritan, Mande Pendawa Lima yang menjadi tempat Pengawal Pribadi Sultan, Mande Pengiring untuk tempat Pengiring Sultan, Mande Semar Tinandu yang jadi tempat Penasihat Sultan dan Mande Karasemen yang digunakan sebagai tempat Penabuh Gamerlan. Saat ini hanya Mande Karasemen saja yang masih difungsikan, yaitu untuk memainkan Gamelan Sekaten yang hanya ditabuh dua kali dalam setahun saat Idul Fitri dan Idul Adha.

Diantara area Siti Inggil dan Tajug Agung (Mushollah Besar) dibatasi tembok bata, begitu juga dengan Tajug Agung dengan area utama Keraton Kasepuhan. Di dalam area utama istana yang tampak jelas dari depan, terdapat beberapa bangunan, diantaranya adalah: Taman Dewandaru yang bentuknya melingkar dan di dalamnya terdapat Pohon Soko terbesar di Indonesia yang usianya sudah ratusan tahun, dua buah Patung Macan Putih yang merupakan logo atau lambang Kerajaan Pajajaran, dua buah bangku dan meja serta sepasang meriam yang bernama Ki Santomo dan Nyi Santoni.

Di area utama istana ini pula terdapat bangunan induk keraton yang sampai sekarang masih digunakan oleh Sultan untuk melakukan berbagai kegiatan, Bangunan Sri Manganti yang berfungsi sebagai tempat untuk menunggu keputusan raja, Lunjuk untuk melayani tamu sebelum menghadap raja, Tugu Manunggal, Museum Kereta dan Museum Pusaka yang merupakan bangunan terbaru yang diresmikan pada 10 Juni 2017. Dengan sejumlah bangunan dan fasilitas yang ada di Keraton Kasepuhan, terdapat beberapa aktifitas menarik yang dapat dilakukan wisatawan di kompleks istana, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

Kereta Kencana Singa Barong di Keraton Kasepuhan (foto: patainanews.com)

– Melihat benda-benda bersejarah peninggalan Jaman Pajajaran Akhir, Masa Pemerintahan Sunan Gunung Jati sampai dengan peninggalan Masa Kesultanan, mulai dari Sultan Sepuh I – Sultan Sepuh XIV. Beberapa benda bersejarah tersebut diantaranya adalah 150 Naskah Kuna, mulai yang terbuat dari daun lontar sampai dengan daluang atau kertas yang saat itu didatangkan dari Eropa. Isi dari Naskah Kuna tersebut berbagai macam, seperti Ajaran Tarekat, Sastra, Pengobatan, Ramalan, Jimat, dan sebagainya. Selain itu juga dapat dilihat Baju Besi Prajurit Portugis yang merupakan hasil rampasan perang saat Fatahillah yang diperintah Sunan Gunung Jati menaklukkan Portugis di Sunda Kelapa (Jakarta). Benda-benda bersejarah tersebut dapat disaksikan di Museum Pusaka yang merupakan salah satu museum termodern di Indonesia karena dilengkapi audio visual, ruang souvenir, cafetaria serta 23 CCTV.

– Di Museum Kereta, wisatawan dapat melihat Kereta Kencana Singa Barong yang memiliki bentuk artistik dan merupakan perpaduan antara unsur budaya dan agama. Keunikan dari Kereta Kencana ini, pada jamannya merupakan kereta tercanggih di Indonesia karena telah dilengkapi dengan sistem suspensi layaknya mobil, sehingga nyaman saat dikendarai. Bentuk sayap yang menghiasi kereta juga dapat bergerak pada saat kereta berjalan sehingga dapat berfungsi sebagai kipas angin bagi raja yang duduk di dalam kereta.

– Di bangsal istana, pengunjung selain dapat melihat sebuah ruang yang mewah berhias lampu kristal, lukisan-lukisan kuna, serta ukiran-ukiran berwarna hijau, juga dapat disaksikan keramik-keramik dari China dan Eropa berusia 4 abad lebih yang menempel pada dinding ruangan.

– Sumur Agung yang ada di kompleks Keraton Kasepuhan menjadi salah satu tempat favorit yang banyak dikunjungi wisatawan, karena air dari sumur yang tidak pernah kering selama lebih dari 6 abad ini dulu dijadikan untuk mandi, minum dan berwudlu Sunan Gunung Jati serta para wali lainnya. Saat ini sumur tersebut masih tetap difungsikan untuk berbagai upacara royal tradition, seperti Midodareni, Siraman Tujuh Bulan dan upacara tradisional yang lain.

Dengan melakukan napak tilas, menjelajah ruang demi ruang dan bangunan demi bangunan di Keraton Kasepuhan Cirebon, pengunjung tidak hanya akan dibawa ke masa 4 – 6 abad yang lalu, tapi juga akan disadarkan akan kebesaran bangsa ini disaat masih terpecah-pecah menjadi beberapa wilayah dibawah pemerintahan Kerajaan dan Kesultanan, salah satunya adalah Kerajaan Cirebon. (*)