10 Gambar Istana Maimun Medan, Sejarah Misteri Peninggalan Kerajaan? Letak Alamat + Tiket Masuk Lokasi

Gambar istana maimun medan sejarah peninggalan kerajaan adalah misteri foto letak alamat cerita lokasi tempo dulu kota sumatera utara tiket masuk indonesia terdapat merupakan dari terletak aceh arsitektur apa artikel arsitek berasal berada negara buka jam berapa bahasa inggris provinsi berdiri berdirinya baju dibangun pada tahun didirikan masa pemerintahan dalam dimana
Istana Maimun (foto: indonesiatravelguides.com)

Lokasi:  JL. Brigjend Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara, 20151
Map: KlikDisini
HTM:  Dewasa Rp.5.000, Anak-anak Rp.3.000
Buka/Tutup: 08.00 – 17.00 WIB
Telepon: (061) 4524244

“Berkunjung ke Medan serasa belum lengkap sebelum mengunjungi Istana Maimun dan Masjid Al Mahsun”. Ungkapan tersebut tidak salah, karena kedua objek wisata tersebut tidak hanya sekedar menghadirkan keindahan corak arsitektur yang luar biasa, tapi juga dapat dijadikan sebagai pijakan untuk mempelajari adat istiadat dan budaya Melayu. Karena alasan itulah, kedua objek wisata ini tidak hanya dikunjungi wisatawan lokal, tapi juga wisatawan dari negeri seberang yang memiliki akar budaya Melayu, seperti malaysia, Brunai Darussalam dan Singapura .

Keindahan dari istana Maimun sendiri memang layak untuk dinikmati, dikagumi sekaligus diapresiasi dan dipelajari, karena Istana ini termasuk salah satu dari beberapa istana peninggalan kerajaan-kerajaan masa lampau yang hingga kini masih berdiri kokoh. Tidak hanya bangunan yang megah dan indah yang disuguhkan Istana Maimun kepada wisatawan, tapi juga adat istiadat dan budaya, karena sebagaimana Keraton Yogyakarta dan Keraton Solo, Kesultanan Deli yang mendirikan istana ini sampai sekarang masih eksis meski sudah tidak lagi memiliki kekuatan politik.

Dengan masih terbangunnya Kesultanan, maka berbagai bentuk upacara adat dan serangkaian aktifitas budaya Melayu masih terjaga dan terpelihara, seperti acara Rawatib Adat (semacam wiridan dan berdoa bersama) yang dilaksanakan setiap malam Jumat, Silaturahmi antar Keluarga Besar Kesultanan yang digelar dua kali dalam setahun, upacara pernikahan dan berbagai bentuk aktifitas adat dan budaya yang lain.

Istana Maimun yang Megah (foto: panduanwisata23.blogspot.co.id)

Besarnya pengaruh Kesultanan Deli dalam menjaga dan mempertahankan budaya Melayu  itulah yang kemudian diapresiasi oleh pemerintah dengan ditempatkannya Festival Keraton Nusantara XI di Istana Maimun, yang dibuka oleh Presiden Jokowi pada 26 November 2017. Sebab, sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden, kekayaan adat istiadat dan budaya, bukan hanya mengandung keindahan dan nilai estetika yang tinggi, tapi juga mengandung pesan-pesan simbolik yang kaya akan makna dan dapat dijadikan sebagai landasan etik dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah dan Mitos Istana Maimun

Indah dan megahnya Istana Maimun, tidak terlepas dari kebesaran dan kejayaan Kesultanan Deli tempo dulu. Kejayaan itulah yang membuat banyak artikel, literatur dan berbagai catatan sejarah ditulis, baik dalam Bahasa Melayu maupun yang sudah ditranslate dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Selain catatan sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, beredar pula berbagai cerita mitos yang masih menjadi misteri di tengah-tengah masyarakat. Berikut sedikit catatan sejarah dan mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat tentang Kesultanan Deli dan Istana Maimun.

Catatan Sejarah Istana Maimun

Berdasarkan catatan sejarah, sekitar tahun 1612 M, ada seorang Laksamana yang berasal dari Kerajaan Aceh membawa pasukannya dan bermaksud memerangi Kerajaan Haru atau Aru yang berada di Sumatera Timur. Catatan sejarah ini merujuk dari berbagai sumber, baik sumber dari Kerajaan Aceh sendiri maupun yang ditulis oleh Portugis. Kerajaan Aceh tersebut konon merupakan kerajaan besar  yang memiliki tentara sangat kuat.

Selama berbulan-bulan, pasukan dari Aceh tersebut mengepung Kerajaan Aru, sebelum akhirnya terjadi pertempuran sengit selama 6 minggu, yang dimenangkan oleh pasukan dari Aceh. Penyerangan Tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 1619, Kerajaan Aceh yang dipimpin Sri Paduka Gocah Pahlawan, kembali melakukan penyerangan. Meski pada saat itu Kerajaan Aru dibantu oleh Pasukan Portugis, namun kuatnya pasukan tempur Kerajaan Aceh membuat Kerajaan Aru berhasil ditaklukkan. Sejak saat itulah Sri Paduka Gocah Pahlawan berkuasa di Sumatera Timur dan mengganti nama Kerajaan Aru menjadi Kesultanan Deli.

Istana Maimun Tahun 1890 – 1905 (foto: Koleksi Tropenmuseum)

Kesultanan Deli selanjutnya dipindahkan dari Sumatera Timur ke Sumatera Utara, tepatnya di Medan pada 26 Agustus 1888. Setelah berpindah lokasi itulah Kesultanan Deli mulai memperkuat pemerintahan, hingga didirikan Istana Maimum oleh Sultan Deli ke-8, yakni Sultan Mahmud Al-Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan putra sulung dari pendiri Kota Medan, yaitu Sultan Mahmud Perkasa Alam. Alasan dipindahkannya pusat pemerintahan tersebut disebabkan karena pusat pemerintahan sebelumnya terletak di dataran rendah yang sering diterjang banjir setiap kali terjadi air pasang.

Istana yang usianya sudah lebih dari satu seperempat abad tersebut, saat ini masih berdiri kokoh dan menjadi objek wisata yang tidak pernah sepi dari pengunjung, karena selain memiliki benang merah dengan sejarah perkembangan kebudayaan Melayu juga karena bangunan dari istana tersebut yang artistik dengan arsitektur yang memadukan unsur-unsur kebudayaan dunia.

Mitos Istana Maimun

Dibalik kemegahan dan keindahan Istana Maimun, terdapat sejumlah mitos dan legenda yang mengiringi berdirinya istana tersebut. Salah satu diantaranya adalah mitos tentang kisah Meriam Puntung atau Meriam Buntung. Meriam unik peninggalan Kesultanan Deli ini, menurut cerita dari mulut ke mulut, konon berkaitan dengan Kerajaan Aceh, sebelum Kesultanan Deli dibangun.

Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa dahulu Raja yang memimpin Kerajaan Aru memiliki dua orang putra dan seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Hijau. Berita tentang kecantikan Putri Hijau ini tersebar kemana-mana hingga sampai di telinga Penguasa Kerajaan Aceh. Karena itulah Raja Acehpun berniat untuk mempersunting putri Kerajaan Aru.

Namun sayang, pinangan Raja Aceh ditolak oleh Putri Hijau. Merasa dipermalukan dan harga dirinya diinjak-injak, Raja Aceh pun marah dan membawa pasukannya untuk menyerang Kerajaan Aru. Dalam peperangan tersebut Kerajaan Aru berhasil ditaklukkan.

Meriam Puntung di Istana Maimun (foto: 1001wisata.com)

Karena tidak ingin menjadi tawanan perang Kerajaan Aceh, salah seorang adik Putri Hijau merubah diri menjadi sebatang meriam. Dia melakukan perlawanan dengan menembak ke segala arah dan membabibuta. Akibat terlalu seringnya menembak, meriam tersebut akhirnya meledak dan terbagi dua. Sisi depan meriam terlontar ke Tanah Karo, sedang sisanya terpental ke Labuhan Deli.

Bagian depan meriam yang terlontar ke Tanah Karo, sebelumnya diketemukan di daerah Seberaya sebelum akhirnya dipindah ke Sukanalu Kabupaten Tanah Karo disebabkan karena peninggalan bersejarah tersebut tidak terurus. Sedangkan bagian meriam yang terpental ke Labuhan Deli, dipindah ke halaman Istana Deli dan ditempatkan di sebuah ruangan berukuran 4 x 6 meter2. Banyak masyarakat yang mempercayai bahwa Meriam Puntung dapat mendatangkan berkah. Kepercayaan tersebut membuat banyak masyarakat yang datang dan menaburkan aneka bunga di atas badan meriam.

Kembali pada cerita mitos yang berkembang, setelah mengetahui adiknya yang menjelma menjadi meriam pecah menjadi dua, adik Putri Hijau yang satunya lagi menjelma menjadi seekor naga. Naga tersebut tidak melakukan perlawanan, melainkan menyelamatkan kakaknya dengan membawa pergi Putri Hijau entah kemana.

Selain mitos tersebut di atas, masih banyak mitos-mitos lain yang berhubungan dengan Kerajaan Deli dan Istana Maimun. Selain itu berkembang pula informasi di tengah-tengah masyarakat bahwa di bawah Istana Maimun terdapat terowongan bawah tanah. Konon ada salah seorang ahli waris Istana yang bernama Mayul, di tahun 1985 mencoba memasuki terowongan tersebut. Namun, upayanya tersebut menemui kesulitan dan tidak berhasil menjelajahi seluruh terowongan, karena kurangnya oksigen di dalam terowongan. Hanya saja, menurut Mayul, dia sempat melihat banyak ruangan di dalam terowongan termasuk penjara bawah tanah.

Mayul juga memperkirakan bahwa terowongan tersebut menghubungkan kawasan Kota Matsum dengan Taman Sri Deli dan Masjid Raya Al-Mahsun, sebab dahulu terdapat sebuah istana di Jalan Puri dan terowongan tersebut pda zaman dahulu kerap dilalui tentara Melayu.

Rumah Meriam Puntung di Istana Maimun (suziey.com)

Sayangnya, misteri tentang keberadaan terowongan bawah tanah tersebut hingga kini masih menjadi tanda tanya bagi masyarakat umum, karena masyarakat umum tidak diperkenankan melihat apalagi memasuki terowongan tersebut disebabkan karena untuk menuju terowongan harus menyusuri ruang-ruang yang ditempati oleh Keluarga Sultan, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang diperkenankan masuk.

Sekilas Tentang Istana Maimun

Istana Maimun dibangun oleh Kesultanan di Deli, dimana Kesultanan Deli sendiri merupakan Kesultanan besar yang didirikan Tuanku Panglima Gocah Pahlawan di sebuah wilayah yang disebut “Tanah Deli”. Tanah Deli tersebut berada di kawasan yang kini ditempati Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang.

Asal-usul nama “Deli” menurut cerita yang berkembang di masyarakat, berasal dari nama sebuah tempat yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Aru yang bernama Deli Tua. Cerita tersebut berbeda dengan terombo Kesultanan Deli yang menyebutkan bahwa nama “Deli” berasal dari nama sebuah tempat di India yaitu “Delhi” yang merupakan tanah kelahiran Sri Paduka Gocah Pahwalan.

Kesultanan Deli yang berdiri pada tahun 1632 hingga kini masih tetap eksis dan dipimpin oleh Sultan Deli XVI yang masih berumur 12 tahun bernama Aria Mahmud Lamanjiji, yang menggantikan ayahandanya Letkol Tito Otternan yang meninggal akibat terjadinya kecelakaan Pesawat CN-235 pada tahun 2005 di Bandara Malikus Saleh, Lhokseumawe. Saat diangkat menjadi Sultan, Aria Mahmud Lamanjiji masih berumur 8 tahun. Meskipun Kesultanan Deli masih hidup sampai sekarang, namun tidak lagi memiliki kekuatan politik, pasca berakhirnya Perang Dunia II dan diproklamirkan kemerdekaan Negara RI.

Pintu Masuk Bangunan Utama Istana Maimun (foto: thetravelearn.com)

Sebagaimana data dan kondisi yang ada sekarang, Istana Maimun yang megah memiliki bangunan seluas 2.772 meter2 dengan panjang 75,5 meter dan tinggi bangunan 14,4 meter, dikelilingi oleh halaman seluas 4,5 hektar. Bangunan istana yang menghadap ke Utara ini terdiri atas 3 bagian, yaitu bagian induk dan bagian sayap yang ada di kanan kirinya. Bangunan sayap itulah yang sejak tahun 1946 hingga kini ditempati oleh keluarga istana, sementara bangunan induk dibuka untuk umum sebagai objek pariwisata.

Istana Maimun dibangun pada masa pemerintahan Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah, pengerjaannya memakan waktu selama hampir 3 tahun, dimulai pada 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Luasnya bangunan istana ditambah perpaduan gaya arsitektur Timur dan Eropa dengan material bangunan yang mewah membuat siapapun akan langsung mempunyai anggapan, betapa kaya rayanya Kesultanan Deli pada masa itu.

Terkait dengan arsitek yang merancang bangunan istana, terdapat dua versi yang menjelaskan, pertama dirancang oleh seorang arsitek dari negara Italia yang bernama Ferrari dan kedua diarsiteki oleh T.H. Van Earp, seorang Kapten Belanda. Gaya arsitektur Istana Maimun menjadi sangat unik dan menarik, karena memadukan gaya Melayu – Islam dengan arsitektur bergaya  Timur Tengah, Mughal dan Hispanik. Istana yang terdiri atas 2 lantai ini terbagi menjadi 40 ruangan, 20 ruang berada di lantai bawah sedang sisanya tersebar di lantai atas.

Selain kedua versi tersebut, ada lagi versi lain, terkait dengan arsitek yang merancang bangunan istana. Menurut versi yang terakhir ini, Istana Maimun dibangun oleh Belanda, menyusul pesatnya perkembangan perkebunan tembakau yang ada di Deli, sehingga banyak investor asing yang tertarik untuk membuka perkebunan di sana. Pesatnya perkembangan perkebunan tembakau juga membuat Deli diserbu oleh para pendatang  dari daerah-daerah lain, termasuk pendatang dari etnis Tionghoa dan Tamil.

Singgasana Sultan Deli di dalam Istana Maimun (foto: (grupsengklekn3.blogspot.com)

Melihat prospek yang bagus di tanah Deli, Belandapun tertarik dan menawarkan investasi kepada Kesultanan Deli. Hal tersebut ditindaklanjuti dengan dilakukannya perjanjian pada 14 November 1875 yang isinya memberi keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil alih seluruh “pekerjaan” yang berlangsung di tanah Deli sekaligus memungut pajak dan bea cukai. Sebagai kompensasi, Belanda akan memberikan prosentase dari hasil aktifitas tersebut kepada Kesultanan Deli. Perjanjian kerjasama antara Kesultanan Deli dengan Belanda ini ditandatangani Sultan Ma’mun Al Rasyid, Raja Muda Tengku Sulaiman, Datuq Setia Raja, Datuq Abdul Rahman Sri Diraja, Datuk Ranta, Datuk Rustam serta Kejuruan Muda dari Percut.

Istana Maimun konon didirikan oleh Belanda sebagai hadiah dan bentuk rasa terima kasih Belanda kepada Sultan Mahmud Al Rasyid karena telah diberi ijin untuk membuka lahan perkebunan dan memegang monopoli perdagangan tembakau di wilayah Deli. Sebab dalam perkembangannya, tembakau Deli ternyata sangat disukai di negara-negara Eropa, sehingga memberikan keuntungan yang besar kepada Belanda. Keuntungan besar itulah yang sebagian  kemudian diberikan kepeda Kesultanan Deli, sehingga Kesultanan Delipun menjadi kaya raya.

Berdasarkan informasi dari pemandu wisata yang ada di Istana Maimun, Istana tersebut dibangun oleh Belanda dengan mendatangkan arsitek bernama T.H. Van Erp dari Italia. Jadi bukan diarsiteki oleh Ferrari dan T.H. Van Erp juga bukan seorang kapten, melainkan seseorang berkewarganegaraan Italia yang bekerja sebagai KNIL (Konijnlijk Netherlands Indische Leger) atau Tentara Hindia Belanda. Baru setelah Istana Maimun berdiri, Belanda mendatangkan Ferrari, seorang arsitek dari Italia untuk menyempurnakan dan mendesain ulang Istana Maimun agar terlihat lebih megah dan lebih mewah.

Bukti dari dimulainya pengerjaan pembangunan Istana Maimun, dapat dilihat oleh wisatawan pada saat memasuki bangunan  induk. Di sana terdapat sebuah prasati berbahasa Belanda yang isinya menjelaskan bahwa peletakan batu pertama dalam proses pembangunan Istana Maimun dilakukan oleh Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada tanggal 26 Agustus 1888.

Kemegahan dan keindahan Istana Maimun, dapat dinikmati oleh wisatawan dengan membayar tiket seharga Rp.5.000 untuk dewasa dan Rp.3.000 untuk anak-anak. Istana ini buka untuk umum setiap hari pada jam 08.00 – 17.00 WIB. Dengan membayar tiket masuk yang cukup murah tersebut, wisatawan tidak hanya dapat melihat-lihat indahnya arsitektur dan koleksi benda-benda berharga yang tersimpan di dalam istana, tapi juga bisa mengambil gambar foto setiap detail ruangan, termasuk mengambil foto diri dan rombongan dengan latar belakang interior istana yang menakjubkan.

Mengagumi Keindahan Istana Maimun

Interior Istana Maimun yang indah (grupsengklekn3.blogspot.com)

Alamat dari istana peninggalan Kesultanan Deli ini berada di JL. Brigjend Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Letak istana yang cukup strategis dan berada di pusat kota membuatnya sangat mudah untuk dijangkau, baik dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Bagi wisatawan dari luar daaerah yang datang dengan naik pesawat, jarak Istana Maimun dengan Bandara Internasional Kualanamu sekitar 40 km, sedang untuk yang menggunakan kapal, jarak dari Pelabuhan Belawan menuju lokasi sekitar 28 km.

Setelah sampai di lokasi, pengunjung dapat membeli tiket, kemudian berjalan kaki melintasi halaman yang cukup luas untuk menuju ke bangunan istana. Begitu sampai di pintu gerbang istana, akan terlihat dominasi warna kuning di hampir setiap bagian istana, karena warna kuning sendiri merupakan warna kebesaran bagi Suku Melayu. Warna kuning tersebut tidak hanya menghiasi bagian eksterior tapi juga memenuhi interior ruangan termasuk singgasana Sultan Deli.

Selain dominasi warna kuning, nuansa Melayu sangat terasa pada desain pintu, balkon, desain gerigi dan lorong-lorong yang ada. Memasuki bagian dalam istana, wisatawan akan dibuat semakin takjub dengan keindahan desain interiornya, karena berbagai unsur arsitektur, mulai dari gaya arsitektur Melayu, Islam (Timur Tengah), Mughal dan Hispanik berpadu menjadi satu menghiasi dinding, lantai, pilar-pilar dan setiap sudut ruangan.

Tampak pula kalau bahan-bahan yang digunakan untuk membangun istana, menggunakan bahan-bahan yang istimewa dengan harga yang mahal, seperti marmer, ubin lantai, teraso serta yang lain. Begitu juga dengan perabot yang mengisi ruangan, terdiri dari barang-barang mewah, seperti lampu kristal, almari, meja, kursi, peralatan untuk menjamu para tamu seperti piring berukir dan gelas teh, serta berbagai aksesoris lainnya. Secara keseluruhan, benda-benda milik istana yang dipamerkan kepada para wisatawan, termasuk koleksi keris pusaka Sultan Deli memang tidak terlalu banyak. Namun sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan seperti apa kebudayaan Melayu pada waktu itu.

Di balairung atau bangunan induk yang memiliki luas 412 meter2, wisatawan juga dapat menyaksikan Singgasana Sultan Deli yang didominasi warna kuning berhiaskan lampu kristal bergaya Eropa pada bagian atasnya yang menerangi singgasana dan ruangan di sekelilingnya. Singgasana tersebut sampai sekarang masih difungsikan untuk seremoni dan acara-acara khusus, seperti penobatan Sultan atau disaat Sultan menerima sembah sujud dari keluarga kesultanan pada perayaan hari-hari besar Islam.

Pertunjukkan Musik Melayu di Istana Maimun (foto: panduanwisata23.blogspot.co.id)

Mengamati lebih teliti lagi bagian dalam istana, akan terlihat bagian atap yang berbentuk arcade atau bentuk melengkung semacam kurva dengan ketinggian 5 – 8 meter. Lengkungan arcade yang populer dengan sebutan Pilar Persia tersebut banyak ditemui pada bangunan-bangunan yang ada di Timur Tengah, Turki dan India yang mengisyaratkan kentalnya nuansa Islam di Kesultanan Deli.

Gaya arsitektur berbeda dapat ditemui pada bagian pintu serta perabotan istana yang banyak mengusung gaya arsitektur Mughal dan Hispanik sehingga semakin mempercantik tampilan interior istana. Perabotan-perabotan tua seperti meja, kursi dan almari tua yang menghiasi bagian dalam, memiliki detail yang rumit dan tampak kalau dibuat dengan sangat detail. Begitu juga dengan hiasan interior yang kaya akan warna dan detail, menghadirkan tatanan yang indah, rapi dan eksklusif.

Pada bagian tengah ruangan, tepatnya di sisi sebelah kanan, terdapat tempat duduk lebar berwarna kuning yang dulu digunakan oleh Sultan dan permaisuri untuk duduk santai. Sementara di bufet dan di sepanjang dinding ruangan, terpajang foto-foto para Sultan yang memimpin Kesultanan Deli serta foto-foto anggota keluarga kesultanan dalam jumlah yang cukup banyak.

Selain menikmati indahnya bangunan istana dan koleksi peninggalan Kesultanan Deli, wisatawan juga dapat menyewa baju adat Melayu dan berfoto dengan latar belakang Singgasana Sultan atau dengan latar belakang interior istana serta perabotan yang eksklusif. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa baju adat? Tidak mahal. Cukup dengan membayar Rp.10.000 untuk seperangkat baju adat.

Ada lagi satu suguhan yang dapat dinikmati oleh wisatawan saat berkunjung ke Istana Maimun, yaitu pertunjukan Musik Melayu. Awalnya pertunjukan musik ini hanya dilakukan pada acara-acara tertentu saja, yaitu pada saat berlangsungnya pertemuan Keluarga Kesultanan yang dilaksanakan secara rutin dua kali dalam setahun atau pada saat keluarga Sultan menggelar acara-acara khusus, seperti upacara pernikahan.

Foto dengan Mengenakan Pakaian Adat Melayu di Istana Maimun (foto: pegipegi.com)

Namun kini, pertunjukan musik melayu tersebut ditampilkan setiap hari pada jam 11.00 – 12.00 dan jam 14.00 – 15.00. Pertunjukan yang ditampilkan di dekat pintu masuk tersebut dimainkan oleh 3 orang yang masing-masing memainkan gitar, gendang serta akordion. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu daerah, untuk menyatukan imajinasi wisatawan dengan suasana istana. Para wisatawan sendiri dapat menikmati pertunjukan musik tersebut sambil duduk santai di kursi yang tersedia di area luar pintu.

Setelah menikmati bagian dalam istana, sempatkan pula untuk berjalan keluar menuju sisi sebelah kanan istana. Di sana terdapat sebuah bangunan mungil berbentuk rumah khas Batak dengan ukuran. 4 x 6 meter2.  Di dalam bangunan itulah dapat dijumpai Meriam Puntung atau Meriam Buntung dihiasi aneka bunga pada bagian tubuh meriam. Bunga-bunga tersebut ditebarkan para pengunjung yang mempercayai kesakralan dari benda keramat tersebut.

Berkunjung ke Istana Maimun terasa masih belum lengkap sebelum singgah ke Masjid Raya Medan atau Masjid Al Mahsun, karena masjid ini merupakan bagian dari sisa-sisa kejayaan Kesultanan Deli dan juga dibangun oleh Sultan Mahmud Al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Masjid Al Mahsun lokasinya di Jalan Sisingamangaraja yang berhadap-hadapan dengan istana dan berjarak sekitar 100 meter.

Masjid Al Mahsun dibangun sekitar 15 tahun setelah pembangunan Istana Maimun. Proses pembangunan dimulai pada  21 Agustus 1906 dan selesai pada 10 September 1909 yang menghabiskan dana sekitar 1 juta Gulden. Masjid kerajaan sengaja dibuat megah, karena dalam pandangan Sultan, kemegahan masjid jauh lebih utama dibandingkan kemegahan istana.

Arsitek Masjid Raya Al Mahsun sama dengan perancang desain Istana Maimun, yaitu Van Erp, namun dalam proses pengerjaan ditangani oleh JA Tingdeman. Kemewahan dari masjid ini dapat dilihat dari bahan-bahan yang digunakan yang sebagian diimport dari luar negeri. Batu marmer untuk dekorasi misalnya, didatangkan dari Italia dan Jerman, kaca patri diimport dari Negeri China dan lampu dari Perancis.

Masjid  berbentuk segi delapan ini memiliki sayap di semua penjuru mata angin, dengan gaya arsitektur memadukan gaya Melayu, Maroko, Timur Tengah dan Eropa. Keempat sayap tersebut dilengkapi dengan beranda beratap tinggi dan kubah berwarna hitam untuk mempercantik keberadaan kubah utama. Desain kubah ini mengingatkan akan kubah-kubah masjid yang ada di Turki.

Jendela-jendela masjid terbuat dari kayu dan kaca patri yang dibuat tahun 1890 – 1914, sisa peninggalan Art Nouveau. Seluruh ornamen, mulai dari dinding, tiang-tiang, permukaan lengkungan dan plafon berhias bunga dan tetumbuhan. Sedang bagian mihrab, terbuat dari marmer berhias atap kubah runcing. Secara keseluruhan desain interior masjid ini memadukan model bangunan kerajaan-kerajaan Islam pada abad pertengahan di negara Spanyol serta gaya arsitektur masjid yang ada di Arab Saudi, Iran serta Mesir.

Tidak salah jika Sultan Mahmud Al-Rasyid Perkasa Alamsyah mengatakan bahwa, kemegahan masjid jauh lebih utama dibandingkan kemegahan istana, karena hal tersebut dia buktikan lewat bangunan Istana Maimun dan Masjid Al Mahsun. (*)