10 Gambar Danau Linting Medan, Alamat Deli Serdang Tiga Juhar, Misteri Sejarah Wisata + Jalan Menuju Lokasi

Danau linting medan deli serdang lokasi tiga juhar alamat sumut misteri sejarah wisata sumatera utara patumbak gambar jalan menuju letak map kisah peta rute gua denah di dimana delitua memakan korban cerita daerah mana air terjun pelangi google stm hulu hilir hantu info johar jembatan kabupaten kota kedalaman kelebihan keunikan koordinat maps foto poto pesona profil pemandangan rekreasi terletak tanjung morawa tempat tentang tragedi
Danau Linting (foto: agenqq.blogspot.co.id)

Lokasi:  Desa Sibunga-bunga, Desa Gunung Manumpak dan Desa Durian IV Mbelang, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara
Map: KlikDisini
HTM:  Rp.5.000
Buka/Tutup: 08.00 – 17.00 WIB

Pemandian air panas cukup banyak ditemui di Indonesia, namun danau dengan air panas (hidrotermal) merupakan objek yang langka, karena jumlahnya dapat dihitung dengan jari, dua diantaranya adalah Segara Anak di Gunung Rinjani yang hanya dapat dikunjungi oleh para pendaki, karena berada pada ketinggian 2.003 mdpl serta Danau Linting yang terletak di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara.

Sebagai objek wisata yang secara fisik terbilang langka, Danau Linting sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk mengundang wisatawan. Apalagi keindahan pemandangan danau dengan warna air yang terlihat berubah-ubah antara biru dan hijau ini tidak kalah dari danau-danau lainnya yang ada di Indonesia.

Namun sayang, keindahan dan keunikan tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal, baik dari sisi fasilitas yang jauh dari kata ideal maupun dari sisi infrastruktur yang bisa dibilang memprihatinkan. Kondisi itulah yang membuat Danau Linting semakin tenggelam oleh nama besar Danau Toba yang berada di provinsi yang sama.

Belum diketahui alasan yang pasti, mengapa keberadaan Danau Linting cenderung diabaikan, sementara potensi yang dimiliki danau ini cukup besar. Bisa jadi karena pemerintah setempat menganggap bahwa nama besar Danau Toba yang sudah mendunia tidak mungkin dapat disaingi oleh Danau Linting, sehingga konsentrasi pengembangan industri pariwisata di Sumut lebih terkosentrasi ke Danau Toba.

Air Danau Linting yang Berwarna Hijau Kebiru-biruan (foto: panduanwisata.id)

Pendapat yang mengatakan kalau Danau Toba sulit bahkan tidak mungkin disaingi oleh objek wisata manapun yang ada di Sumatera Utara, memang tidak salah, mengingat Toba memang sangat fenomenal dalam segala hal. Namun, membiarkan sebuah objek wisata tanpa adanya upaya perawatan dan pengembangan merupakan kesalahan yang besar, karena tidak sedikit objek-objek wisata yang semula tidak dilirik sama sekali oleh wisatawan, tapi begitu digarap dengan serius dan dikembangkan dengan maksimal mampu menyedot perhatian banyak wisatawan.

Terlebih Danau Linting menjadi bagian dari Provinsi Sumut dengan lokasi yang relatif dekat dari Kota Medan. Jika dikembangkan dengan maksimal, bukan tidak mungkin objek wisata ini menjadi tempat persinggahan wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Danau Toba, atau sebaliknya, menjadi tempat persinggahan terakhir setelah puas menjelajahi Danau Toba, sebelum take off ke daerah asal masing-masing.

Setidaknya, jika Danau Linting menjadi objek wisata yang lebih menarik dari yang ada saat ini, akan dapat dijadikan sebagai tempat rekreasi alternatif oleh masyarakat lokal, sehingga wisatawan tidak menumpuk di kawasan Danau Toba. Karena menumpuknya wisatawan di satu lokasi, sedikit banyak akan dapat mengurangi kenyamanan saat berwisata.

Profil Singkat Danau Linting

Membentang di kawasan 3 desa yang ada di Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang, Danau Linting memiliki luas sekitar 1 hektar. Keberadaan danau ini praktis masih menjadi misteri yang belum terpecahkan karena tidak banyak data dan bukti sejarah yang bertutur tentang Danau Linting. Satu-satunya sumber yang bisa dijadikan rujukan tentang asal-usul danau ini adalah cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut dan kisah-kisah yang kurang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain itu, selama ini tidak banyak penelitian yang dilakukan terhadap danau ini, sehingga tidak ada info dan data resmi tentang Danau Linting.

Menurut cerita yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, dahulu kawasan yang saat ini dipenuhi air adalah sebuah perbukitan. Pada suatu hari tiba-tiba terdengar ledakan yang sangat keras disusul terjadinya gempa yang hebat. Menyusul setelah kejadian yang tanggal, bulan dan tahunnya tidak diketahui tersebut, kawasan perbukitan lenyap berganti dengan hamparan air yang kemudian disebut Danau Linting.

Pesona Danau Linting (foto: lihat.co.id)

Masih menurut penuturan warga setempat, dahulu konon pernah ada seorang peneliti asing yang mencoba untuk mengukur kedalaman danau dengan menggunakan alat semacam benang yang ditenggelamkan ke dalam air. Namun ketika alat tersebut sudah tenggelam lebih dari 100 meter, ternyata masih belum mencapai dasar danau sehingga pengukuran tersebut tidak dilanjutkan.

Terlepas dari benar tidaknya cerita tentang peneliti asing yang mencoba mengukur kedalaman danau, dengan hanya melihat sepintas lalu saja siapapun akan meyakini kalau Danau Linting sangat dalam. Hal tersebut bisa dilihat dari warna airnya yang kebiru-biruan yang terkadang berubah menjadi hijau serta tidak jarang merupakan perpaduan antara warna biru dengan hijau.

Dengan ukuran kedalaman yang masih belum dapat dipastikan, wisatawan disarankan untuk tidak berenang hingga ke tengah danau. Bila perlu tidak usah berenang sama sekali untuk mencegah berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan. Apalagi di sekitar kawasan danau tidak ada petugas atau tim SAR yang mengawasi akltifitas para pengunjung.

Larangan untuk tidak mandi di Danau Linting ini sebenarnya sudah bisa diketahui dari kepercayaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat yang menyebutkan bahwa danau ini dihuni oleh putri cantik. Karena itu, anak laki-laki tidak diperkenankan untuk mandi di danau, karena makhluk halus tersebut menyukai anak laki-laki yang akan dibawanya menuju ke dasar danau.

Terdapat pula kepercayaan untuk tidak bersikap sombong, berbicara kasar dan kotor pada saat berada di dekat danau, karena penghuni danau tidak menyukainya. Bila ada yang melanggar pantangan tersebut, ada kemungkinan penghuni danau akan menghukumnya dengan menenggelamkan  orang tersebut.

Mitos yang berkembang tersebut memang serupa dengan kisah tentang hantu yang sulit untuk dapat diterima akal, namun tidak ada salahnya untuk mematuhi kepercayaan yang berkembang karena selama ini Danau Linting memang telah memakan korban beberapa kali. Tragedi Danau Linting yang terakhir kali terjadi pada tanggal 8 Juli 2017, dimana  salah  seorang anak berumur 5 tahun, bernama Ibrahim Perangin Angin tenggelam dan mayatnya baru diketemukan 3 hari kemudian.

Tepi Danau Linting yang Eksotis (foto: wonderfulllfe.blogspot.co.id)

Jika berenang sedapat mungkin dihindari, lain halnya dengan berendam di tepi danau, justru sangat disarankan. Hal tersebut disebabkan karena Danau Linting memiliki air hangat dengan suhu sekitar 30 derajat Celcius. Karena memiliki air hangat, besar kemungkinan ada aktivitas vulkanik tepat di bawah dasar danau. Air hangat inilah yang menjadi kelebihan dari Danau Linting dibandingkan dengan danau-danau lain pada umumnya.

Selain airnya yang hangat, pemandangan di kawasan danau cukup dapat menyejukkan mata karena banyak pohon beringin dengan berbagai ukuran dan beberapa jenis pohon lainnya yang tumbuh di pinggir danau berbentuk bulat tersebut. Bentuknya yang bulat itulah konon yang membuat danau ini dinamakan Danau Linting, karena kata “melinting” memiliki arti “melingkar” sesuai bentuk danau yang bulat nyaris sempurna jika dilihat dari atas ketinggian.

Rute Menuju Danau Linting

Meski lokasi Danau Linting lebih dikenal berada di Desa Tiga Juhar, namun secara administratif menjadi bagian dari wilayah tiga desa, sehingga alamat yang tepat untuk lokasi danau ini adalah di Desa Sibunga-bunga, Desa Gunung Manumpak dan Desa Durian IV Mbelang, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Kabupaten Deli Serdang. Bagi wisatawan yang datang dari luar daerah, perlu untuk diketahui bahwa di Kabupaten Deli Serdang terdapat 2 kecamatan yang menggunakan nama Sinembah Tanjung Muda (STM), yaitu STM Hulu dan STM Hilir. Danau Linting terdapat di STM Hulu.

Dengan jarak sekitar 70 km dari Kota Medan, Danau Linting dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam. Jarak tersebut sebenarnya relatif dekat, namun karena rute yang harus ditempuh memiliki cukup banyak jalan persimpangan ditambah kurangnya papan petunjuk arah yang dapat membantu menuju ke lokasi, membuat wisatawan yang datang dari luar daerah atau luar provinsi disarankan untuk membawa peta bila perlu membuat gambar denah agar tidak sampai tersesat. Menjadi lebih aman lagi jika di sepanjang perjalanan senantiasa mengaktifkan smartphone dan mengakses google maps sambil sesekali memeriksa titik koordinat 3.229593, 98.7235657.

Wisatawan yang berangkat dari Kota Medan sebenarnya dapat memanfaatkan sarana transportasi umum dengan menggunakan Angkutan Pedesaan yang dapat ditemui di Terminal Amplas Medan dengan tarif sekitar Rp.20.000 perorang. Namun karena angkutan umum ini tidak berhenti tepat di depan tempat wisata, sehingga memaksa wisatawan untuk berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh menuju lokasi, maka disarankan untuk membawa kendaraan pribadi.

Jalan Berkelok Menuju Danau Linting (foto: beritasumut.com)

Terdapat dua rute yang dapat dilalui untuk menuju ke Danau Linting jika berangkat dari Kota Medan. Rute pertama dengan melewati  Delitua menuju ke Patumbak, setelah melewati Patumbak Anda akan menjumpai hamparan sawah yang hijau dengan latar belakang bebukitan. Baru kemudian melewati Perkampungan Talun Kenas, Siguci, Kurajurung disusul Tiga Johar.  Tidak lama kemudian Anda akan menjumpai Desa  Durian IV Mbelang, Gunung Manumpak serta Perkampungan Sibunga-bunga. Di tiga desa terakhir inilah letak dari Danau Linting.

Rute kedua dari Kota Medan adalah dengan melewati Simpang Terminal Amplas yang berada di Kecamatan Patumbak. Selanjutnya Anda akan sampai di Desa Talun Kenas sebelum dilanjutkan menuju ke Desa Siguci, Kota Jurung dan berakhir di Desa Sibunga-bunga.

Selain berangkat dari Kota Medan, perjalanan juga dapat diawali dari Lubuk Pakam dengan menyusuri Jalan Raya Galang menuju Bangun Purba, STM Hilir dan Tiga Johar, sebelum akhirnya memasuki kawasan 3 desa yang menjadi lokasi dari tempat wisata. Kota lainnya yang dapat dijadikan titik awal pemberangkatan adalah dari Tanjung Morawa menuju Bangun Purba, berlanjut ke Sibiru-biru hingga sampai STM Hilir dan Tiga Johar, baru kemudian masuk ke wilayah 3 desa tempat Danau Linting berada.

Di sepanjang perjalanan, wisatawan akan melewati jalan yang kondisinya naik turun dan memiliki beberapa kelokan tajam dengan kondisi yang sebagian rusak dan sebagian lainnya terdapat lubang mengangah. Meski demikian, hijaunya hamparan sawah, bebukitan, kebun karet, kebun kelapa sawit dan kebun kakao yang terbentang di kanan kiri jalan, dapat menjadi hiburan tersendiri untuk melupakan rasa kesal akibat kondisi jalan yang buruk.

Menikmati Pesona Danau Linting dan Beberapa Objek Wisata di Sekitarnya

Setelah membayar tiket dan memasuki area wisata, pemandangan pertama yang dijumpai wisatawan adalah hamparan air danau yang berwarna hijau kebiru-biruan berpagarkan pohon-pohon besar yang usianya sudah tua. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa danau ini memiliki umur yang sudah sangat tua, meski baru dimanfaatkan sebagai objek pariwisata dalam sepuluh tahun terakhir.

Ayunan di Pinggir Danau Linting (foto: piknikasik.com)

Pepohonan yang memagari pinggir danau tersebut selain dapat menjadi peneduh para wisatawan yang datang berkunjung, beberapa diantaranya juga dilengkapi dengan mainan ayunan. Ayunan tersebut dapat dimanfaatkan untuk bermain sambil melihat keindahan danau sekaligus dijadikan spot foto, karena berfoto di atas ayunan dengan latar belakang air danau yang biru akan terlihat sangat indah. Tidak hanya spot ayunan saja yang menarik untuk dijadikan background foto, masih banyak sudut-sudut lain di sekitar danau yang instagenic.

Bagi wisatawan yang datang dengan membawa bekal, dapat menggelar tikar di pinggir danau dan menikmati bekal bersama keluarga atau bersama dengan rombongan. Tidak perlu khawatir apabila tidak membawa alas untuk duduk, karena banyak warga sekitar yang menyewakan tikar. Anda bahkan tidak  perlu harus mencari tempat penyewaan tikar, karena merekalah yang akan datang menghampiri sambil menawarkan tikar yang disewakan seharga Rp.10.000 – Rp.20.000, tergantung dari  ukuran tikar.

Aktifitas lain yang tidak boleh ditinggalkan saat berkunjung ke Danau Linting adalah berendam di tepian danau sambil menikmati pemandangan sekitar dan airnya yang hangat. Tidak seperti pemandian air hangat pada umumnya, air Danau Linting sedikitpun tidak menebarkan aroma belerang, sehingga membuat nyaman mereka yang berendam. Kandungan belerang baru dapat diketahui jika air danau tersebut ditempelkan di ujung lidah. Dengan adanya kandungan belerang, berendam dihangatnya air Danau Linting selain sangat baik untuk kesehatan kulit juga dapat dijadikan sarana relaksasi untuk melancarkan aliran darah dan menghilangkan rasa lelah, pegal-pegal, encok, reumatik serta penyakit tulang yang lain.

Pada hari-hari biasa, Danau Linting tidak terlalu ramai, sehingga suasana yang menyelimuti sekeliling terasa tenang dan nyaman. Maksud tidak terlalu ramai adalah jumlah wisatawan yang datang masih belum ideal untuk sebuah tempat wisata, namun lebih dari cukup untuk menambah pemasukan dari warga sekitar yang mengais rejeki dengan mendirikan warung-warung  tidak jauh dari kawasan danau. Karena itu, bagi wisatawan yang tidak membawa bekal, tidak perlu cemas selama membawa uang dalam jumlah yang cukup. Hanya saja, untuk umat muslim mesti berhati-hati karena sebagian besar dari warung-warung tersebut menyajikan makanan yang tidak halal. Jadi sebaiknya membeli makanan kemasan pabrik.

Suasana yang tenang, nyaman dengan udara yang sejuk dan segar, semestinya sudah lebih dari cukup untuk merefresh kembali pikiran saat menghabiskan liburan di Danau Linting. Namun jika merasa masih belum cukup, dapat melanjutkan aktifitas berwisata dengan menjelajah beberapa objek wisata lain yang lokasinya tidak jauh dari Danau Linting. Berikut beberapa objek wisata yang berlokasi di dekat Danau Linting:

1. Gua Emas, Gua Perak dan 8 Kolam Puteri

Salah Satu Kolam dari 8 Kolam Puteri di Danau Linting (foto: kovermagazine.com)

Berjarak sekitar 100 – 200 meter dari Danau Linting, wisatawan dapat menemukan 3 objek wisata yang misterius yaitu Gua Emas, Gua Perak dan 8 Kolam Puteri. Ketiga objek wisata tersebut baru diketemukan pada bulan April 2013. Konon, pada suatu malam juru kunci Danau Linting bernama Antonius Sembiring bermimpi melihat cahaya kuning, biru, merah dan putih keluar dari dalam kolam dan berwujud seorang kakek dan nenek.

Dalam mimpi tersebut kakek dan nenek itu meminta agar juru kunci Danau Linting yang akrab dipanggil Bro ini membuatkan kolam pemandian untuk delapan putrinya, sambil menunjukkan lokasi yang harus digali. Makhluk gaib itu juga berpesan agar Bro menggali sendiri kolam tersebut, karena kolam itu nantinya memiliki khasiat sebagai obat. Jika Bro sampai meminta bantuan orang lain, maka kolam yang digali tidak akan pernah mengeluarkan air.

Karena mempercayai mimpi tersebut Bro pun merahasiakan mimpinya kepada siapa saja, termasuk kepada keluarganya, sampai dia dapat mewujudkan pesan kakek dari alam gaib. Ternyata benar, di atas tanah yang dia gali membentuk 8 kolam kecil berukuran 1 – 1,5 meter3, mengeluarkan air dengan suhu yang lebih panas dibandingkan suhu air Danau Linting. Air dari kolam yang kini diberi nama “8 Kolam Puteri” ini juga dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, utamanya penyakit kulit, encok, reumatik serta stroke.

Namun, dari 8 kolam yang ada, hanya ada 2 kolam yang boleh digunakan untuk berendam. Selebihnya hanya bisa digunakan untuk mencuci muka, karena 6 kolam yang lain menjadi milik putri-putri dari alam gaib dan digunakan oleh ke-8 putri tersebut untuk mandi. Diantara 8 kolam tersebut, ada satu kolam yang airnya disebut “Air Cinta”, karena jika air dari kolam tersebut digunakan untuk mencuci muka, maka mereka yang mencuci muka akan dapat segera memperoleh jodoh sesuai dengan yang diinginkan.

Selain membuatkan kolam untuk 8 putri dari alam gaib, atas petunjuk dari kakek dan nenek yang ditemuinya di alam mimpi, Bro juga berhasil menemukan dua buah gua yang menjadi kediaman kakek dan nenek tersebut. Salah satu gua diberi nama Gua Bulang dalam bahasa Karo (dalam bahasa Indonesia artinya Gua Kakek) yang kini dikenal dengan nama Gua Perak sedang satunya lagi diberi nama Gua Nini dalam Bahasa Karo (dalam bahasa Indonesia artinya Gua Nenek) yang kini dikenal dengan nama Gua Emas.

Kedua gua tersebut sangat unik karena di dalamnya terdapat fenomena alam yang sulit untuk bisa diterima dengan nalar. Di dalam Gua Bulang, udara yang menyelimutinya terasa sangat panas, mirip di dalam sebuah ruang sauna, sehingga siapapun yang masuk ke dalamnya, hanya dalam hitungan menit dipastikan akan mengeluarkan keringat. Gua yang sempit tersebut pada bagian atasnya dihiasi stalagtit-stalagtit yang tajam, salah satu diantaranya adalah stalagtit yang berbentuk kepala naga.

Keunikan lainnya dari Gua berketinggian 1 meter dengan panjang sekitar 15 meter dan lebar sekitar 2 meter ini pada bagian dinding dan bagian atapnya dihiasi bintik-bintik perak dengan berbagai ukuran. Terdapat pula sebuah ruangan seluas 5 meter yang konon menjadi tempat musyawarah bangsa jin.

Tidak jauh dari Gua Perak terdapat gua lainnya yang bentuknya lebih unik lagi, karena pada bagian pintu gua memiliki bentuk seperti wajah nenek-nenek yang mengenakan tudung kepala. Mulut Gua Nini lebih sempit dibandingkan mulut Gua Bulang, begitu juga dengan ukurannya. Hanya saja gua ini memiliki langit-langit atau bagian atas yang lebih tinggi.

Keanehan akan dapat dirasakan oleh pengunjung pada saat masuk ke dalamnya. Di dalam gua udara terasa lebih dingin dibandingkan suhu di luar gua. Pada bagian langit-langit juga dihiasi dengan stalagtit-stalagtit yang tajam dan sama seperti Gua Bulang, salah satu dari stalagtit yang ada di Gua Nini ada yang memiliki bentuk seperti naga.

Keanehan belum berhenti sampai di situ. Pada saat memperhatikan dinding-dinding gua lewat penerangan yang disorotkan oleh pemandu wisata, akan terlihat bintik-bintik emas dan berlian dengan berbagai ukuran yang menempel pada dinding gua. Tidak diketahui dengan pasti, apakah yang menempel tersebut benar-benar berlian dan emas murni atau masih dalam bentuk mineral yang mengandung emas. Tapi yang pasti, selama ini tidak ada satupun penduduk sekitar serta wisatawan yang berani mengambil emas, berlian maupun perak yang menempel pada dinding gua, karena konon jika ada yang berani mengambilnya, maka kakek dan nenek dari alam gaib akan menimpahkan balak.

Jembatan Gantung Lau Luhung (foto: bebybeb.com)

2. Jembatan Gantung Lau Luhung

Tidak jauh dari Danau Linting, wisatawan dapat menjumpai jembatan yang menghubungkan wilayah Tanjung Raja dengan Durian Tinggung. Jembatan yang diberi nama Jembatan Lau Luhung ini berdiri sejak tahun 1979 dengan panjang 160 meter serta ketinggian sekitar 150 – 200 meter antara papan yang menjadi alas jembatan dengan Sungai BahBuaya yang mengalir deras di bawahnya.

Jembatan yang konon merupakan jembatan gantung terpanjang di Sumatera Utara ini kondisinya sudah rusak dengan beberapa papan yang terlepas dari tempatnya sehingga terlihat berlubang di sana-sini. Karena itulah Jembatan Lau Luhung yang oleh penduduk setempat sering disebut Titi Gantung STM Hulu ini sudah tidak lagi difungsikan dan Pemprov Sumut melalui Dinas Bina Marga telah membangun jembatan baru sebagai gantinya yang letaknya bersebelahan dengan Jembatan Lau Luhung.

Meski sudah tidak lagi difungsikan, jembatan gantung ini kerap dikunjungi oleh wisatawan, karena bentuk jembatan yang klasik dan kuna menjadi objek yang menarik bagi mereka yang hobby potography atau mereka yang ingin berfoto dengan latar belakang jembatan yang unik. Selain itu, pemandangan yang tersaji dari atas jembatan sangat mempesona, kecuali bagi mereka yang takut pada ketinggian. Tidak heran jika Jembatan Gantung Lau Luhung ini sekali waktu dijadikan sebagai tempat untuk olah raga bungee jumping oleh sekelompok komunitas yang menyukai olah raga ekstrim.

3. Air Terjun Pelangi

Sempatkan waktu Anda untuk datang ke tempat wisata Air Terjun Pelangi saat berkunjung ke Danau Linting, karena hanya butuh waktu tempuh sekitar 30 menit untuk sampai di lokasi. Air terjun yang diresmikan sebagai tempat wisata oleh Dinas Pariwisata Sumut pada bulan Oktober 2012 ini memang tidak setinggi Air Terjun Sipiso Piso. Namun keindahan yang disuguhkannya bakal mampu mengendorkan urat syaraf. Begitu juga dengan kesejukan airnya.

Selain itu, untuk dapat menikmati kesegaran airnya, pengunjung tidak perlu harus bersusah payah sebagaimana saat berkunjung ke Air Terjun Sipiso Piso yang harus melakukan trekking dengan medan yang sangat berat. Di sini pengunjung hanya butuh waktu sebentar untuk berjalan dari lokasi parkir menuju ke bagian bawah air terjun. Itupun sudah disediakan tangga dari beton sehingga cukup mudah dilalui.

Air Terjun Pelangi menyajikan pesona yang eksotis karena dikelilingi oleh tebing-tebing dengan ketinggian sekitar 15 meter. Bentuk air terjunnya sendiri bertingkat-tingkat dan air yang tercurah dari atas mengalir di sela-sela bebatuan yang membentuk formasi menarik. Terdapat dua aliran air terjun utama yang memiliki ketinggian sekitar 10 meter, salah satu diantaranya mencurahkan air dengan sangat deras sedang yang satunya lagi tidak seberapa deras sehingga membentuk tirai-tirai air yang tipis. Sementara air terjun sekunder memiliki ketinggian sekitar 5 – 6 meter.

Air Terjun Pelangi (foto: ceritamedan.com)

Dinamakan Air Terjun Pelangi, karena pengunjung dapat menikmati kehadiran pelangi setiap hari di tempat ini. Syaratnya, harus datang sebelum pukul 07.00 dan cuaca sedang dalam keadaan cerah. Kehadiran pelangi yang rutin setiap hari tersebut disebabkan karena posisi air terjun yang menghadap matahari terbit. Sehingga saat matahari terbit, cahaya yang menimpah air akan dipantulkan ke tebing-tebing di sekelilingnya dan membentuk pelangi.

Air terjun yang berlokasi di Desa Tanjung Timur, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hulu ini sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas umum, seperti kamar ganti, muhsollah serta area camping ground untuk wisatawan yang ingin bermalam di sekitar lokasi air terjun. Beberapa warung yang menjual makanan dan minuman juga dapat ditemui di sekitar area  parkir.

4. Air Terjun Tanjung Raja

Air terjun ini jika ditempuh dari Danau Linting memiliki jarak yang hampir sama dengan Air Terjun Pelangi yang butuh waktu tempuh sekitar 30 menit. Berbeda dengan Air Terjun Pelangi yang sudah dilengkapi dengan fasilitas umum, karena sedang dalam tahap pemekaran, Air Terjun Tanjung Raja tidak memiliki fasilitas umum sama sekali kecuali lahan untuk parkir. Karena itu, wisatawan yang berkunjung ke sini tidak dikenakan tiket masuk, namun hanya membayar ongkos parkir.

Untuk dapat menikmati air terjun dari dekat, pengunjung cukup berjalan kaki menuruni jalan setapak sejauh 100 meter. Setelah sampai di lokasi pemandangan yang alami akan tersuguh berupa air tejun yang dikelilingi pepohonan yang hijau dan bebatuan kali dengan berbagai bentuk dan ukuran.

Jika dibandingkan dengan air terjun pada umumnya, Air Terjun Tanjung Raja ini memang terbilang pendek, hanya setinggi 5 – 6 meter. Namun formasi bebatuan yang ada di lokasi air terjun, terlihat sangat menawan dan instagenic untuk dijadikan latar belakang foto.

Harga Tiket Masuk dan Fasilitas Di Danau Linting dan Objek Wisata di Sekitarnya

Deretan Warung di Pinggir Danau Linting (foto: wonderfulllfe.blogspot.co.id)

Karena memang belum dikelola secara profesional dan lebih mengutamakan peran serta masyarakat sekitar untuk mengelola objek wisata, maka harga tiket masuk menuju ke Danau Linting pun juga tidak mahal, hanya sebesar Rp.5.000. Harga tiket masuk tersebut belum termasuk ongkos parkir sebesar Rp.3.000 untuk motor dan Rp.5.000 untuk mobil.

Apabila ingin menikmati keunikan dari Goa Emas, Goa Perak dan 8 Kolam Puteri, pengunjung harus membayar lagi sebesar Rp.7.000 perorang untuk jasa guide yang akan mengantar pengunjung menjelajah gua dan menceritakan kisah yang melatarbelakangi ditemukannya ketiga objek wisata yang berbalut misteri tersebut.

Dengan harga tiket yang relatif murah, jangan berharap fasilitas lebih saat berkunjung ke Danau Linting, karena di lokasi hanya tersedia toilet sederhana. Selebihnya adalah warung-warung yang berdiri tidak jauh dari lokasi danau, serta warga setempat yang menawarkan jasa penyewaan tikar seharga Rp.10.000 – Rp.20.000.

Fasilitas yang lebih baik justru bisa ditemui di lokasi wisata Air Terjun Pelangi yang telah menyediakan kamar mandi dan mushollah sekaligus area camping ground dan warung-warung yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman. Sedang untuk  tiket masuk dan ongkos parkir, besarnya sama dengan yang ada di Danau Linting.

Untuk tempat wisata Air Terjun Tanjung Raja, malah tidak ada fasilitas sama sekali kecuali area parkir. Hal tersebut dapat disadari mengingat tempat wisata ini terbilang baru dan hanya bertumpu pada keperdulian masyarakat setempat. Karena itulah tempat wisata ini digratiskan kecuali untuk biaya parkir dikenakan tarif sebesar Rp.5.000. (*)