10 Foto Gua Sunyaragi Cirebon, Tiket Masuk Wisata + Sejarah Misteri Mitos Taman Sari

Gua goa sunyaragi cirebon sejarah taman sari tiket masuk misteri mitos kota foto wisata deskripsi gambar dimana yang konon katanya asal usul pembangunannya dalam bahasa inggris english 2017 wikipedia adalah alamat ada arsitektur lokasi legenda tentang dibangun oleh denah dongeng fungsi fasilitas htm peninggalan kerajaan kisah keistimewaan kesimpulan keunikan makalah mistis observasi rute situs silsilah tamansari tempat video makam keramat pada zaman siapa kesenian peteng sun yaragi
Gua Sunyaragi (foto: plesirwisata.blogspot.co.id)

Lokasi:  JL. Brigjend AR Dharsono, Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat, 45132
Map: KlikDisini
HTM:  Rp.10.000
Buka/Tutup: 08.00 – 17.30 WIB

Ketika I. M. Pei menghadirkan Pyramide du Louvre yang kini menjadi landmark Paris , banyak orang yang terpukau. Begitu juga saat Cesar Pelli mendesign Menara Kembar Petronas di Malaysia dan Tom Wright merancang Burj Al Arab di Dubai , semua mata terpanah oleh keunikan dari bangunan-bangunan tersebut. Tapi, tahukah Anda bahwa pada abad ke-17 ada sebuah bangunan yang bisa dibilang kiblat dari arsitektur modern pada zamannya. Bangunan tersebut adalah Gua Sunyaragi yang ada di Cirebon, Jawa Barat.

Kompleks goa ini menyuguhkan seni arsitektur bercita rasa tinggi pada abad pertengahan, karena berhasil memadukan beberapa gaya arsitektur, yakni gaya Indonesia Klasik, Timur Tengah, Tiongkok Kuna dan gaya renaissance Eropa. Perpaduan gaya arsitektur yang harmonis tersebut berbalut dengan faham dan filosofi budaya lokal, sehingga tidak hanya sisi keindahan saja yang dapat dinikmati dari bangunan peninggalan Kerajaan Cirebon ini tapi juga pelajaran tentang kehidupan.

Gua Sunyaragi Saat Senja (foto: plesirwisata.blogspot.co.id)

Selain memiliki bentuk yang unik dan menarik, kompleks gua yang menempati area seluas 15 hektar ini juga diselimuti suasana mistis karena dahulu memang digunakan sebagai tempat bersemedi dan olah kanuragan oleh para Sultan dan prajurit Kerajaan Cirebon. Selain itu, Gua Sunyaragi juga sarat akan nilai-nilai sejarah karena dulu pernah dijadikan sebagai tempat untuk mengatur strategi perang melawan penjajah Belanda. Itu sebabnya, jika berkesempatan untuk berkunjung ke Kota Cirebon, luangkan waktu Anda untuk melihat dan menikmati keindahan serta keunikan dari Gua Sunyaragi.

Sejarah Singkat Gua Sunyaragi

Merekam sejarah dan asal usul berdirinya goa buatan yang unik ini, sebagaimana deskripsi yang tertulis di wikipedia, memiliki dua versi. Pertama bersumber dari cerita turun temurun yang disampaikan para Bangsawan Cirebon yang disebut versi Carub Kanda. Menurut Carub Kandha Gua Sunyaragi merupakan Taman Sari yang dibangun untuk menggantikan Pesanggrahan Giri Nur Sapta Rengga yang fungsinya berubah menjadi area makam raja-raja Kerajaan Cirebon yang kini disebut Astana Gunung Jati.

Gua Sunyaragi Tahun 1865-1876 – Litografi F. C. Wilsen (foto: wikipedia)

Versi kedua disebut versi Caruban Nagari karena diambil dari Buku Purwaka Caruban Nagari yang ditulis tangan oleh Pangeran Arya Carbon atau Pangeran Kararangen pada tahun 1720. Dalam buku tersebut diterangkan bahwa Gua Sunyaragi pembangunannya dilakukan pada tahun 1703 M, yaitu pada zaman pemerintahan Pangeran Kararangen yang merupakan cicit dari Sunan Gunung Jati. Karena versi kedua ini merujuk pada buku peninggalan masa lampau yang lebih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, maka para pemandu wisatapun lebih memilih versi kedua untuk dijadikan acuan.

Hingga kini belum diketahui secara pasti, seperti apa bentuk asli dari Gua Sunyaragi, karena tidak ada blue print alias gambar cetak biru yang dapat dijadikan panduan saat melakukan renovasi, sementara renovasi terhadap goa ini sudah dilakukan berulangkali. Perbaikan pertama dilakukan oleh Sultan Adiwijaya  pada tahun 1852, setelah ditahun 1787 Tamansari ini dihancurkan oleh Belanda karena dijadikan benteng pertahanan. Renovasi yang dilakukan untuk pertama kalinya tersebut dipimpin oleh arsitek China bernama Tan Sam Cay, yang akhirnya dibunuh karena membocorkan rahasia goa tersebut kepada Belanda.

Salah Satu Sudut Gua Sunyaragi (foto: kadekarini.com)

Pemugaran berikutnya yang melakukan adalah pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1937 – 1938, dimana seluruh pelaksanaannya diserahkan kepada Krisjman, seorang petugas Dinas Kebudayaan Semarang pada masa itu. Dalam pemugaran tersebut, Krisjman merubah beberapa bentuk asli gua dengan tujuan agar tidak membahayakan bangunan secara keseluruhan. Perubahan yang dilakukan tersebut memang memperkokoh kondisi bangunan, namun dilain pihak telah membuat kondisi bangunan semakin jauh dari kondisi saat pertama kali didirikan.

Sepanjang tahun 1976 – 1984, Pihak Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala juga melakukan pemugaran yang ditindaklanjuti dengan serangkaian aktivitas observasi dan pemeliharaan terhadap kompleks Sunyaragi. Pada tahun 1997 pengelolaan goa ini oleh pemerintah diserahkan kepada Pemangku Keraton Kasepuhan. Disebabkan kurangnya biaya pemeliharaan, membuat Sunyaragi untuk beberapa tahun lamanya terbengkalai sebelum akhirnya dilakukan revitalisasi oleh Pemprov Jawa Barat pada tahun 2014 yang menghabiskan anggaran sebesar Rp.2,46 milyar. Revitalisasi tersebut selain melakukan renovasi terhadap bagian-bagian tertentu dari kompleks Gua Sunyaragi juga menambah beberapa fasilitas seperti pembangunan area parkir yang luas dan memberikan sentuhan baru pada bagian depan objek wisata berupa pembangunan Panggung Budaya untuk pementasan Kesenian Cirebon.

Mengenal Sekilas Gua Sunyaragi

Gapura yang Terbuat dari Tumpukan Batu Bata Merah di Kompleks Gua Sunyaragi (foto: indotur.blogspot.co.id)

Gua Sunyaragi yang memiliki alamat di JL. Brigjend AR Dharsono, Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat, menempati lahan seluas 15 hektar dengan lokasi yang berada di pusat Kota Cirebon. Itu sebabnya rute untuk menuju ke lokasi sangat  mudah, cukup dengan naik becak selama kurang lebih 20 menit bila turun di Stasiun Prujakan dan Kejaksan atau sekitar 10 menit jika turun di Terminal Bus Cirebon.

Untuk dapat menikmati keunikan dari situs bersejarah ini, wisatawan dapat berkunjung ke lokasi pada jam 08.00 – 17.30 dengan membayar harga tiket masuk sebesar Rp.10.000. HTM tersebut belum termasuk ongkos parkir motor sebesar Rp.2.000 dan mobil Rp.5.000. Jika ingin memanfaatkan jasa pemandu wisata untuk mengetahui lebih jauh tentang kisah dan silsilah raja-raja Cirebon serta berbagai informasi terkait Gua Sunyaragi seperti fungsi dari gua-gua yang ada, legenda, mitos dan misteri seputar goa, pengunjung harus mengeluarkan uang lagi sebesar Rp.40.000 –  Rp.50.000.

Mande Beling di Kompleks Gua Sunyaragi (foto: arsitektour.wordpress.com)

Menilik sejarah keberadaan Gua Sunyaragi, fungsi dari kompleks goa ini dari zaman ke zaman selalu mengalami perubahan, sesuai dengan kehendak penguasa pada zaman tersebut. Hanya saja yang perlu digarisbawahi, tujuan didirikannya kompleks goa ini adalah untuk dijadikan Tamansari sekaligus tempat para pembesar keraton serta prajurit bertapa dan melakukan oleh kanuragan.

Hal tersebut dapat diketahui dari nama kompleks goa, yaitu “Sunyaragi” yang berasal dari dua kata: “Sunya” dan “Ragi” yang artinya “Sepi” dan “Raga”. Sehingga makna dari “Sunyaragi” adalah tempat untuk tetirah dan meditasi. Itu sebabnya hingga saat ini suasana di kompleks goa masih terkesan keramat dan mistis.

Berkunjung ke Gua Sunyaragi, selain dapat menikmati keindahan serta keunikannya, juga untuk merasakan suasana mistis yang terpancar dari 12 bagian yang ada di kompleks goa tersebut. Keduabelas bagian tersebut adalah: Bangsal Jinem, Kompleks Mande Kemasan, serta sepuluh goa, yaitu  Goa Pengawal, Pandekamasang, Simanyang, Tangse, Peteng, Arga Jumud, Padang Ati, Kelanggengan, Goa Lawa dan Goa Pawon.

Menikmati Keunikan Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi Dilihat dari Depan (foto: radarcirebon.com)

Memasuki kompleks Gua Sunyaragi, siapapun akan langsung terpana oleh desain arsitektur yang luar biasa dan sangat berkarakter, jauh melampaui jamannya. Bahkan kreasi masa kini pun belum tentu mampu menandingi keistimewaan bentuk dari bangunan ini. Tidak salah jika banyak yang mengatakan bahwa memasuki kompleks wisata ini seperti memasuki negeri dongeng karena hampir seluruh bagian goa dibangun dari tumpukan batu-batu karang. Itu sebabnya, begitu memasuki kompleks Gua Sunyaragi, siapkan kamera untuk merekam setiap sudut lokasi, baik dirupakan dalam bentuk foto maupun gambar video.

Keindahan dan keunikan dari bangunan yang ada di tempat wisata ini, karena memadukan berbagai gaya arsitektur, mulai dari gaya Hindu atau Indonesia Klasik, Islam atau Timur Tengah, Tiongkok Kuna serta gaya Eropa.

Gaya arsitektur Hindu atau Indonesia Klasik dapat ditemui pada 3 bangunan joglo, yaitu Gedung Pesanggrahan, Mande Beling dan Bale Kambang, bentuk gapura serta beberapa patung yang ada di lokasi, seperti patung gajah dan patung ular yang melilit patung manusia berkepala garuda. Seluruh ornamen bangunan yang ada di sini, meski merupakan sinkretisme budaya dari seluruh penjuru dunia namun kesemuanya mendapat pengaruhi gaya arsitektur Indonesia Klasik.

Goa Arga Jumut di Kompleks Goa Sunyaragi (foto; kompas.com/Wahyu Adityo Prodjo)

Berbagai ukiran berbentuk bunga, seperti bunga teratai, bunga matahari dan bunga persik memperlihatkan adanya pengaruh gaya Tiongkok Kuna. Bahkan konon, bagian luar kompleks gua ini dulu dihiasi dengan ornamen-ornamen keramik China yang sejak lama hilang sehingga tidak diketahui dengan pasti seperti apa coraknya. Pengaruh Tiongkok juga dapat dilihat dari adanya kuburan China yang sebenarnya bukanlah tempat untuk memakamkan seseorang, melainkan sebuah monumen yang dulu digunakan sebagai tempat berdoa oleh para pengawal dan pengiring Putri China yang diperistri Sunan Gunung Jati, yaitu Ong Tien Nio yang kemudian berganti nama menjadi Ratu rara Sumanding.

Pengaruh gaya arsitektur Islam atau Timur Tengah disebabkan karena Penguasa Keraton Cirebon adalah pemeluk dan pemuka agama Islam. Pengaruh Islam tersebut bisa dilihat dari bentuk relung-relung pada beberapa dinding bangunan, adanya pawudlon atau tempat wudhu dan simbol atau tanda kiblat pada pasalatan atau mushollah, serta sisi belakang Bangsal Jinem yang bentuknya menyerupai bangunan ka’bah.

Balai Kambang di Kompleks Gua Sunyaragi (foto: yudasmoro.net)

Pengaruh gaya arsitektur Eropa atau Belanda selain disebabkan karena kompleks bangunan ini dididirikan pada masa penjajahan Belanda juga karena pernah dipugar oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1937 – 1938. Gaya Eropa tersebut dapat ditemui pada bentuk Gedung Pesanggrahan, bentuk jendela Bangunan Kaputren serta tangga berputar pada Gua Arga Jumud.

Selain gambaran menyeluruh dari keberadaan Gua Sunyaragi sebagaimana tersebut di atas, ada beberapa tempat yang perlu mendapat perhatian khusus saat berada di lokasi, karena tempat-tempat tersebut memang memiliki sisi unik dan istimewa. Salah satu diantaranya adalah Balai Kambang yang dulu dipakai sebagai tempat pemain gamelan untuk menyambut tamu.

Bangunan berbentuk pendopo ini, dahulu mengambang di atas permukaan air dan terletak di atas kolam yang luasnya sekitar setengah luas kolam renang olimpiade. Untuk menuju ke Balai Kambang, dulu harus menggunakan sampan yang didayung. Namun kini, kolam di sekeliling Balai Kambang sudah kering, sehingga Balai Kambang harus ditopang beton dan untuk menuju ke tempat tersebut dibangun 2 buah jembatan yang juga dari beton.

Gua Jinem (foto: plesirwisata.blogspot.co.id)

Penggunaan konsep floating building pada Balai Kambang yang membuat sebuah bangunan dapat mengambang di atas permukaan air merupakan teknologi arsitektur yang luar biasa karena dibuat pada abad ke-17. Karena itu, para arsitek Jepang yang mengusung konsep Green Float Project untuk membuat bangunan mengambang pada masa depan, rasanya perlu belajar banyak dari arsitektur Gua Sunyaragi.

Wisatawan yang ingin melihat tempat bertapa para Sultan, dapat menuju ke Gua Peteng. Selain sempit, bagian atas goa ini agak rendah, sehingga memaksa mereka yang memasukinya harus berjalan dengan membungkuk. Filosofi dari berjalan membungkuk ini adalah penghormatan terhadap leluhur. Katanya, Sultan-Sultan Cirebon pada masa lalu, pada saat bertapa, dapat melepaskan jiwa dan bepergian ke tempat lain, sementara raga mereka masih tertinggal di dalam Goa.

Tepat di depan Gua Peteng terdapat sebuah kolam dan patung berbentuk batu panjang yang bernama “Perawan Sunti”. Konon, perempuan yang menyentuh patung tersebut, akan dijauhkan dari jodoh. Terlepas benar atau tidaknya mitos tersebut, patung “Perawan Sunti” yang ada di lokasi, sebenarnya hanya replika, karena patung yang asli saat ini tersimpan di salah satu museum yang ada di Belanda.

Bangunan menarik lainnya adalah Bangsal Jinem yang bentuk bagian belakangnya menyerupai Ka’bah. Bangunan paling megah di kompleks Sunyaragi ini dahulu berfungsi sebagai tempat peristirahatan Sultan. Di tempat ini pula dahulu Sultan mengawasi prajurit-prajuritnya saat sedang latihan perang. (*)