10 Foto Curug Sawer Sukabumi, Alamat Wisata Air Terjun Rute Lokasi + Asal Usul Sejarah

Curug sawer sukabumi majalengka cililin bogor parakansalak tasikmalaya jawa barat bandung cisaat wisata cikareo pandeglang cidahu cianjur argalingga anyer argapura angker air terjun alamat jatiwaras banten ciomas ciapus suka bumi selatan kabupaten dimana day foto fajar garut gunung salak pulosari gede pangrango malang situ gambar hantu info kuningan kecamatan subang jalan 45462 kadudampit karangnunggal karembong korban kisah lokasi legenda mandalamekar mandalawangi maja rute outbond padarincang pangandaran purwasari indonesia west java serang longsor 43153 top tasik you tube menuju tragedi tempat tentang video villa sejarah asal usul
Curug Sawer (foto: sukabumitoday.com)

Lokasi:  Kampung Cijagung, Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, 43153
Map: KlikDisini
HTM:  Rp.15.000
Buka/Tutup: 07.00 – 18.00 WIB
Telepon: 0895 1643 4633

Banyaknya tempat wisata air terjun di daerah Jawa Barat dan Banten, bukanlah sesuatu yang aneh, karena sebagian besar wilayah di kedua provinsi ini memang berada di dataran tinggi, lebih khusus lagi di daerah perbukitan dan pegunungan. Keanehan baru dirasakan jika membaca daftar tempat-tempat wisata air terjun yang dimiliki kedua provinsi tersebut, karena ternyata banyak air terjun yang menggunakan nama “Curug Sawer” atau Air Terjun Sawer.

Beberapa waterfall yang menggunakan nama “Sawer” tersebut adalah: Curug Sawer yang ada di Cililin Bandung Barat, di Kampung Cibereum Desa Mandalamekar Kecamatan Jatiwaras Tasikmalaya, di Desa Argalingga Kecamatan Argapura Majalengka, di Gunung Malang Kecamatan Tenjolaya Ciapus Bogor, di Desa Pajambon Kecamatan Kramatmulya Kabupaten Kuningan, di Kampung Panaruban Desa Segalaherang Kecamatan Cicadas Subang, di Desa Cikululu, Kecamatan Karangnunggal Tasik malaya, di Desa Nembol Mandalawangi Kecamatan Cigeulis Kabupaten Pandeglang serta di Ciomas Serang Banten.

Menikmati Segarnya Air Curug Sawer (foto: ceritakaliskukis.wordpress.com)

Entah mengapa sekian banyak air terjun tersebut memiliki nama yang sama, yaitu “Curug Sawer”. Apakah ada kaitannya dengan kesenian Tari Jaipong yang identik dengan saweran, atau karena alasan yang lain. Tapi yang pasti kesemua air terjun yang ada di kedua provinsi ini menyuguhkan panorama yang menawan dengan air yang segar dan dingin hingga menusuk tulang.

Salah satu curug yang akan kita jelajahi dan dinikmati keindahannya tersebut adalah Curug Sawer yang ada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Tempat wisata yang satu ini menarik untuk dikunjungi karena lokasinya berada di salah satu kawasan Taman Nasional tertua di Indonesia, sehingga banyak hal yang bisa dinikmati wisatawan disamping keindahan dari Curug itu sendiri.

Mengenal Curug Sawer dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Gerbang Taman Nasional Gede Pangrango (foto: fatahilaharis.wordpress.com)

Karena lokasi Curug Sawer berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), rasanya masih belum lengkap jika membicarakan destinasi wisata yang satu ini tanpa menyinggung keberadaan  Taman Nasional yang berada di wilayah West Java ini. Kawasan Gunung Gede Pangrango yang merupakan area pendakian menuju Gunung Gede dan Gunung Pangrango, ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional oleh pemerintah sejak tahun 1980 dan merupakan salah satu Taman Nasional tertua di Indonesia.

Dengan area seluas 21.975 hektar, TNGGP terbentang di 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Cianjur, Bogor dan Suka bumi, dimana keanekaragaman hayati memenuhi kawasannya. Tercatat lebih dari 870 spesies tumbuhan berbunga 200 diantaranya dari jenis Anggrek, 150 jenis Paku-pakuan dan 68 jenis tumbuhan pegunungan yang langka hidup di kawasan hutan ini. Sedang jenis fauna yang menghuni TNGPP terdiri atas 250 lebih spesies burung dan 100 lebih jenis mamalia yang sebagian diantaranya masuk kategori binatang langka, seperti Lutung Surili, Owa Jawa, Macan Tutul, Elang Jawa, dan masih banyak lagi binatang langka yang lain.

Selain kaya akan berbagai jenis flora dan fauna, TNGGP juga dihiasi dengan sejumlah kawasan yang memiliki pemandangan yang menawan sehingga dijadikan sebagai objek pariwisata. Beberapa objek wisata tersebut antara lain: Telaga Biru, Curug Cibeureum, Mata Air Panas, Kandang Badak dan Kandang Batu, Puncak dan Kawah Gunung Gede, Alun-alun Suryakencana, Curug Ciwalen, Danau Situgunung dengan wisma dan pelatarannya, Loop Trail Curug Cimanaracun dan yang saat ini paling banyak dikunjungi wisatawan adalah Curug Sawer.

Jalur menuju Curug Sawer (sudut pandang dari gerbang TNGP) (foto: andinianisa.com)

Karena lokasi dari waterfall berada di kawasan hutan, maka curug yang berada di atas ketinggian 900 – 1.300 meter dpl ini berada dibawa pengelolaan Perhutani, tepatnya ditangani RPH Argalingga, BKPH Maja, KPH Majalengka. Curug Sawer ini dulu sebelum dijadikan objek wisata dikenal sebagai kawasan yang angker karena kerap dijadikan sebagai tempat ritual mistis serta banyak beredar kisah tentang hantu-hantu di kawasan air terjun. Itu sebabnya warga setempat jarang yang mau melakukan aktifitas di sekitar curug jika tidak dalam keadaan terpaksa.

Nama Curug Sawer, menurut legenda yang dituturkan warga setempat bermula dari seseorang yang sakti dan tinggal di kaki Gunung Ciremai. Orang sakti tersebut konon kerapkali mengadakan Upacara Saweran di Sungai Cipada dengan maksud untuk mencari berkah bagi diri dan keturunannya. Dia bertapa selama bertahun-tahun di area sekitar air terjun hingga akhirnya wafat. Karena sakti, jasad pertapa itu tidak hancur tapi menjelma menjadi ular raksasa yang tidak terlihat oleh mata. Karena kebiasaan pertapa sakti yang menggelar Upacara Saweran itulah, maka air terjun yang dia jadikan sebagai tempat bertapa dinamakan Curug Sawer.

Jalan Setapak Menuju Curug Sawer (foto: detik-travel.blogspot.co.id)

Cerita tentang asal usul nama Curug Sawer tersebut berbeda dengan yang dituturkan petugas TNGGP. Kata “Sawer” menurut petugas tersebut muncul karena curahan air terjun yang sangat deras sehingga cipratan dari airnya tersebar kemana-mana, bahkan jauhnya bisa mencapai 100 meter. Cipratan air yang tersebar dan menyawer hampir semua pengunjung yang ada di lokasi itulah yang membuat air terjun ini dinamakan “Curug Sawer”.

Rute Menuju Curug Sawer

Meski  lokasi tempat wisata ini berada di tengah hutan, namun bagi masyarakat Jawa Barat, terlebih yang tinggal di Kabupaten Sukabumi, nama Curug Sawer sudah tidak asing lagi. Itu sebabnya bagi wisatawan yang datang dari luar kota tidak perlu khawatir akan tersesat, meski baru pertama kali berkunjung ke waterfall ini.

Pos Retribusi Curug Sawer (foto: tanpakendali.com)

Secara adminitratif alamat Curug Sawer berada di Kampung Cijagung, Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, 43153. Jarak dari pusat Kota Sukabumi sekitar 15 km, sehingga untuk wisatawan yang datang dari kawasan Cidahu, Cicurug, Bogor serta Jakarta, tinggal menuju ke Sukabumi dan di sana nanti akan menemukan sebuah papan besar bertuliskan Situ Gunung. Ikuti papan petunjuk arah tersebut hingga melewati daerah  Kadudampit. Di tengah perjalanan itulah, Anda akan menjumpai Taman I Love You, tepatnya saat masuk ke Kampung Cikareo, Desa Parakansalak.

Sebelum masuk ke kawasan Situ Gunung, Anda akan menjumpai rambu petunjuk arah menuju Kawasan Wisata Cinumpang yang berada di sisi kanan jalan. Itulah jalur pertama yang dapat dilalui untuk menuju ke lokasi. Jalur ini cukup mudah dilalui, baik dengan berjalan kaki selama kurang lebih 1 jam atau dengan memanfaatkan jasa ojek. Ada lagi jalur lainnya yang lebih sulit, yaitu dengan menempuh rute yang melingkar di kawasan hutan Situ Gunung.

Pintu Masuk Curug Sawer (foto: jelajahsukabumi.wordpress.com)

Untuk wisatawan yang menggunakan transportasi umum, sesampai di Sukabumi dapat naik angkot berwarna hijau muda Lyn 08 yang menuju Cisaat. Sesampai alun-alun Cisaat, Anda harus turun dan menyeberang jalan menuju pangkalan angkot dan menunggu angkot jurusan Kadudampit. Pangkalan angkot tersebut lokasinya berada di dekat Polsek Cisaat. Setelah naik angkot jurusan Cisaat, minta kepada sopir agar diturunkan dekat pintu masuk Situ Gunung. Di pintu masuk tersebut Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menumpang ojek dengan ongkos sesuai kesepakatan. Biasanya tukang ojek akan meminta Rp.25.000 untuk sekali jalan atau Rp.50.000 PP.

Jalur yang dilewati tukang ojek tersebut biasanya melewati Cinumpang karena medannya memang lebih bersahabat. Rute Cinumpang ini cukup menarik karena melewati jembatan sempit untuk menyeberangi bendungan serta melintasi jalan setapak yang di sampingnya terdapat jurang yang membentang. Karena itu, sebaiknya tidak mencoba berkendara sendiri melewati jalan ini jika belum familier dengan medan atau jika musim hujan. Selain itu banyak tikungan yang di depannya tertutup dinding tanah, sehingga memaksa tukang ojek harus berulangkali membunyikan klakson.

Curug Sawer Dilihat dari Kejauhan (foto: jelajahsukabumi.wordpress.com)

Setelah melewati medan yang sedikit ekstrim, Anda akan sampai di area datar yang terdapat pondokan atau warung. Selanjutnya tinggal ke loket untuk membeli tiket masuk dan berjalan kaki menuju lokasi wisata yang jaraknya sekitar 100 meter.

Menikmati Keindahan Curug Sawer

Keindahan dari tempat wisata ini sebenarnya sudah dapat dirasakan oleh pengunjung saat menempuh perjalanan dari pintu gerbang TNGPP, karena di kanan kiri jalan yang dilewati terhampar pemandangan yang menyejukkan mata. Semakin dekat dengan lokasi, keindahan tersebut semakin terasa, karena sebelum bertemu dengan waterfall, pengunjung akan disapa oleh aliran sungai yang airnya berasal dari Curug Sawer. Di sepanjang aliran sungai yang berhias batu-batu kali itulah terkadang dapat dijumpai orang-orang yang sedang memancing ikan.

Puncak dari keindahan yang disuguhkan tentu saja saat tiba di lokasi. Pemandangan air terjun setinggi kurang lebih 35 meter bakal memukau siapapun yang memandangnya. Air terjun tersebut diapit oleh tebing yang menjulang tinggi berhias tanaman merambat dan pohon-pohon pinus, palem, bambu dan beberapa jenis pohon lainnya. Tepat di bawah curahan air, terdapat kolam alami yang cukup luas dengan kedalaman lebih dari 10 meter.

Indahnya Sungai di Curug Sawer (foto: panjirelawan.deviantart.com)

Besarnya curahan air yang dimiliki Curug Sawer ini karena sumbernya di suplai dari mata air yang ada di Gunung Gede dan Gunung Gemuruh. Itu sebabnya saat musim kemaraupun, debit air seolah tidak berkurang. Karena curahan air yang sangat deras ditambah cekungan atau kolam alami yang sangat dalam, membuat pengunjung dilarang mandi dan berenang tepat di bawah curahan air terjun. Jika ingin menikmati segarnya air curug, bisa menuju ke bagian yang agak jauh dari curahan air atau di sungai yang airnya sangat jernih.

Hal tersebut untuk mengantisipasi agar tragedi pada 26 Oktober 2014 tidak sampai terulang. Kejadian yang memakan 3 orang korban, salah satu diantaranya meninggal dunia disebabkan karena ketiga korban tersebut bermain di jalan kecil yang ada di balik waterfall. Akibatnya, salah satu diantara mereka terpeleset dan jatuh tepat di bawah curahan air. Kedua orang temannya yang berusaha menyelematkan, justru ikut menjadi korban.

Terlepas dari kisah memilukan tersebut, keindahan Curug Sawer tidak hanya sekedar menarik untuk dilihat dan dinikmati, tapi juga diabadikan dengan kamera, baik dirupakan dalam bentuk foto maupun video. Tidak heran jika gambar dari objek wisata yang ada di kawasan TNGGP ini banyak ditemui di berbagai media sosial utamanya di you tube.

Harga Tiket Masuk dan Fasilitas di Curug Sawer

Pada tahun pertama ditetapkannya air terrjun ini sebagai objek wisata, harga tiket masuk hanya sebesar Rp.3.000. Namun kini harga tiket tersebut naik lima kali lipat menjadi Rp.15.000 perorang. Untuk wisatawan yang datang dengan membawa mobil, ongkos parkirnya masih tetap sama, yaitu Rp.5.000, sedang ongkos parkir motor bagi yang tidak berani mengambil risiko menembus kawasan hutan dengan kendaraannya sebesar Rp.2.000.

Tanakita Camp Site di Dekat Curug Sawer (foto: TripAdvisor)

Perjalanan dari pintu masuk TNGGP menuju lokasi dengan menggunakan ojek, tergantung dari kepandaian menawar. Biasanya tukang ojek akan mematok harga sebesar Rp.25.000 untuk sekali jalan atau Rp.50.000 untuk PP. Selain ketiga pos anggaran tersebut, tidak ada lagi pengeluaran yang lain, kecuali Anda ingin menikmati makanan, minuman dan jajanan. Bagi yang menuju lokasi dengan berjalan kaki, meskipun di kawasan hutan, di sepanjang perjalanan dapat ditemui beberapa warung sederhana yang juga menjual makanan sederhana.

Begitu juga di lokasi wisata, terdapat beberapa warung yang siap melayani pengunjung yang datang dengan jajanan gorengan serta makanan dan minuman khas Sunda. Malahan jika Anda ingin duduk santai bersama rombongan atau keluarga, ditempat ini ada yang menyewakan tikar.

Khusus untuk fasilitas yang disediakan pihak pengelola, diantaranya adalah kamar ganti, toilet umum, mushollah serta area parkir bagi yang datang dengan membawa motor. Terdapat pula Information Centre untuk yang membutuhkan info seputar Curug Sawer dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sedang untuk yang ingin mengihabiskan malam di sekitar lokasi wisata, terpaksa harus menuju ke kawasan perkampungan untuk mencari rumah-rumah penduduk yang dijadikan homestay atau menyewa villa yang lokasinya di sepanjang jalan menuju ke pintu gerbang TNGGP.

Bermalam di kawasan wisata, hanya dapat dilakukan dengan mendirikan tenda. Itupun harus meminta ijin terlebih dahulu kepada petugas dengan membayar Rp.5.000 perorang permalam. Jika tidak membawa peralatan camping, pengunjung dapat menyewa kepada petugas dengan harga sesuai dengan peralatan yang dibutuhkan atau yang disewa. Terdapat beberapa camping ground dan area outbond di kawasan TNGGP, diantaranya adalah Bumi Perkemahan Situgunung dan Sinumpang yang dilewati pada saat menuju Curug Sawer, Kaliandra Camping Ground, dan yang paling dekat dengan lokasi air terjun adalah Tanaka Camp Site. Area perkemahan yang ada di dekat air terjun ini terbilang istimewah karena luasnya sekitar 5 hektar yang terbagi atas beberapa blok dan di setiap blok tersedia kamar mandi dengan air yang bersih. (*)