by

15 Syawal Warga Gresik Peringati Haul Siti Fatimah Binti Maimun

-berita-62 views

Bagi sebagian besar masyarakat muslim di Pulau Jawa, terutama yang menetap di sekitar wilayah Gresik, Jawa Timur, mungkin sudah tidak asing dengan nama Siti Fatimah binti Maimun. Nama ini tertulis di sebuah nisan di dusun Leran, Desa Pesucian, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.

Tidak sulit menemukan dusun Leran. Dusun tersebut berada tidak jauh dari gerbang Tol Manyar yang menghubungkan Gresik dengan Surabaya dan Sidoarjo.

Makam Siti Fatimah terletak di dalam sebuah cungkup persegi dengan luas sekitar 4×6 M dan tinggi 16 M. Cungkup makam Siti Fatimah Binti Maimun menyerupai sebuah candi pada masa Hindu-Budha.

Selain makam Siti Fatimah Binti Maimun, di dalam cungkup tersebut juga terdapat makam 4 orang lainnya, yakni Putri Seruni, Putri Keling, Putri Kucing, dan Putri Kamboja. Mereka adalah dayang dari Siti Fatimah binti Maimun. Sedangkan di luar cungkup, terdapat beberapa makam kerabat Siti Fatimah yang konon turut mengantar Siti Fatimah menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Dikisahkan Ainur Rofi’ah, juru kunci makam, Siti Fatimah datang ke tanah Jawa atas perintah Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk menyebarkan Islam. Menurutnya, bukan Siti Fatimah yang datang terlebih dulu ke Jawa, melainkan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Syekh Maulana Malik menginjakkan kaki di tanah Jawa sekitar tahun 1079-1080, sedangkan Siti Fatimah menyusul kemudian pada tahun 1081. Saat datang ke tanah Jawa, Siti Fatimah Binti Maimun masih berusia 17 tahun.

“Kedatangan Siti Fatimah sendiri dimaksudkan untuk menyebarkan agama Islam lewat jalur perkawinan. Kala itu, Syekh Maulana Malik Ibrahim berniat mengawinkan Siti Fatimah dengan seorang raja Budha. Karena pada awalnya Syekh Maulana Malik mengalami kesulitan untuk menyebarkan Islam di tengah masyarakat yang masih kuat dipengaruhi Hindu-Budha,” jelas Ainur.

Siti Fatimah datang ke Jawa tidak sendiri. Ia ditemani ayah, ibu, beserta rombongan yang terdiri dari kerabat dan pengikut Maimun atau Sultan Mahmud Syah Alam.

Namun, sebelum misi tersebut terlaksana, Siti Fatimah terlebih dulu wafat akibat wabah penyakit yang menyerang daerah Leran dan sekitarnya kala itu. Siti Fatimah wafat pada 7 Rajab 475 Hijriyah (2 Desember 1082 M) atau saat masih beusia 18 tahun, beserta 4 dayang lainnya.

Dikatakan Ibu Ainur, tanggal 15 Syawal atau 15 hari setelah hari raya Idul Fitri ditetapkan sebagai haul Siti Fatimah Binti maimun. Tanggal itu diambil dari ditemukannya makam tersebut. Makam Siti Fatimah binti Maimun baru ditemukan 4 abad setelah tahun wafatnya.

Juru kunci makam Siti Maimun sendiri dijabat secara turun-temurun. Ainur telah tinggal di kawasan tersebut sejak 40 tahun silam.

Kondisi makam Siti Fatimah masih cukup terawat. Selain kebersihan area makam yang terjaga, keaslian bangunan makam juga benar-benar diperhatikan.

Kita bisa meneladani perjuangan para pendahulu yang menyebarkan Islam di tanah Jawa, tak terkecuali dari sosok Siti Fatimah. Keikhlasan Siti Fatimah inti Maimun merelakan dirinya untuk dinikahkan dengan raja Budha demi tersebarnya agama Islam sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa kala itu. (rur)

Comment

News Feed