by

Melihat Kembali Festival di Desa Pelem

Pacitan – Gelaran Pelem Festival telah ditutup tanggal 30 September 2018 yang lalu. Akan tetapi gemanya masih dirasakan oleh masyarakat desa Pelem dan sekitarnya, juga para seniman maupun penyelenggaranya.
Dikutip dari situs pacitanku, Festival yang telah berlangsung sejak 17-30 September ini diikuti oleh 35 seniman baik nasional (Jakarta, Bandung, Indramayu, Salatiga, Temanggung, Yogyakarta, Pacitan, Batu, Malang, Sumenep, Banyuwangi, Bali) dan internasional (Australia, Polandia, Jepang, Taiwan, China, Jerman, Hongkong, Malaysia).
Diantara mereka bahkan ada yang membawa grupnya yang berjumlah 4 hingga 10 orang. Mereka mengikuti seluruh rangkaian acara festival baik dalam minggu workshop (workshop week = 17-21 September 2018) maupun minggu pertunjukan (performance week = 23-30 September 2018).
Para seniman ini tinggal bersama masyarakat desa Pelem selama penyelenggaraan festival. Mereka datang untuk belajar dan mencoba melebur dengan local wisdom masyarakat setempat. Hal ini sesuai dengan visi festival yaitu sebuah festival yang diselenggarakan dengan menggerakkan masyarakat dan mengoptimalkan potensi masyarakat, dengan dilandasi semangat: Dari, Oleh, dan Untuk masyarakat Pelem-Pacitan-Indonesia.
Upacara pembukaan Pelem Festival didahului dengan arak-arakan yang diikuti oleh siswa-siswi Pradapa Loka Bhakti dengan karya “Monggang Ngeklek Ngreksa Desa”, Paguyuban Rontek Raing Bambu Desa Pelem, dan Paguyuban Reog Desa Mendolo Lor Kec. Punung.
Di belakang ketiga grup kesenian ini, masyarakat desa Pelem dan sekitarnya yang berjumlah lebih dari 1000 orang ikut berjalan dari Balai Desa Pelem hingga ke Sampang Agung Center for Performing Art.
Wakil Bupati Pacitan yang berkesempatan membuka Performance week pada tanggal 22 September yang lalu menyampaikan bahwa Pelem Festival adalah sebuah acara yang akan membawa nama Pacitan ke tingkat Internasional.
“Bahwa potensi Pacitan tidak hanya dari segi keindahan alamnya saja. Akan tetapi budayanya, keseniannya yang bertaraf Internasional, melalui Pelem Festival, Pelem Berdaya, Pacitan Sejahtera,”kata dia.
Minggu pertunjukan Pelem Festival diawali dengan pentas mapping sore, para seniman nasional dan Internasional mencoba mengasah kepekaan artistik mereka terhadap 3 situs pertunjukan (pasar Palimo, alam Sampang, dan rumah limasan), melalui pertunjukan site spesifik.
Ada hal yang menarik dalam pentas tersebut, yaitu antusiasme masyarakat desa Pelem dari berbagai usia. Tidak hanya ingin menyaksikan pertunjukan, akan tetapi juga keinginan untuk ikut terlibat dalam pertunjukan site spesifik dari para seniman yang membuka kesempatan keterlibatan masyarakat. Meskipun mereka tidak mengerti dengan pertunjukan tersebut, akan tetapi mereka sangat menikmatinya.
Paket acara selanjutnya adalah pentas malam yang dibagi menjadi 2, yaitu pentas malam 1 dan pentas malam 2. Pentas malam 1 dilaksanakan selama 2 malam, dan diikuti oleh seniman2 lokal dan nasional. Sedangkan pentas malam 2, dilaksanakan juga dalam dua malam dan diikuti oleh seniman2 nasional dan internasional.
Minggu pertunjukan ditutup dengan paket acara Pentas Bulan Ndadari. Penampilnya adalah siswa-siswi LKP Pradapa Loka Bhakti dengan karya “Eklek”, “Jaran Kore”, “Surup”, “Sembako”, “Songkrek”, “Amulat Wani,”, “Monggang Ngeklek Ngrekso Deso”, “Mubeng Beteng”; danPaguyuban Seni Suryo Kencono Keraton Yogyakarta dengan karya “Serimpi Pandelori”, “Kelono Topeng”.
Pelem Festival secara resmi ditutup oleh Kepala Desa Pelem dan kemudian disambut oleh letusan kembang api yang menerangi langit Pelem. (pac)

Comment

News Feed